“Iyah, Halo.” Jawab Arsel gugup.
“Pak Ammar?.” Tambah Arsel.
“Iyah, saya Sel. Kamu dimana ini?.” Tanya Pak Ammar.
Ternyata orang yang menelpon Arsel menggunakan ponsel Karina adalah Pak Ammar, Arsel masih terkejut tetapi ia tidak mau berpikiran yang aneh-aneh.
“Apa ada kerjaan yang belum diselesaikan ya?” Gumam Arsel.
“Atau apa aku membuat kesalahan di laporan yang aku berikan tadi ya.”
“Iyah, Pak. Ada yang bisa saya bantu.” Jawab Arsel sedikit gugup.
“Maaf ya Sel, ganggu malam-malam begini.”
“Oh iya Pak, tidak apa-apa.” Jawab Arsel.
“Jadi begini Sel, bisa kamu keluar sebentar sekarang untuk mengantar Karina pulang?.”
“Kami sekarang lagi ada di jalan deket rumah kamu, saat ini saya sedang buru-buru, saya tunggu di depan Ind*mart simpang pim ya sel.” Kata Pak Ammar.
Arsel hanya terdiam sembari melihat kearah jam yang ada di meja yang menunjukkan pukul 20.35 dia belum menjawab perkataan Pak Ammar, ia masih bingung apa yang terjadi.
“Haloo, Sel. Kamu masih mendengar saya?”. Tambah Pak Ammar.
“Ha.. Haloo Pak, iyah. Saya mendengarkan.” Jawab Arsel.
“Iyah, yauda saya tunggu ya.” Pak Ammar mematikan panggilannya.
Arsel buru-buru pergi, ia langsung mengambil sweater yang tergantung di balik pintu kamarnya yang entah sudah berapa hari tidak di cuci.
“Ah masih wangi kok.”Asel mencium sweaternya sambil menyemprotkan parfum.
Arsel berjalan keluar dan mencari kunci motornya.
“Apa aku harus naik motor atau naik ojol saja ya.”gumam Arsel bimbang.
“Ah sudahlah gas saja.”
Ibu Arsel yang sedang membersihkan wajah di kamar mendengar suara motor langsung melihat ke arah jendela.
“Kemana lagi anak itu sudah malam seperti ini.” Sambil membuka penutup jendela.
Arsel mulai mengegas motornya dan berjalan ke tempat yang telah diberitahukan oleh Pak Ammar, Arsel sama sekali tidak memikirkan apa yang terjadi ia hanya mengikuti perintah Pak Ammar saja.
*Di tempat lain
Tampak Pak Ammar sedang duduk di depan Ind*mart bersama dengan Karina sedang mengobrol.
“Karina, sepertinya saya tidak bisa menunggu sampai Arsel datang ya karena istri saya sudah menelpon ini.” Kata Pak Ammar.
“Ooh gitu ya, Pak. Yauda Pak tidak apa-apa.” Jawab Karina.
“Baiklah, saya duluan kalau begitu.” Pak Ammar langsung berjalan menuju parkiran tempat mobilnya di parkir.
“Hati-hati di jalan, Pak.” Karin sedikit menunduk.
“Hmmm ... .” Jawab Pak Ammar.
Karina kembali duduk dan melihat sekeliling orang-orang yang berlalu lalang pergi dan terlihat dari jauh seseorang mengarahkan lampu kendaraannya ke arah Karina. Karina menutup matanya dengan tangan akibat cahaya yang mengenai matanya.
“Akhh ... cahaya lampu kendaraan siapa ini.” Ucap Karina.
Kendaraan tersebut berhenti tepat di depan Karina, seseorang yang mengenakan helm full face turun mendekati Karina. Karina sedikit takut tapi ia tetap berusaha mengenali orang tersebut.
“Bagaimana ini, kenapa ia mendekatiku.” Ucap Karina pelan.
“Arsel?.” Tanya Karina.
Laki-laki tersebut hanya diam tanpa membuka helmnya dan melewati Karina masuk ke dalam Ind*mart.
“Awww ... apa yang ku lakukan .” Karina duduk kembali dengan menahan rasa malu sambil menutupi wajahnya.
Setelah menahan malu Karina berusaha untuk pergi dari tempat untuk berjumpa Arsel, ia tidak ingin berjumpa dengan laki-laki tersebut lagi untuk kedua kalinya.
“Sebaiknya aku pergi dari sini saja, biar tidak bertemu lagi dengan abang itu.” Ucap Karina sambil mengeluarkan ponselnya dari tas untuk memberitahu Arsel bahwa tempat bertemu pindah sedikit.
Ketika Karina mencoba menelpon Arsel, terdengar suara ponsel dari depan Karina. Karina menoleh dan ternyata itu nada suara dari ponsel Arsel yang sudah berada di depan Karina.
“Arsel melambaikan ponselnya sambil tersenyum kepada Karina.”
“Eh ... .” Ucap karina terkejut.
“Maaf ya lama, Kamu uda makan?.” Tanya Arsel.
“Jalan aja dulu yuk, nanti kita bicarain di jalan aja.” Sambil menggandeng tangan Arsel untuk cepat-cepat pergi.
“Ini helm kamu, pake dulu?.” Tanya Arsel.
“Oh iyah iyah, udah yuk cepetan.” Jawab Karina sambil melirik ke arah Ind*mart memastikan laki-laki tersebut masih berada di dalam.
Arsel yang tidak tau apa-apa hanya mengikuti Karina saja, Arsel langsung menghidupkan motornya dan mereka pergi meninggalkan tempat itu.
“Akhirnya pergi juga.” Ucap Karina.
“Ha kenapa?.” Tanya Arsel yang mendengar ucapan Karina secara samar-samar.
“Eh engga kok. Kita makan dulu ya di cafe depan situ.” Jawab Karina.
“Oh iyah-iyah.” Jawab Arsel. Lagi-lagi Arsel hanya mengikuti perkataan Karina saja. Arsel sedang fokus mengendarai kendaraannya tiba-tiba terkejut, Karina memeluknya dari belakang.
“Loh, Kok?.” Tanya Arsel dalam hati sambil sedikit melirik ke arah spion untuk melihat ke arah belakang.
“Karin, Kamu tidur?.” Ucap Arsel yang berusaha melepaskan pelukan Karina.
“Oh sorry, Sel.” Jawab Karina sambil melepas tangannya.
Arsel yang terkejut dipeluk oleh Karina reflek melepaskan tangan Karina dari pinggangnya. Ia sangat menjaga hubungan di dalam pekerjaan apalagi Arsel saat ini baru diterima bekerja di perusahaan tersebut ia tidak ingin ada rumor yang beredar.
Arsel memarkirkan motornya di cafe yang ditunjuk Karina. ia mematikan mesinnya dan memberitahu Karina bahwa mereka telah sampai.
“Kita sudah sampai, ya?.” Ucap Karina.
“Baru mau aku bilang.” Jawab Arsel.
“Maaf, ya tadi aku ketiduran dan tidak sengaja memelukmu.” Tambah Karina memelas.
“Iyah, aku mengerti kok, yauda ayuk masuk makan dulu.” Ajak Arsel sambil berjalan masuk ke dalam Cafe.
*Arsel membuka pintu
“Hmmm .. .” Arsel bergumam.
“Kenapa sel?.” Tanya Karina.
Di dalam Cafe terlihat ramai, Arsel melihat ke arah sisi memastikan masih ada meja yang tersisa atau tidak.
“Penuh, nih.” Jawab Arsel.
“Yauda deh, ke angkringan simpang tiga aja yuk.” Ajak Karina.
“Oh Oke.”
Mereka beranjak pergi dari cafe tersebut menuju angkringan simpang tiga.
“Maaf ya, Sel. Ngerepotin terus.” Ucap Karina.
“Santai aja, Kamu nih yang kasian belum makan jam segini.” Jawab Arsel.
“Gak apa-apa. Aku emang sering lewat jam makan.” Jawab Karina.
Sesampainya di angkringan simpang tiga, Mereka saling menatap satu sama lain dan tertawa.
“Hahaha .. .” Arsel tak bisa menhan ketawanya.
“Haha... .” Karin ikut tertawa juga melihat situasi di angkringan simpang tiga.
“Huh.. Lupa kalau lagi pandemi belum boleh jualan dulu.” Kata Karin.
“Kenapa aku tak terpikirkan sama sekali ya.” Karin menambahi.
“Aku juga sama sekali tak mengingatnya padahal tiap hari melewati jalan ini.” Jawab Arsel.
“Jadi tempat mana lagi yang harus kita tuju saat ini?.” Tanya Arsel.
“Pulang aja deh yuk, udah malam juga.” Jawab Karina Pasrah.
“Yakin nih, pulang?.” Tanya Arsel lagi.
“Kita pesen g*food aja ya ntar makan dirumah aku aja.” Jawab Karina sambil melihat menu makanan di ponselnya.
“Pesen satu untuk kamu aja ya.” Jawab Arsel.
“Loh kenapa gitu?.” Tanya Karina.
“Aku udah makan malam tadi dirumah.”
“Yah gimana dong, ini uda aku pesan paket combo untuk 2 orang.” Jawab Karina.
“Waduh, tapi aku juga gak bisa berlama-lama karena hanya ibuku yang dirumah sendirian.” Jawab Arsel.
“Oh, gitu ya.”
Padahal Karina belum memesan paket combo, Dia hanya mencari cara aga bisa berlama-lama dengan Arsel. Arsel yang sama sekali tidak tertarik dengan Karina juga berusaha menjaga jarak.
“Yauda, rumah kamu di jalan mana?.” Tanya Arsel
“Sepertinya kita harus cepat, biar tidak terlalu malam sampainya.” Tambah Arsel sambil menghidupkan mesin motornya.
“Iyah rumah aku di jalan Darmawangsa.” Jawab Karina.
“Oh, Oke.”
Mereka menuju rumah Karina, Arsel sedikit menambah kecepatan motornya agar Karina bisa sampai rumah tidak terlalu malam.
“Arsel pelan-pelan saja.” Ucap Karina.
“ ....... .” Arsel hanya diam.
“Apa Arsel tidak nyaman denganku, ya.” Pikir Karina.
Arsel hanya fokus melihat jalan, ia tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Karina. Karina yang berpikir kalau Arsel tidak nyaman dengannya pun langsung mencari cara agar Arsel bisa lebih lama di rumahnya.
“Sel... .” Ucap Karina sambil menepuk pelan pundak Arsel.
Arsel mengurangi kecepatan motornya dan sedikit menoleh kearah samping untuk mendengar perkataan Karina.
“Ya... .” Jawab Arsel.
“Pelan saja, kita uda mau sampa kok.” Kata Karina.
“Oh, iya.”
“Depan situ ntar belok kanan ya, sel.” Tambah Karina.
“Arsel hanya mengangguk.”
Arsel melihat-lihat daerah rumah Karina yang cukup sepi malam itu, ia sepertinya pernah ke daerah ini tapi ia lupa untuk urusan apa ia kemari. Kawasan rumah Karina termasuk kawasan elit di daerah tersebut.
“Agak sepi, ya.” Ucap Arsel.
“Ha.. iyah memang seperti ini lah.” Jawab Karina sambil melihat daerah tersebut.
“Simpang depan belok ke kiri ya sel.” Tambah Karina.
“Oh, Oke.”
“Itu ya, Sel. Rumah Ketiga warna cream.” Sambil menunjuk ke arah rumahnya.
Arsel memarkirkan motornya di depan pagar rumah Karina, ia pun turun dan langsung berpamitan kepada Karina.
“Disini ya?.” Tanya Arsel.
“Iyah, Sel. Yuk masuk dulu.” Ajak Karina.
“Eh, enggak deh. Aku langsung balik aja, gak enak soalnya dah malam juga.” Jawab Arsel sambil melihat jam di ponselnya.
“Bentar aja, sel. Sekalian nunggu g*food.” Jawab Karina sedikit memaksa.
“Kayaknya gak bisa deh. Aku juga kan sudah makan tadi dirumah.” Jawab Arsel yang tetap menolak ajakan Karina.
“Yauda kalau kamu gak makan, tapi tunggu sampai abang g*foodnya datang ya. Aku tidak berani sendirian.” Tambah Karina.
“Oke, aku akan menunggu sampai pesanan kamu datang saja ya.” Jawab Arsel pasrah.
Karina, membuka pintu pagar rumahnya dan menyuruh Arsel untuk memarkirkan motornya di dalam saja.
“Sel, yuk masuk. Kita tunggu di dalam saja.” Ucap Karina.
“Nunggu diluar aja kali, ya. Gak enak juga kalau di dalam nanti ganggu orang rumah kamu yang sedang istirahat.” Jawab Arsel.
“Santai aja sel, aku tinggal sendiri kok.” Kata Karina.
“Sendiri?.” Tanya Arsel.
“Iyah, orang tua aku tinggal dirumah yang berbeda.” Jawab Karina sambil membuka pintu rumahnya dan memaksa agar Arsel menunggu di dalam saja.
Arsel yang sudah berusaha menolak ajakan Karina akhirnya tetap pasrah dan masuk ke dalam untuk menunggu pesanan makanan Karina.
Karina yang belum memesan makanan pun langsung membuka ponselnya untuk memesan makanan yang tadi sudah ia pilih.
“Duduk sini, Sel.”sambil mempersilahkan Arsel duduk.
“Oh iyah, thank you.” Jawab Arsel sambil melihat rumah Karina.
“Rumah kamu bagus ya.” Puji Arsel.
“Wah Thank you.” Kata Karina tersenyum.
“Kamu mau minum apa, Sel? Kopi?.” Tanya Karina sambil berjalan ke arah dapur.
“Gak usah deh, kan bentar lagi pesanan kamu datang.” Kata Arsel.
“Santai.” Ucap Karina sambil tetap membuat minum untuk Arsel.
“Kamu gak tau aja kalau makanannya baru ku pesan, mungkin satu jam lagi baru sampai.” Kata Karina pelan.
“Eh, tadi kamu kenapa ada disitu bersama Pak Ammar?.” Tanya Arsel.
“Karina hanya melihat Arsel.”
“Maaf, kalu aku sudah lancang menanyakan itu padamu.” Tambah Arsel yang merasa bersalah sudah menanyakan pertanyaan tersebut kepada Karina.
“Gak, apa-apa.” Jawab Karina.
Arsel yang menjadi canggung langsung megeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Wajar kok kalau kamu bertanya seperti itu.”Sambung Karina sambil memberi minuman kepada Arsel.
“Ini, minuman kamu.”
“Ahh, Thank you.” Jawab Arsel.
“Jus apel, ya.” Tambah Arsel sambil meminum minumannya.
“Iyah, kamu gak suka ya. Aku lupa bahwa kopi ku habis hari ini.”
“Engga kok, aku suka kok.” Kata Arsel sambil tersenyum.
“Maaf ya sel sudah merepotkan kamu hari ini.” Kata Karina sambil duduk di sebelah Arsel.
“Iyah, gak apa-apa.”Jawab Arsel sambil bergeser sedikit agar tidak terlalu dekat dengan Karina
Ddrrrtt ... drttt...
Drttt ....
Ponsel Karina berbunyi.
Karina tidak menghiraukan ponselnya, ia malah asik mengobrol dengan Arsel. Arsel yang mendengar suara getar melirik ke arah ponsel Karina.
“sepertinya ponsel kamu berdering.” Kata Arsel.
“Ah, iya. Sudah biarkan saja.” Jawab Karina.
“Pak Ammar.” Kata Arsel dalam pikirannya.
“Angkat saja mana tau penting.” Tambah Arsel.
“Enggak kok, bukan apa-apa.” Jawab Karina sambil meletakkan tangannya ke paha Arsel.
Arsel yang sedang melihat ponsel Karina langsung terkejut dan melihat ke arah Karina.
“Eh ... .” Kata Arsel reflek.
“Haa kenapa, Sel.” Jawab Karina dengan polosnya sambil melihat kearah Arsel.
Mereka saling tatap, Karina mendekatkan wajahnya ke wajah Arsel. Arsel yang sedang terkejut semakin panik melihat wajah Karina tepat didepan wajahnya.
“Hmmm ... .” Gumam Arsel.