Sikap Karina yang membuat Arsel ...

2110 Kata
Arsel yang terkejut melihat Karina sedekat itu mulai keringat dingin, jantungnya berdetak cepat dan wajahnya pun memerah. Karina yang melihat wajah Arsel dari dekat bercucuran keringat malah  semakin mendekatkan wajahnya untuk memastikan ada apa. “Wajah kamu memerah?.” Tanya Karina polos. “Ah benarkah?.” Sambil sedikit mendorong Karina menjauh. “Eh sorry sorry, sel.” Kata Karina. Drttt... drrtt Drrtt.. “Halo.” Karina menjawab ponselnya. “Mbak saya sudah di depan ya.” Ucap mas G*food.  “Oh iya Mas, saya ke depan ini ya.” Karina keluar mengambil pesanan. “Huhhh... .” Arsel menarik nafas panjang. “Sepertinya aku pulang saja daripada aku nanti tidak bisa bernafas di dekat Karina.” Arsel berjalan ke depan menghampiri Karina untuk pamit pulang. “Atas nama Karina?.” Ucap mas G*food. “Iyah, mas. Sudah saya bayar via G*pay, ya. Thank you.” Jawab Karina sambil melihat ke arah pintu. “Iyah, mbk.” Arsel yang berjalan keluar mendekati Karina. “Rin.” Panggil Arsel. “Kamu mau kemana, Sel?.” Tanya Karina. “Aku pamit pulang, ya. Sepertinya aku sudah terlalu lama disini.” Ucap Arsel. “Makan dulu yuk, makanannya udah datang.” Ajak Karina. “Maaf ya, Rin. Next time deh.” Jawab Arsel sambil menghidupkan motornya. Belum sempat Karina berbicara, Arsel sudah pergi mengendarai sepeda motornya. “Arselll... .” Panggil Karina. “Yah dia sudah pergi, bagaimana aku menghabiskan semua makanan ini.” “Aku kan sudah makan tadi bersama Pak Ammar.” Tambah Karina. Karina hanya mencari alasan agar bisa lebih lama bersama Arsel entah apa maksud Karina mendekati Arsel apakah ia menaruh hati atau hanya sekedar cari perhatian saja. Drrt..drttt Karina mendapat satu pesan. “Ah dia lagi, merusak suasana hatiku saja.” Ucap Karina. “Ah sudah pukul berapa ini, aku sebaiknya mandi saja untuk membuat pikiranku menjadi segar.” Karina melihat jam yang ada di tangannya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. “Arsel sudah sampai rumah belum, ya?.” “Apa sebaiknya aku menelponnya. Ah sudahlah biarkan saja.” Ucap Karina sambil meletakkan ponselnya ke meja.   Sesampainya dirumah Arsel langsung masuk ke dalam kamarnya, ia membuka sweaternya dan langsung merebahkan badannya tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu.  “Hari yang melelahkan.” Ucap Arsel sambil merebahkan badannya. “Kenapa Karina bersikap seperti itu, ya. Membuat jantungku mau copot saja.” “Eh tapi kenapa dia tidak mau menceritakan apa yang terjadi dengan Pak Ammar.” “Sudahlah, sebaiknya aku tidak perlu mencampuri urusan mereka.” “Huaaahh, aku ngantuk sekali tapi aku harus membasuh wajahku terlebih dahulu.” Ucap Arsel sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi yang ada di kamarnya.   **Keesokan harinya di tempat kerja Tampak Pak Ammar sedang memperhatikan Arsel di ruangannya yang menahan kantuk berusaha tetap fokus mengerjakan pekerjaan dan menyiapkan laporan yang di minta. “Kenapa wajahnya masih pagi sudah seperti itu.” Ucap Pak Ammar. Arsel yang tidak tau sedang di perhatikan Pak Ammar tetap fokus pada komputer yang ada di depannya. “Ahh, aku ngantuk sekali.” Ucap Arsel yang tidak biasa tidur di atas jam sepuluh malam. “Sebaiknya, aku beli kopi dahulu.” Tambah Arsel. “Nihh ... .” seseorang menyodorkan kopi ke depan wajah Arsel.” “Eh tau aja.” Arsel menoleh. “Loh, Pak Ammar.” Kata Arsel. “Kenapa wajahmu seperti itu, ini minumlah.” Kata Pak Ammar. “Thank you, Pak.” Sambil meminum kopi yang diberikan Pak Ammar. “Hmmm.” Pak Amar tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan Arsel. “Wahhh, Pak Ammar tau saja kalau aku ingin membeli kopi.” Arsel melanjutnya pekerjaannya lagi, ia mulai bersemangat untuk menyiapkan laporan yang akan di ambil dan bersiap untuk tugas lapangan. “wahhh, sudah jam sepuluh saja. Aku aku harus cepat.” Ucap Arsel. Drrttt ... drttt Satu pesan masuk ke ponsel Arsel. “Siapa ini yang mengirimiku pesan di saat aku sedang bersemangat seperti ini.” Kata Arsel sambil melirik notif pesan di ponselnya. “Eh, Pak Ammar.” Sambung Arsel. Arsel membuka pesan yang dikirim Pak Ammar “Arsel kalu sudah selesai bawa laporannya ke ruangan saya, kita berangkat bersama ke lapangan.” “Loh, Pak Ammar kenapa mau ikut juga ya ke lapangan, bukannya hari ini dia ada rapat sama pihak kontraktor.” Ucap Arsel pelan. Baik, Pak. sebentar lagi saya ke ruangan Bapak.” Balas Arsel. “Harus kucek sampai tiga kali dulu ini laporan sebelum aku serahkan, kalau tidak habis nanti aku diterkam sama pimpinan.” Ucap Arsel sambil mengecek laporan yang dibuatnya. “Baiklah, selesai juga.” Arsel berjalan menuju ruangan Pak Ammar sambil membaca doa agar laporannya yang dikerjakan tidak mengalami masalah dan harus di revisi ulang. “Semoga laporanku di terima dan tidak harus revisi.” Ucap Arsel sambil mengetuk pintu ruangan Pak Ammar. Tokk ... Tokk .. “Permisi, Pak.” Ucap Arsel. “Iyah, masuk.” Jawab Pak Ammar. “Ini Pak, laporannya.” Arsel memberikan laporannya kepada Pak Ammar. “Oh, iyah taruh disitu dahulu.” Jawab Pak Ammar yang tengah sibuk memasang dasi. “Arsel bisa bantu saya memasang dasi ini, saya harus rapat. Saya tidak bisa mengantar kamu ke lapangan ya.” Pak Ammar menoleh ke arah Arsel. “Ah kenapa rapat saja harus memakai dasi seperti ini.” Ucap Pak Ammar yang tidak bisa memasang dasi dengan rapi. “Coba sini pak, saya bantu.” Arsel mendekat ke arah Pak Ammar. Pak Ammar menatap wajah Arsel yang sedang serius memasang dasi di kerahnya. “Jangan menatap saya seperti itu, Pak.” Ucap Arsel yang mulai tidak nyaman dilihati oleh Pak Ammar. “Ah, kepedean kamu. Siapa yang sedang memperhatikan kamu.” Jawab Pak Ammar mengelak. “Sudah selesai, Pak.” Kata Arsel. “Oh sudah, ya.” Jawab Pak Ammar sambil melihat ke cermin. “Wahh, bagus sekali. Terima kasih ya, Arsel.” Ucap Pak Ammar. “Saya pergi dulu kalau begitu.” Pak Ammar berjalan keluar ruangan dan pergi menghadiri rapat. “Kamu langsung ke lapangan sekarang ya, Sel. Sudah ditunggu soalnya.” Tambah Pak Ammar mengingatkan Arsel. “Iyah, Pak. Siap.” Jawab Arsel sambil bergegas pergi menuju lapangan. Saat Arsel berjalan menuju lapangan Arsel tak sengaja berjumpa dengan Karina. Tampak dari jauh Karina berjalan terburu-buru menuju rapat yang sama dengan Pak Ammar. Arsel melambaikan tangannya untuk menyapa Karina. “Haii ... .” Sapa Arsel. Karina yang sedang terburu-buru tidak melihat Arsel, ia hanya berjalan dengan cepat melewati Arsel. “Wah, apa yang terjadi barusan.” “Dia tidak melihatku.” Jawab Arsel sambil terus berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor. Tiba-tiba Arsel mulai kepikiran mengapa Karina ikut dalam rapat bersama dengan Pak Ammar. “Kok Karina ikut rapat sama Pak Ammar, ya. Bukannya hari ini rapat mingguan kepala saja.” Ucap Arsel sambil menghidupkan sepeda motornya. Saat sedang melewati portal pintu keluar, ponsel Arsel berbunyi. “Kenapa disaat seperti ini ada saja yang menelpon.” Ucap Arsel sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Tidak jadi keluar mas?.” Tanya Abang portal. “Bentar-bentar mas, saya angkat telpon sebentar, ya.” Jawab Arsel. “Pinggir kesana dulu ya mas, takutnya ada yang keluar jadi tidak bisa.”Sambung abang penjaga portal. Arsel hanya mengacungkan jempolnya dan memutar sepeda motornya mencari tempat untuk mengangkat telpon. “Haloo, Pak.” Jawab Arsel. “Arsel kamu sudah sampai dimana?.” Kata Pak Lutfi. “Oh, saya masih dikantor pak, ini lagi jalan menuju kesana.” Jawab Arsel. “Agak cepat ya, Sel. Soalnya ada kerjaan yang harus segera kamu siapkan.” Tambah Pak Lutfi. “Ooh iyah, Pak. Siap.” Jawab Arsel. Arsel mematikan ponselnya dan bergegas menuju lapangan. Saat Arsel menghidupkan sepeda motornya ponsel Arsel berbunyi kembali. “Wahhh, benar-benar ya.” Kata Arsel. “Hallo.. .” Jawab Arsel. “Arsel kamu sudah pergi?.” “Ini di jalan, Pak.” Jawab Arsel. Kali ini bukan Pak Lutfi yang menelpon melainkan Pak Ammar, Pak Ammar menanyakan hal yang sama kepada Arsel. “Oke, Baiklah.” Pak Ammar menutup telponnya. “Sepertinya memang ada hal yang harus segera di kerjakan, aku harus cepat.” Kata Arsel sambil menghidupkan sepeda motornya. Sesampainya di lapangan tempat Arsel ditugaskan tampak semua orang sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Arsel yng baru datang langsung mendatangi Pak Lutfi. “Maaf, Pak. Saya Lama.” Ucap Arsel. “Tidak, Kok. Hari ini Manager umum mau datang dan melihat situasi lapangan tempat kita bekerja. Jadi, saya pikir ada baiknya kita datang lebih cepat dan menyelesaikan tugas kita.” Kata Pak Lutfi. “Oh, begitu.” Jawab Arsel. “Yauda kalau begitu kamu bisa langsung memulai dari LU-08 ya, Sel.” Kata Pak Lutfi. “Iyah, Pak. Saya permisi dulu.” Pamit Arsel. Arsel juga langsung bergegas menuju lapangan tempat ia bertugas dan menyapa anggota lain yang sedang fokus bekerja. “Semangat, Pak.” Kata Arsel. “Oh, iyahh.” Jawab anggota lain.   Ditempat rapat di adakan tampak Pak Ammar sedang mengobrol dengan Karina yang duduk tepat berada di belakangnya. “Karina, sepertinya kamu terlambat hari ini.” Ucap Pak Ammar. “Iyah, Pak. Ada sedikit kendala tadi pagi.” Jawab Karina. “Kamu belum sarapan?.” Tanya Pak Ammar. “Belum, Pak.” Jawab Karina. “Pagi ini saya buru-buru dan semuanya menjadi berantakan.” Tambah Karina memelas. “Kenapa kamu tidak menelpon saya saja, kan kita bisa pergi ke kantor dan sarapan bersama.” Sambung Pak Ammar. “Besok telpon saya saja, ya. Kalau ada hal yang urgent lagi.” Tambah Pak Ammar. “Siap, Pak.” Jawab Karina sambil tersenyum. Mereka yang asik mengobrol dan sedikit tertawa kecil tidak sadar kalau banyak mata yang melihat ke arah mereka. Ruangan menjadi tidak kondusif dan saling menceritakan mereka. “Baiklah, rapat akan kita mulai, ya.” Kata moderator yang memulai rapat. Setelah rapat selesai Pak Ammar langsung berjalan mengejar Karina yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan ruang rapat. “Karin.” Panggil Pak Ammar. “Ya... .” Jawab Karina sambil melihat ke belakang siapa yang memanggilnya. “Eh, Bapak.” Tambah Karina. Teman-teman yang berjalan bersama Karin pun pergi terlebih dahulu dan membiarkan Karin bersama dengan Pak Ammar. “Rin, kami pergi dulu kalau begitu.” Ucap teman Karin. “Hmmm, Baiklah.” Jawab Karin. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?.” Tanya Karin. “Ikut saya sebentar, yuk.” Ajak Pak Ammar sambil berjalan. “Kemana, Pak.” Jawab Karina mengikuti Pak Ammar. “Sudah ikut saja.” Sambung Pak Ammar.   Ditempat Arsel bertugas nampak beberapa orang dan seorang wanita mendatangi Arsel. Arsel yang tidak memperhatikan sekeliling tidak tau kalau ada yang mendekat dan melihatnya. “Kamu yang bernama Arsel?.” Tegur wanita tersebut dengan nada sedikit ketus Arsel yang terkejut tidak langsung menjawab, ia melihat dan memperhatikan satu satu wajah orang-orang yang mendatanginya. Orang-orang tersebut tidak pernah berjumpa dengan Arsel dan nampak asing. “Kenapa tidak menjawab?.” Sambung wanita tersebut. “Oh, Maaf. Iyah saya Arsel.” “Kalau boleh tau, ada apa ya?.” Tanya Arsel yang penasaran siapa wanita muda ini dan mengapa ia mengetahui namanya padahal mereka belum berjumpa sama sekali. Dari kejauhan Pak Lutfi sedikit berlari kecil bersama beberapa orang yang mengikutinya di belakang mendatangi ke arah Arsel. Arsel yang masih penasaran dengan wanita tersebut tak melihat Pak Lutfi yang melambaikan tangannya untuk memberi kode kapada Arsel.                “Arseell ... .” Panggil Pak Lutfi pelan sambil melambaikan tangan. Arsel sama sekali tidak melihat ke arah lain, ia hanya melihat ke arah wanita tersebut.                “Permisi .. .” Kata Pak Lutfi.                “Ibu sudah dari tadi?.” Tanya Pak Lutfi.                “Kenapa tidak ke ruangan saya dulu buk, saya sudah menunggu dari tadi.” Tambah Pak Lutfi.                “Tidak, saya barusan sampai kok, Pak.” Kata wanita tersebut sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.                “Saya hanya ingin melihat-lihat sebentar.” Tambah wanita Itu.                “Oh, Iyah Buk. Perkenalkan ini Arsel bu yang bertugas di lapangan LU-08 dan Arsel perkenalkan Ibu ini adalah manager umum perusahaan kita yang akan sering main kesini untuk mengawasi kita.” Kata Pak Lutfi sambil memperkenalkan mereka. Arsel langsung terkejut, ternyata wanita muda tersebut adalah manager umum yang membuat satu divisi panik termasuk Pak Ammar.                “Iyah, Buk. Perkenalkan saya Arsel.” Sambil sedikit membungkuk dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Wanita muda tersebut langsung menjabat tangan Arsel dan menariknya ia mendekatkan wajahnya ke wajah Arsel dan membisikkan sesuatu ke telinga Arsel. Mata Arsel langsung sedikit membesar dan wajahnya langsung memerah, ia tidak menyangka bahwa wanita tersebut akan berkata seperti itu di saat seperti ini, terlebih ia adalah manager umum dan mereka baru saja bertemu.                “Hmmm.” Gumam Arsel sambil melihat ke arah wanita tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN