Pak Ammar sedikit demi sedikit mulai menunjukkan ...

1829 Kata
Pak Ammar pun merangkul dan menepuk pundak Arsel sambil tertawa. Dari kejauhan, Karina yang tengah berjalan dengan temannya melihat Arsel dan Pak Ammar lagi bersama pun membicarakan mereka. “Tau aja nih Pak Ammar mana yang bening, diajak keliling terus, mana dua-duanya cakep lagi,” ucap salah satu teman Karina sambil tertawa. “Udah ada pawangnya belum, ya?.” sambung teman Karina lagi.   “Haha ... iya ya, Arsel emang cakep sih. Kayaknya belum punya Pacar, deh.” tambah Karina. “Eh, Serius lu, Rin, tau darimana coba?.” “Seriuss, tadi aku sempet denger kalau si Arsel minta dicariin pacar gitu ke Pak Ammar.” “Kenalin, sabi kali Riinn, yayayaa ... kan lu udah mau nikah rin, untukku la yang ini. Makan siang ini aku yang traktir dehh.” Sambil memelas kepada Karina. “uhmmm, gua pikir pikir dulu ya,” jawab Karina sambil tertawa. “Ih, Karina mahh, Elu mau juga Rin?” ucap temannya lagi sambil pasang wajah serius dan heran. Karina dengan temannya pun mencari jalan yang berbeda agar Arsel dan Pak Ammar tidak tau kalau mereka sedang dibicarakan. Arsel memang memiliki paras yang bisa dibilang Good Looking, dia tinggi, memiliki kulit yang cukup cerah dan senyum yang manis dengan lesung dipipinya. Tak kalah dengan Arsel, Pak Ammar juga sosok yang sangat disukai di kantor, Pak Ammar sering dijuluki Hot Daddy, badannya yang six Pack, sifatnya yang humble dan wajahnya yang awet muda walaupun usia sudah memasuki umur 47 tahun tetapi tak nampak seperti seusianya, karena ia tetap menjaga penampilannya.                Sampailah Arsel dan Pak Ammar di warung nasi padang langganan pegawai kantor kalau makan siang, Pak Ammar pun mencari kursi kosong dan memperkenalkan Arsel kepada pemilik warung nasi tersebut.                “Pak Haji, ada anak baru nih, bakal jadi langganan ini, Pak.”                “Wah, iyah pak? Makasih ya pak, gratis deh hari ini untuk Pak Ammar karna bawak anggota baru.” Sahut Pak Haji pemilik warung nasi sambil menyiapkan makanan.                “Hahah bisa aja nih pak haji.” Pak Ammar dan Arsel pun tertawa. Selagi menunggu makanan, mereka berbincang bincang membahas bagaimana warung nasi ini bisa menjadi langganan anak kantor tempat mereka bekerja.   Drrrt ... drttt ... drtt Drrrt ... drttt ... drtt Ponsel Pak Ammar berdering, Pak Ammar pun mengecek siapa yang menelponnya diwaktu jam istirahat begini. Ternyata, Kepala bagian menelpon dan memberitahu Pak Ammar agar segera kembali ke kantor karena ada hal penting yang harus di lakukan. “Dimana posisi, Pak? Maaf ya pak, mengganggu makan siangnya, Bisa kembali dulu ke kantor pak, ada trouble di Junction Pak.” “Tidak apa apa, Pak. Okeh, siap pak, saya kesana ini ya,” jawab Pak Ammar sambil menutup telepon tersebut. Pak Ammar pun bergegas meninggalkan warung nasi tersebut dan membatalkan pesanan makan siangnya, dan meminta Arsel untuk makan siang sendiri dulu hari ini. “Pak Haji, Cancel satu ya, Pak. Harus balik nih pak.” “Waduh Okedeh, bos,” jawab Pak Haji sambil mengacungkan jempol menyetujui. “Sel, makan siang sendiri dulu deh hari ini, deluan ya sel.” Pak Ammar langsung pergi meninggalkan Arsel. “Okeh, Pak.” “Pesanaaan datang, kalau nasi tambonya kurang bilang ya bro.” Ucap Pak Haji “Sipp, Pak Haji.” Sambil tersenyum. Sambil menikmati nasi padang, Arsel scroll i********: dan teringat belum membalas DM dari Cathrine. Ya namanya Ariry Cathrine, sering di sapa Cathrine. Teman sekampus yang pernah menjadi gebetan Arsel. Dulu Arsel hanya melihat dari kejauhan dan hanya bisa stalking i********: Cathrine, ia tidak berani menegur lebih dulu dikarenakan Cathrine idola dikampusnya dan Arsel sadar diri bahwa ia hanya modal tampang doang. Uang paspasan tidak sanggup untuk mengajak Cathrine jalan, sedangkan cowok cowok yang di dekat Cathrine tak hanya cakep dan tajir tapi juga pintar. Itu yang membuat Arsel Insecure dan tak berani mendekatinya, tetapi berbeda dengan sekarang. Arsel mulai memberanikan diri karena ia merasa sudah memiliki pekerjaan yang bisa dibilang lumayan dan pantas untuk medekati Cathrine, padahal ia belum genap satu hari bekerja. Arsel pun mulai membalas DM Cathrine dan berencana mengajak bertemu Cathrine Weekend ini.                “Oh, Hi Cath, Apa Kabar?.” tanya Arsel sambil melahap nasi padang Pak Haji. Ponsel ditangan kiri dan sendok ditangan kanan, Arsel pun terburu buru menghabiskan makanannya agar bisa fokus berbalas pesan dengan Cathrine. Tak berselang lama, Cathrine pun langsung membalas pesan Arsel.                “Hi, Sel. Baik nih. Kamu?”                “Baik juga Cath, Lagi sibuk ya?” tanya Arsel kembali.                “Oh engga kok, lagi santai nih.” Setelah berbalas pesan yang cukup lama, mereka akhirnya bertukar nomor w******p.                “Cath, move w******p aja yuk, biar enak ngobrolnya.”                “Boleh, Sel,” jawab Cathrine. Sambil mereka melanjutkan chat lewat w******p, Arsel mulai berjalan menuju kantor kembali dan bertemu dengan Karina beserta temannya. Teman Karina pun salah tingkah dan menyuruh Karina untuk menegur Arsel terlebih dulu dan mengenalkannya kepada Arsel.                “Rin ... rin... Arsel, rin. Tegur kali, kenalin kami, mumpung gak ada Pak Ammar, rin.”                “ih, apaan sih, ntar aja lah, nanti nampak kali kalau kita suka sama dia,” Sahut Karina.                “Gak apa-apa, rin, biar aja dia sekalian tau. Kesempatan gak datang dua kali, rin. kapan lagi kan?” jawab salah satu teman Karina sambil memaksa. Karena risih melihat temannya merengek meminta dikenali ke Arsel, akhirnya Karina pun menyapa Arsel terlebih dahulu.                “Dah siap makan, sel?.”                “Eh, Karina, Udah nih. Kalian Udah?.” tanya Arsel kembali.                “Udah juga, barusan siap. Sel, kenali ini Diana dan Juju, mereka bagian administrasi.” Sambil menunjuk kedua temannya.                “Oh Hi, Arsel.” Mengulurkan tangan.                “Hi, Juju.” Sambil berjabat tangan.                “Hi, Diana. Nanti kalau ada apa apa jangan sungkan minta tolong ke kita ya.” Diana yang berusaha cari perhatian ke Arsel.                “Oh, iya iya. Mohon bantuan dan kerjasamanya ya. Aku deluan deh kalau gitu, ya.” Jawab Arsel sambil berjalan meninggalkan mereka. Diana yang terlihat senang setelah berkenalan pun menggandeng tangan Karina dan mengucapkan terima kasih karna Karina mau menuruti permintaannya.                “Emang elo yang terbaik deh, rin,” ucap Diana.                “Halahh, elu mah. Semua juga di embat,” kata Juju menambahi. Karina hanya tertawa, karena bagian kerja mereka yang berbeda, mereka pun berpisah.                “Dahh, Karin. Punya gua itu ya si Arsel,” kata Diana sambil tertawa dan pergi bersama juju meninggalkan Karina.   Ditempat lain, nampak Pak Ammar dan pegawai lainnya lagi berbincang sedang menunggu Arsel. Dari kejauhan terlihat Arsel sedang berjalan dan Pak Ammar pun melambaikan tangan agar Arsel cepat datang. Arsel pun dengan sigap berlari menghampiri Pak Ammar. Pak Ammar langsung mengenalkan Pak Lutfi kepada Arsel dan memberi tugas baru ke Arsel agar mengikuti arahan dari Pak Lutfi dan membuat laporan untuk diberikan kepadanya nanti.                “Oke ya Arsel, ini tugas pertama kamu, kamu ikuti arahan dari Pak Lutfi. Setelah itu kamu buat laporan dan antar ke ruangan saya. Pak Lutfi Tolong bantu Arsel ya,” ucap Pak Ammar meninggalkan mereka.                “Siap Pak,” jawab Pak Lutfi.                “Sel, ikut saya ya, bawak perlengkapan kamu, saya tunggu di lobi,” sambung Pak Lutfi lagi. Arsel pun mengangguk dan mengambil perlengkapan, dan segera menuju lobi. Pak Lutfi adalah kepala tim lapangan satu yang mana Arsel sebagai koordinator lapangan bertugas memeriksa setiap tim yang ada dan memberikan laporan kepada Pak Ammar setiap harinya. Sesampainya di Lobi Pak Lutfi langsung mengajak Arsel Pergi.                “Udah siap, Sel? Kita berangkat, ya.”                “Oke, Pak.” Sepanjang perjalanan Pak Lutfi menjelaskan secara rinci tentang apa saja yang harus dilakukan Arsel dan bagaimana cara Arsel menghadapi apabila terjadi Trouble dalam pekerjaan tersebut.                “Paham ya, Sel. Kamu harus tahan banting kalau bekerja di lapangan seperti ini, Sel.”                “Iyah, Pak. Bantu Arsel ya Pak.”                “Saya bantu sebisa saya ya, sel, karena kerjaan saya juga sangat banyak.”                “Iyah, Pak. Siapp.” Setelah mereka sampai di lokasi, Pak Lutfi langsung mengajak Arsel bertemu dengan anggota yang lain yang ada di lapangan.                “Sel, Kamu mulai dari sini ya. Apa yang saya bilang tadi kamu perhatikan,” ucap Pak Lutfi. “Baik, Pak.” “Saya tinggal dulu, ya. Nanti kalau sudah selesai, kasih laporannya ke saya dulu, biar saya tanda tangan dan kamu bisa kasih ke Pak Ammar.” Arsel pun mengangguk. Pak Lutfi meninggalkan Arsel dengan anggota yang lain dan melanjutkan pekerjaannya yang lain. *** Ditempat lain, terlihat ibu Arsel sedang rebahan dikursi panjang sambil bergumam.                “Kok sepi kali la salon ini, kemana piginya orang-orang ini semua.” Ibu Arsel memiliki usaha salon di lingkungan dekat rumahnya,  sedangkan Ayah Arsel hanya bekerja sebagai guru honorer dan merangkap menjadi supir mobil online untuk menambah keuangan keluarga. Arsel anak pertama dari tiga bersaudara, satu adiknya sedang kuliah dan satunya lagi sedang duduk dibangku SMA. Tiba-tiba datang dua orang gadis remaja ke salon ibu Arsel dan membuka pintu salon. Ibu Arsel yang ngantuk-ngantuk langsung bangkit dengan semangat.                “Wih, panas kali ya, buk,” ucap salah satu konsumen yang datang.                “Creambath lah dulu, buk.” tambah temannya.                “Iyah, kan. Memang panas kali loh cuaca sekarang ini, yauda sini-sini duduk sini.” Sambil menawarkan tempat duduk dengan senyum yang sumringah.                “Dua-duanya ini creambath? Biar ibu siapkan airnya,” tambah ibu Arsel                “Iyah, buk,” jawab keduanya bersamaan. Ibu Arsel mulai bersemangat dan menawarkan berbagai produk shampo dan paket promo yang ada di salonnya dan mereka pun mulai memilih-milih paket promo mana yang akan diambil. Waktu pun berlalu, Arsel yang sedang semangat bekerja di lapangan tersadar dan melihat jam yang ada ditangannya ternyata, jam sudah menunjukkan pukul 16.45. Arsel pun pamit kepada anggota lain untuk bertemu Pak Lutfi dan segera kembali kekantor untuk menyerahkan laporan hari ini.                “Pak, saya pamit balik dulu, ya. Karena saya harus menyerahkan laporan ini,” kata Arsel sambil berpamitan.                “Oh, iyah iyah silahkan. Ruangan Pak Lutfi disebelah sana ya.” Sambil menunjukkan ruangan.                “iyah, Pak. Terima kasih untuk hari ini, ya. Besok saya kembali lagi,” jawab Arsel sambil berjalan meninggalkan mereka. Arsel buru-buru ke ruangan Pak Lutfi untuk menyerahkan laporan agar segera di tanda tangani dan dibawa ke Pak Ammar untuk diperiksa. Tetapi, ketika sampai didepan pintu ruangan Pak Lutfi, Arsel tiba-tiba berhenti dan terkejut ketika mendengar suara dari dalam ruangan.                “Haha ... iyah karina, sayang lah.” Terdengar Pak Lutfi sedang mengobrol dengan seseorang. Haa, sayang? Sepertinya Pak Lutfi sedang ada tamu, apa ia lagi bertemu dengan Karina? “Bukannya Karina mau nikah ya? Atau dia mau menikah dengan Pak Lutfi, Ah.. tidak mungkin selera karina Pak Lutfi,” ucap Arsel lagi semakin bingung dan banyak pertanyaan yang mulai bermunculan di kepala Arsel. Arsel pun mulai memberanikan diri untuk masuk ke ruangan dan berusaha tidak mau memikirkan dan mencari tau hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Tok ... tok ... “Permisi, Pak,” kata Arsel perlahan. “Masuk,” jawab seseorang dari dalam. Arsel pun membuka pintu dan ia pun tampak sangat terkejut ternyata Pak Lutfi sedang mengobrol dengan seseorang yang membuatnya terperanjat dan tidak habis pikir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN