“Saya Seira dan ini tim saya.” Ucap Buk Seira sambil melepas tangan Arsel.
“Baiklah, Kalau begitu ayo kita ke ruangan Pak Lutfi saja.” Tambah Buk Seira.
“Oh iya, ayuk Buk.” Jawab Pak Lutfi sambil menunjukkan jalan menuju ruangannya.
Buk seira dan Pak Lutfi beserta anggota yang lain pergi meninggalkan Arsel menuju ruangan Pak Lutfi. Arsel masih terdiam dan hanya melihat manager wanita itu pergi begitu saja.
“Ahhh, bisa-bisanya dia mengatakan itu.” Ucap Arsel.
Arsel teringat apa yang barusan di katakan oleh Buk Seira.
“Ganteng, resletingnya terbuka, mau aku bantu.” Ucap Buk Seira menatap Arsel sambil tersenyum menggoda.
“Wah, kenapa matanya malah fokus ke arah lain.” Ucap Arsel sambil memperbaiki resleting celananya yang terbuka.
“Kenapa harus dia yang melihat, aduhhh malu sekali.” Tambah Arsel.
Wanita muda tersebut adalah Buk Seira manager umum di tempat Arsel bekerja, ternyata Buk Seira melihat resleting celana Arsel yang terbuka dan membisikkannya kepada Arsel.
“Sebaiknya aku lanjut bekerja saja, biar bisa cepat kembali ke kantor.” Ucap Arsel.
Di tempat lain, nampak Buk Seira dan Pak Lutfi sedang berbincang. Pak Lutfi yang juga gugup bertemu dengan Buk Seira sangat menjaga perkataannya, ia takut penilaian yang sedang dilakukan oleh Buk Seira bisa berdampak pada pekerjaannya.
“Siapa anak baru tadi Pak, namanya?.” Tanya Buk Seira.
“Oh, itu Arsel Buk.” Jawab Pak Lutfi.
“Arsel yaa .. .” Ucap Buk Seira.
“Hmmm, Boleh juga.” Tambah Buk Seira.
“Hahaha ... Ibuk ini bisa saja.” Ucap Pak Lutfi sambil tertawa.
“Haha ... Kan tidak apa-apa, Pak.” Jawab Buk Seira.
“Kalau begitu saya lanjut melihat-lihat ke tempat lain ya, Pak.” Buk Seira pamit kepada Pak Lutfi untuk melihat ke daerah lain.
“Wah, cepat sekali.”
“Baiklah, ayuk saya antar Buk.” Jawab Pak Lutfi.
“Terima kasih, Pak. tapi sebaiknya tidak usah biar saya dengan tim saya saja.” Kata Buk Seira.
Buk Seira dengan timnya pun melanjutkan melihat-lihat ke tempat lain untuk memantau kinerja karyawan dan melihat situasi di lapangan. Tiba-tiba saja ponsel Buk Seira berbunyi, Buk Seira menyuruh timnya untuk pergi terlebih dahulu.
“Kalian silakan lanjut saja terlebih dahulu, nanti saya akan nyusul.”
“Sepertinya ada panggilan yang mendesak yang harus saya jawab.” Ucap Buk Seira.
“Iyah, baik Buk.” Jawab tim.
Buk Seira berjalan ke arah lain untuk menjawab ponselnya.
“Mengapa menelpon di saat begini, sih.” Ucap Buk Seira.
“Halo ... .”
“Kamu dimana, sayang?.”
“Aku lagi di dekat kantor kamu, bisa kita makan siang bersama hari ini.” Ucap seseorang dalam panggilan tersebut.
“Aku tidak yakin bisa, karena aku sedang berada di lapangan saat ini.” Jawab Buk Seira.
Ternyata yang menelpon adalah pacar Buk Seira yang ingin mengajak makan siang bersama, Buk Seira yang sedang bekerja merasa sedikit terganggu pasalnya masih jauh waktu untuk makan siang tetapi ia sudah memaksa untuk bertemu.
“Sayang, saat ini aku sedang bekerja, bagaimana kalau nanti aku kabari kembali.” Tambah Buk Seira.
“Benarkah? Apa saat ini aku sedang mengganggumu.” Tanya pacar Buk Seira.
Buk Seira yang sedang sibuk dan tidak ingin ribut, melihat ke arah lain dan tidak begitu mendengarkan. Arsel yang sedang berjalan menuju ruangan Pak Lutfi melihat ke arah Buk Seira dan menegurnya.
“Buk ... .” Ucap Arsel.
“Siapa lelaki itu?.” Tanya Pacar Buk Seira yang mendengar suara Arsel.
“Sudah dulu, ya nanti aku kabari kembali.” Jawab Buk Seira sambil mematikan telponnya.
“Hai, Kamu mau kemana?.” Tanya Buk Seira sambil melihat ke arah resleting Arsel.
“Wahh, apa yang sedang Ibu lihat?.” Ucap Arsel sambil mengarahkan tangannya ke arah celana untuk menutupinya.
“Tidak ada. Silakan lanjutkan pekerjaan kamu.” Jawab Buk Seira sambil pergi meninggalkan Arsel.
“Akhirnya aku punya alasan untuk mematikan panggilannya.” Gumam Buk Seira.
“Benar-benar wanita satu ini, membuatku tidak tenang saja.” Ucap Arsel sambil berjalan menuju ruangan Pak Lutfi.
Tokk .. tokkk...
Permisi Pak
Arsel membuka pintu ruangan Pak Lutfi dan masuk ke dalam.
“Masuk.” Jawab Pak Lutfi.
“Bapak memanggil saya?.” Tanya Arsel.
“Iyah, kemari Arsel.” Pak Lutfi menyuruhnya untuk mendekat.
“Kamu lihat laporan ini. Bisa kamu bantu saya untuk segera mengecek ke lapangan sebelum buk Seira dan tim menuju kesana.” Ucap Pak Lutfi.
Arsel tidak langsung menjawab, ia mengambil laporannya dan melihat apa yang menjadi kendala sampai-sampa harus di cek ulang ke lapangan.
“Sepertinya tidak ada masalah, Pak.” Jawab Arsel sabil membolak-balik laporan yang diberikan oleh Pak Lutfi.
“Itu dia yang membuat saya semakin curiga, kenapa laporannya bisa semulus itu. Pasti ada permainan yang terjadi di lapangan.”
“Buk Seira bukan orang yang bisa di gampangin, kelihatannya saja dia seperti itu, Sel. Padahal di lapangan habis semua dibongkar oleh dia.” Tambah Pak Lutfi.
“Jadi sebelum dia melihat hal-hal seperti ini, sebaiknya kamu langsung ke lapangan dan kroscek kembali apakah benar-benar sudah sesuai apa tidak.”
“Baik, Pak. Saya berangkat sekarang.” Jawab Arsel yang langsung pergi menuju lokasi sebelum Buk Seira dan tim memantau.
Arsel sedang terburu-buru menuju lapangan, ia sedikit berlari agar sampai terlebih dahulu daripada Buk Seira tiba-tiba saja ponselnya mendapat satu pesan.
Drrrtt ..drttt..
Arsel mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
“Haa, Cathrine.” Ucap Arsel.
“Arsel kamu baik-baik saja?” Tanya Cathrine.
“Aduhhh, Cathrine maaf aku belum bisa membalas pesanmu, saat ini aku sedang ada urusan yang sangat mendesak.” Ucap Arsel sambil memasukkan kembali ponselnya.
Arsel tidak sempat membalas pesan Cathrine, ia hanya membacanya saja dan kembali fokus untuk hal yang lebih mendesak. Ponsel Arsel bergetar kembali.
Drrrrtt ... drtttt ...
Drrtttt .... drttt ... drtttt
“Wah siapa lagi kali ini.” Ucap Arsel sambil mengeluarkan ponsel yang berada di saku celananya.
“Pak Ammar.” Ucap Arsel.
“Halo, Pak.” Jawab Arsel.
“Arsel kamu masih di lapangan?.” Tanya Pak Ammar.
“Iyah, Pak.” Jawab Arsel singkat.
“Kamu sudah menyelesaikan pekerjaan disana? Jam berapa kamu bisa balik?.” Tanya Pak Ammar.
“Pekerjaan saya sudah siap Pak, tapi ada suatu hal yang urgent dan harus saya urus dahulu, terlebih saat ini Buk Seira sedang berada disini.” Jawab Arsel.
“Hmmm, seperti itu ya.” Jawab Pak Ammar.
“Iyah, Pak. kemungkinan saya balik dari rumah juga dari sini tidak bisa ke kantor lagi.” Jawab Arsel.
“Baiklah, kalau begitu biar saya saja yang menyusul kamu kesana ya.” Ucap Pak Ammar sambil mematikan ponselnya.
“Ya bagaimana baiknya sa ... .” Arsel menatap ponselnya.
“Belum siap berbicara sudah di matikan.” Arsel kembali berjalan menuju lapangan.
“Sebaiknya aku harus cepat.” Ucap Arsel.
“Ha, tapi kenapa aku juga yang harus mengurus ini, kan bukan aku yang bertanggung jawab atas lokasi ini.” Tambah Arsel.
“Kemana orang yang mengerjakan lokasi ini, kenapa dia sangat tidak bertanggung jawab.”
“Bisa-bisa nanti aku yang kenak masalah.” Ucap Arsel.
Arsel mulai berpikir dan mempertanyakan kenapa ia begitu buru-buru untuk menyelesaikan masalah ini. Sedangkan setiap orang sudah memiliki porsinya masing-masing di setiap pekerjaan.
“Sepertinya ada yang tidak beres.” Gumam Arsel.
Saat berada di lokasi nampak Buk Seira dan tim sudah berada di lokasi, Buk Seira melihat Arsel yang berlari dan terengah-engah menghampirinya.
“Kenapa kamu terengah-engah seperti ini?.” Tanya Buk Seira.
“Iyah, saya tadi abis lari Buk.” Jawab Arsel sambil mengatur nafasnya.
“Kamu sedang ikut kejuaraan marathon?.” Tanya Buk Seira lagi.
Tim yang melihat dan mendengar Buk Seira berbicara seperti itu langsung tertawa, mereka melihat Arsel sedang mandi keringat.
“Haa ... .” Arsel ngelag.
“Tidak, Buk.” Tambah Arsel.
“Apa yang sedang kamu lakukan disini?.”
“Tidak ada, Buk.” Jawab Arsel yang masih terasa capek abis berlari.
“Saya tidak mengerti apa yag sedang kamu bicarakan, sebaiknya kamu melanjutkan pekerjaa kamu dan tidak menggangu saya disini.” Ucap Buk Seira.
“Tapi, Buk ... .” Jawab Arsel.
Buk Seira melanjutkan pemantauan dan menghiraukan Arsel yang sedang berusaha menahannya agar tidak diperiksa terlebih dahulu. Buk Seira langsung membaca laporan dan memeriksa lokasi tersebut. Wajah Buk Seira seketika berubah menjadi lebih serius, ia memberitahu tim bahwa ada sesuatu yang janggal antara laporan dan lokasi.
“Seperti ada sesuatu.”Ucap Buk Seira.
“Siapa penanggung jawab atas lokasi ini?.” Tanya Buk Seira.
“Panggil orangnya kesini, saya ingin melihat langsung dan ingin mendengar penjelasan langsung olehnya.” Tambah Buk Seira.
Arsel langsung panik, sebab ia yang diutus oleh Pak Lutfi untuk menutupi masalah ini agar tidak diketahui oleh Buk Seira malah Buk Seira telah mengetahu terlebih dahulu.
“Habislah aku.” Gumam Arsel.
Tak berselang lama, Pak Lutfi dan orang yang mengurus lapangan tersebut datang menemui Buk Seira. Nampak wajah Pak Lutfi sedang kesal menatap wajah Arsel. Arsel yang berdiri di belakang tim Buk Seira hanya terdiam.
“Ini kan bukan salah ku.” Ucap Arsel.
“Jadi dia yang bertanggung jawab atas lokasi ini.” Kata Arsel sambil melihat seseorang yang berjalan di belakang Pak Lutfi.
“Kenapa bukan di saja yang langsung disuruh untuk membereskan maslah ini, kenapa harus aku?.” Arsel bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
“Sebaiknya aku tidak berada disini.” Ucap Arsel yang mencari cara agar bisa pergi dari lokasi tersebut.
Arsel yang sedang mencari cara untuk bisa pergi dari lokasi tersebut tiba-tiba di panggil oleh Buk Seira.
“Arsel ... .” Panggil Buk Seira.
“Ha ... .” Ucap Arsel sambil membalikkan badannya.
“Eh, iyah maaf Buk.” Jawab Arsel.
“Kesini sebentar.”
Arsel berjalan mendekat ke arah Buk Seira, Pak Lutfi dan tim yang sedang serius menatap ke arah Arsel.
“Jadi kamu datang kemari dengan berlari seperti tadi untuk menutupi semua ini.” Ucap Buk Seira dengan nada ketus.
Arsel melihat ke arah Buk Seira.
“Tidak, Buk.” Jawab Arsel tegas.
“Bagaimana saya bisa tau kalau tidak sedangkan kamu memegang laporan yang sama dengan saya saat ini.” Tambah Buk Seira yang melihat laporan yang Arsel pegang.
“Benar, saat ini saya sedang memegang laporan untuk lokasi ini, tetapi ... .” Saat Arsel ingin menjelaskan Buk Seira langsung memotong pembicaraan Arsel.
“Baiklah, untuk pemantauan hari ini sepertinya sudah cukup sampai disini, biar tim saja yang lanjutkan.” Ucap Buk Seira yang tiba-tiba mengakhiri pemantauan yang sedang melihat ke arah ponselnya.
“Tapi Buk.” Ucap Pak Lutfi.
“Sepertinya saya lapar, Pak.” Jawab Buk Seira.
“Saya pamit makan siang terlebih dahulu, selanjutnya biar masalah ini tim saja yang urus.” Tambah Buk Seira yang meninggalkan mereka di lokasi.
“Ada apa dengan Buk Seira, kenapa emosinya tiba-tiba mereda.” Ucap Seseorang yang bertanggung jawab atas lokasi tersebut.
“Diam, Kamu!!.” Jawab Pak Lutfi yang kesal.
“Buk, tunggu saya. Mari kita makan siang bersama.” Panggil Pak Lutfi.
Pak Lutfi dan tim langsung mengikuti Buk Seira, Arsel yang sedang berdiri langsung duduk dan lemas.
“Wahhh, kenapa dia bisa menakutkan seperti itu.” Ucap Arsel sambil memegang kakinya yang terasa lemas dan tak sanggup berdiri.
“Aku sampai tidak tau harus menjawab dan mencari alasan seperti apa untuk menjelaskan kepadanya.”
Kruhhkk.. krukkk...
“Ternyata perut ku juga ikutan lapar.” Sambil memegang perutnya.
“Tapi Buk Seira lucu juga, disaat serius tiba-tiba ia menjadi lunak hanya karena ia ingin makan.” Gumam Arsel sambil tertawa.
Arsel pun berdiri dan mencari tempat makan siang yang pas untuknya. Ia pergi menuju parkiran dan mengambil sepeda motornya.
“Dimana tempat makan di sekitar sini, ya.” Ucap Arsel.
Arsel yang sedang mengendarai sepeda motornya sedang melihat Buk Seira bersama Pak Ammar dan Pak Lutfi sedang mengobrol dan tertawa bersama di salah satu tempat makan.
“Ha, itu kan Buk Seira dengan Pak Ammar.” Ucap Arsel bingung.
“Berarti yang dilihat Buk Seira di ponselnya adalah pesan dari Pak Ammar?.” Tanya Arsel.
“Ah tidak mungkin, tapi kenapa Pak Lutfi yang tadi sangat takut malah tertawa bersama denga Buk Seira.” Ucap Arsel.