Arsel yang mulai membuka pintu ...

2102 Kata
Sambil membuka pintu perlahan Arsel melihat ternyata Pak Ammar yang sedang mengobrol dengan Pak Lutfi.                “Oh, Arsel. Masuk sini.” Ucap Pak Lutfi.                “Sini duduk sini.” Sambung Pak Ammar tersenyum sambil memberi tempat duduk.                “Eh, iyah Pak. Terima Kasih.”                “Jadi gimana sel, aman semua tadi di lapangan?” Tanya Pak Lutfi.                “Aman, Pak. Ini laporannya Pak silakan diperiksa.” Jawab Arsel sambil memberikan laporan     hasil kerja. Pak Lutfi mulai meriview laporan dengan Pak Ammar, dan Pak Ammar pun menyuruh Arsel kembali ke kantor untuk bisa berberes dan pulang kerumah.                “Arsel, kamu balik saja terlebih dahulu ke kantor, laporannya biar saya saja yang bawa kembali.                “Iyah Pak, terima kasih. Saya pamit balik duluan kalau begitu. Arsel berjalan keluar sambil bergumam “ah sudahlah apa yang sedang kupikirkan, lebih baik aku pulang cepat dan memikirkan bagaimana caranya mendapatkan hati Cathrine”. Di halte tempat menunggu bus tampak Karina sedang duduk menunggu bus selanjutnya. Arsel pun terkejut. “Haa, itu Karina bukan sih?, loh kok dia ada disini ya.” Sambil menunggu abang ojek online datang, Arsel pun mendatangi Karina dan duduk di sampingnya.                “Hai, Karina.” Sambil mengangkat tangannya. Karina sedikit terkejut namun tetap berusaha mengendalikan ekspresinya agar tetap tidak tampak mencurigakan.                “Ohh ... Hai Arsel, baru pulang, ya?                “Iyah, nihh. Kamu ngapain disini karina?                “Tadi aku ada urusan sebentar di dalam. Eh uda datang ini busku, aku deluan ya sel.” Karina langsung meninggalkan Arsel.                “Oke oke rin.” ambil mengkriyetkan kening Arsel bingung dengan sikap Karina.                “Entah ini perasaanku aja apa memang ada hal yang disembunyikan dengan orang-orang ini, Ah sudahlah itu.” Tak berselang lama, Abang ojek online Arsel pun datang.                “Atas nama Arsel?” Tanya abang ojol tersebut.                “Iyah, Mas. Saya.” Sambil berjalan dan mengambil helm yang diberikan oleh abang ojol.                “Udah, mas?.” Sambil memastikan apakah Arsel sudah diposisi aman atau belum.                “Oke, Mas. Berangkat.”                “Sesuai titik inikan mas?.”                “Iyah Mas, sesuai ya. Tapi biasanya jalan situ kalau udah jam segini macet parah sih mas.” Jawab Arsel sambil memberitahukan tentang kondisi jalan.                “Waduhh, lewat mana ya mas? Saya kurang tau pula la jalan potong dari sini.”                “Yauda mas, ini dari sini kita ke kiri ya nanti simpang depan kita lurus ...” Arsel Menjelaskan panjang lebar jalan potong untuk sampai kerumahnya agar bisa terhindar dari kemacetan. Tak sesuai ekspektasi, jalan potong yang dikira bisa lancar jaya ternyata, malah lebih parah keadaannya.                “Hahahah ...” mereka sama-sama tertawa melihat kondisi jalan tersebut.                “Yauda, sabar aja la kita ya mas, emang beginilah kalau udah jam pulang kerja yakan.” Lanjut abang ojol sambil tertawa.                “Hahaha iya mas, santai kok. Saya juga gak lagi buru-buru kok.” Setengah jam berlalu mereka masih berada di kemacetan yang hanya bergerak sedikit demi sedikit. Sambil terdengar suara klakson dan teriakkan orang-orang yang tidak sabar. “Tiiiiinn... tttiinnn...” “Maju woyyyyy..” “Jangan lewat situ, anying.” “Tiinnnn...tttiiinnn...ttiiiinnn.” “Wooyy, jalan...” “Beginilah suasana dan kondisi sore hari jam pulang kerja, orang-orang besibuk mau cepat aja yakan, mas?” Sahut abang gojek membuka pembicaraan. “Iyah mas, orang ini mau cepat aja, udah tau jalanan ini kecil malah masuk pulak truck itu kesitu. Dahlahhh.”   Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Arsel sampai rumah juga. “Saya bayar via g*pay ya mas.” “Oh, oke mas. Makasih ya.” Abang ojol pun berlalu pergi, dengan muka sedikit lesu Arsel berjalan memasuki rumah. Kreeekkk ... sambil membuka pintu *Mengucap salam* “Aku pulang.” Dengan nada lesu “Ibu, masak apa buk. Ahh .. Aku lapar sekalii.” Sambil melepas sepatu dan melirik kearah dalam rumah. Tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah. Arsel menuju dapur namun, tidak ada orang. Lalu Arsel menuju kamar ibunya tetapi, tetap tidak ada orang juga. “Kemana semua orang ini.” Sambil membuka pintu kamarnya. Arsel langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tapi, ia teringat kemana semua orang perginya kenapa tdak ada dirumah. Lalu, Aesel keluar dari kamar mandi ia mengambil hpnya dan mencoba menelpon ibunya. Ttiiittt ... ttiitt.. ttiitt.. “Hapenya aktif tapi kenapa tidak diangkat ya.” Ucap Arsel sambil kembali mencoba menelpon ibunya. “Ahh sudahlah aku mandi saja dulu, benar-benar hari yang melelahkan.” Arsel kembali masuk kedalam kamar mandi. Srrr...sss... ....” Suara keran air berbunyi dengan sangat deras. “Ah segarnyaaa.” Ucap Arsel sambil bernyanyi kecil. Tiba-tiba Ibu Arsel pulang dan langsung masuk kedalam kamar dan membuka pintu kamar mandi. Ckleekk ...  ...” dengan polosnya ibu Arsel bilang “Oh Kamu lagi mandi, Baiklahh Ibu tunggu di meja makan ya... Dengan raut wajah yang terpesona Ibu Arsel melihat Arsel yang sedang mandi. “Aaaakkkk apa yang Ibu lihat, cepat keluar, kenapa raut wajah ibu seperti itu apa yang sedang ibu lihat ...” Arsel berteriak kepada ibunya sambil menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. “Tidak, tidak ada yang ibu lihat, yakinlah Ibu tidak melihat apa-apa wahai anak gantengku.” Sambil tertawa Ibu Arsel menutup pintu dan berjalan keluar dari kamar Arsel dengan sedikit bergumam “Wahh bagaimana bisa anakku memiliki tubuh yang bagus seperti itu, tidak sia-sia aku membesarkannya dengan baik selama ini.” Ibu Arsel pun tengah bersibuk membuat makan malam dan menambahkan lauk ke mangkuk yang disiapkan untuk Arsel “Anakku harus banyak makan protein agar badannya semakin bagus.” “Arsel cepat kemari, makan malam sudah siap.” Panggil Ibu Arsel. Arsel yang sedang memakai baju pun terburu-buru untuk segera keluar. “Yaa ... ini sedang berjalan keluar.” Jawab Arsel sambil berjalan menuju ruang makan. “Kenapa kamu lama sekali.” Sahut Ibu Arsel sambil menyiapkan piring untuk Arsel. “Ini, Makan yang banyak, Ibu sudah memasak sayur yang banyak hari ini khusus untuk kamu.” Tambah Ibu Arsel. “Aku sedang menjaga berat badanku bu, aku tidak sanggup menghabiskan semuanya ini.” Jawab Arsel sambil mulai menyendokkan nasi ke mulutnya. “Ibu tidak mau tau yang penting kamu harus habiskan ini semua. Jadi, bagaimana hari pertamamu bekerja?.” Tanya Ibu Arsel dengan sangat antusias. “Ya seperti itu ajalah bu, biasa saja.” Arsel tetap fokus melanjutkan makanannya. “Kenapa kamu tidak bersemangat seperti itu, cepat jelaskan kepada ibu bagaimana hari pertamamu.” Ibu Arsel tetap memaksa Arsel untuk menceritakan hari pertamanya bekerja. “Tidak ada yang istimewa, aku ingin tambah kuah bu.” Arsel mengalihkan pembicaraan dan memberi mangkuk kepada Ibunya untuk diisi kuah sayur kembali. “Ahh kamu ini, ibu kan ingin mendengarkan ceritamu.” Sambil mengambil kuah yang ada diatas panci. “Kemana yang lain buk, kenapa cuman aku yang makan disini sendiri.” Sambil Arsel clingak clinguk melihat ke sisi ruangan mencari yang lain dan ia baru tersadar bahwa hanya dia yang sedang makan disitu sendirian. “Oh itu, mereka pulang terlambat hari ini dan mungkin makan diluar karna ada janji dengan yang lain. “Baiklah kalau begitu.” Arsel melanjutkan makannya. “Kerja yang bagus ya, Sel. Semoga kamu bisa mencapai apa yang ingin kau capai selama ini.” Kata Ibu Arsel sambil menuangkan minum ke gelas Arsel. Arsel terdiam dan menghentikan makannya, ia pun seketika menatap ke arah Ibunya. “Wahhh aku ingin menangis rasanya.” Sambil menatap ke arah Ibu Arsel. “Aku benar-benar terharu Ibu mengatakan seperti itu.” Arsel menambahkan. “Ah kamu selalu seperti itu kalau Ibu beritahu, tidak pernah mau serius mendengarkan. Sudahlah Ibu mau ke kamar dulu.” Sambil berjalan meninggalkan Arsel. “Tidak Ibu, Aku selalu mendengarkan Ibu dengan serius, percayalah .. hmm ... .” Arsel melanjutkan makannya kembali. “Aku akan bekerja dengan sangat giat bu... .” Tambah Arsel. “Iyah iyah baiklah.” Sahut Ibu Arsel dari dalam kamar.   Drrrt.. drttt... drrt.. drttt ... Ponsel Arsel berdering. Arsel yang sedang menikmati makan malamnya tidak tau bahwa ada yang sedang menelponnya ditambah ponsel Arsel sedang mode silent. Satu panggilan tak terjawab nampak dari layar ponsel Arsel. “Wah kenyang sekali, makanan rumah emang paling terbaik.” Arsel membereskan tempat makan. Arsel pun berjalan ke ruang tengah untuk menyalakan televisi, tiba-tiba ia teringat dengan ponselnya. “Ha dimana ponselku, sepertinya aku merindukan Cathrine.” Gumam Arsel. “Ah tapi sudahlah percuma saja, ngapai aku mencari ponsel yang selalu sepi itu.” Tambah Arsel. Arsel melanjutkan menonton televisi, ia pun mengganti ganti cannel tv tersebut tetapi tidak ada yang menarik menurutnya. “Kenapa siaran tv tidak ada yang menarik seperti ini, bosen banget.” Arsel mematikan tvnya dan berjalan menuju kamar. Arsel mengambil ponselnya dan terkejut melihat ada satu panggilan tak terjawab. “Hmm... Apanih.” Dengan ekspresi terkejut dan bingung Arsel menatap layar ponselnya. Satu panggilan tak terjawab tersebut ternyata dari Karina. Arsel bingung kenapa Karina menelponnya malam-malam begini dan hanya satu kali panggilan bahkan tidak ada pesan singkat yang dikirim oleh Karina. “Kepencet kali, ya. Gak mungkin banget Karina nelpon malam-malam begini.” “Ah sudahlahh.” Arsel pun tidak memikirkan panggilan telepon tersebut, ia tidak menelpon Karina kembali. Arsel pun rebahan sambil bermain dengan ponselnya, ia membuka i********: dan langsung muncul pertama foto Cathrine di feed i********:. Arsel langsung Refleks bilang “Masha Allah, Cantik bangettttt .... .” “Gila ya, cantik banget sih ciptaan Tuhan.” Tambah Arsel. Arsel ingin ikut memberikan komentar di kolom komentar tetapi ia tidak memliki keberanian, ia hanya menyukai foto tersebut dan lanjut scroll untuk melihat yang lain. Arsel sadar diri bahwa ia tidak pantas bersama Cathrine jangankan bermimpi untuk bisa bersama Cathrine, untuk berkomentar di unggahannya saja pun Arsel merasa tidak pantas.   Saat Arsel sedang scroll i********: tiba-tiba masuk satu DM di i********: Arsel.” “Hmmm .. siapa lagi ini.. .” Arsel segera membuka DM tersebut. “Haa ... .” Arsel terdiam.  Cathrine Ariry. 20 detik yang lalu “Cathrine.” Arsel bingung tapi senang. “Ap .. ap ... apanihh... .” Arsel membuka pesan dari Cathrine. “Hai .. .” Arsel semakin bingung, ia bingung bagaimana membalas pesan Cathrine. “Aku harus membalas apa ini.” Tanya Arsel kepada diri sendiri. “Hai Cath .. .” Balas Arsel. Arsel pun gelisah ia mulai berpikir “apa tidak apa-apa kalau aku hanya membalas seperti itu, bagaimana kalau Cathrine tidak membalas lagi. Seharusnya aku mulai membuka obrolan tadi.” “Ahhh bagaimana ini sekarang.” Arsel buka tutup aplikasi i********: tersebut. Arsel pun sepertinya pasrah, apabila Cathrine tidak membalas pesan tersebut lagi. “Yasudahla ya, kan cuman di say hai doang kenapa aku sudah berharap yang lebih.” Ding .. Masuk satu DM kembali ke ponsel Arsel, ternyata Cathrine membalas pesan tersebut. Arsel pun langsung sigap dan tak berpikir lama langsung membuka pesan tersebut. Cathrine hanya membalas dengan emot senyum. Arsel semakin bingung, dia tidak tau harus membalas apa lagi agar obrolannya ini berjalan dan tidak berhenti disini. “Apa pulak lagi ini.” Kata Arsel. “Orang cakep emang beda ya, bisa banget bikin orang baper plus bingung hanya emot gini doang.” Tambah Arsel. Arsel pun membalas pesan tersebut dengan mengirim sticker Kucing gemoy. *Sticker kucing gemoy* “Baiklah sticker ini saja yang kukirim.” Tak berselang lama langsung dibalas kembali oleh Cathrine. “Uhmm kenapa gemoy sekali, mau bawak pulang kerumah.” Kata Cathrine. “Mau?, yauda ini bawak pulang sekalian yang ngirim juga bawak.” Balas Arsel. Setelah pesan terkirim Arsel baru tersadar sepertinya ia terlalu berlebihan. “Apa yang baru saja kukirim, Cathrine bakal ilfeel sepertinya ini.” Arsel menepuk jidatnya. Dingg .. Ding .. Ding .. “Hehe ... .” Kata Cathrine “Boleh, kalau kamu mau.” Tambah Cathrine. Arsel menatap ponsel dan tak berkedip, ia pun bergumam. “Cath, kamu jangan mancing aku gini dong, nanti aku makin suka bagaimanaa .. .” Arsel mengetik ponselnya kembali untuk membalas pesan Cath. “Aku sih mau aja .. .” Belum sempat mengirim pesan tersebut, tiba-tiba ponsel Arsel mendapat satu panggilan telepon. Drrtt ... drttt ... “Karinaa .. .” Sambil melihat ponsel. Arsel tidak langsung mengangkat panggilan tersebut, ia masih bertanya tanya ada apa Karina menelpon malam malam begini. “Yasudahlah, ku angkat saja.” Arsel segera mengangkat panggilan tersebut. Ketika di angkat Arsel pun terkejut. “Hallo .. .” terdengar suara laki-laki dari ponsel tersebut. Arsel kembali melihat ponselnya, ia bingung yang menelpon nomor Karina tetapi yang berbicara suara lelaki. “Ya, Haloo. Siapa ini?.” Tanya Arsel. “Sel.. ini saya ... .” Kata seseorang dalam panggilan tersebut. Arsel yang sedang rebahan langsung bangkit dan terdiam, ia melihat kembali ponselnya memastikan nomor yang menelponnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN