Malam telah tiba, Reynand dan Reyna juga sudah sampai di rumah Revin beberapa menit yang lalu. Tak banyak yang di beli Reyna, wanita itu hanya membeli sebuah lipstik dan scincare yang hampir habis serta membelikan apa yang tadi di pesan oleh kakaknya, Revin.
Ternyata di dalam rumah sudah banyak sekali orang-orang, siapa lagi kalau bukan para sahabat mereka.
Seperti biasa, hujan turun mengguyur kota dengan deras, sembari berkumpul mereka tak lupa menyalakan televisi dan menonton film horor. Karena mereka tak ada yang suka dengan film horor jadi mereka menontonnya, aneh bukan? Beberapa cemilan, minuman dan makanan berjajar di meja, bahkan ada juga yang berjajar di atas karpet. Kalau sudah berkumpul seperti ini rasanya sangat malas untuk melakukan apa-apa.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tak peduli jika besok kerja. Kumpul dan begadang pasti mereka lakukan, tetapi paling begadang juga sampai jam sebelas malam. Lebih dari itu, Reyna Siska dan Felli akan bawel pada mereka, mengingatkan jika begadang itu tidak baik bagi kesehatan. Dan mereka tak ada alasan lagi untuk menolak pepatah mereka bertiga.
Reyna sedang bersandar di d**a kakaknya yang tengah menyandarkan badan di kursi, tangannya sesekali meraih cemilan yang ada di depan dadanya, matanya fokus pada film yang sedang di tayangkan.
Tiba-tiba saja dia teringat dengan ucapan Reynand tadi sore. Dia segera mengangkat badan dan bersandar pada sofa. Memerhatikan Reynand yang sibuk dengan handphone canggihnya.
"Reynand." Suasana yang memang hening, membuat suara Reyna terdengar oleh mereka semua.
Reynand tak mengalihkan fokus pada handphone walau dia menjawabnya. "Kenapa sayang?"
"Kamu tadi mau bilang sesuatu loh sama aku, awas aja kalau enggak."
Reynand menghela nafas pelan, menatap sang kekasih dalam. Sedangkan yang lain sibuk menonton dan menyimak pembicaraan mereka berdua.
"Aku besok mau ke kota sebelah ya."
Reyna mengerutkan keningnya. "Tugas lagi, tah?"
Reynand mengangguk. "Gak apa-apa kan?"
"Biasanya juga kan emang gak apa-apa, emangnya kenapa?"
"Kamu kenal ini gak?" Reynand memberikan handphone berisi percakapannya dengan orang yang bagi Reyna tak asing lagi.
'Hi, aku Cathrine. Aku salah satu dokter di rumah sakit KARTIKA'
'Salam kenal, aku dapat nomor kamu dari manager rumah sakit.'
'Besok kita ada deadline di kota sebelah kan?"
"Mau janjian jam berapa nih?'
Reynand menatap geram ke arah Reynand, sementara yang di tatap mengedikkan bahu acuh.
"Aku gak tau loh sayang, tiba-tiba aja ada chatt begitu ke w******p ku. Dan atasan aku juga membenarkan besok kita bakalan ke kota sebelah buat penyuluhan."
Reyna mencebikan bibirnya kesal, yang lain memandang aneh pada sikap Reyna yang seperti cacing kepanasan. Reyna meremas bantal lantas lantas menelungkupkan kepalanya kesana.
Reynand menghela nafas pelan, berjalan ke arah Reyna dan membawa kepala gadis itu untuk ia peluk.
Reyna menyingkirkan bantal, menghadap ke arah Reynand masih dengan wajah bete nya.
"Kamu tau kan, Cathrine itu siapa?"
Reynand mengangguk. "Salah satu dokter di tempat kamu bekerja kan? Aku tau dari atasan."
Reyna menghela nafas. "Cathrine itu Nina, Reynand!"
Semua orang masih memandang ke arah mereka berdua.
"Ya aku mana tau, sayang."
"Aku bete ah, pokonya gak boleh berangkat!"
Reynand menghela nafas kasar. "Tapi itu penting sayang, aku gak bisa nunda atau di gantikan. Hmm."
Reyna mengedikkan bahu nya acuh. "Aku gak mau tau, pokonya jangan sama Nina, sama aku kek."
Reynand tertawa kecil lantas mengusap kepala Reyna dengan lembut.
"Inget ya Rey, besok kamu ada jadwal operasi!" Peringat Felli, wanita itu memang selalu tahu jadwal para sahabatnya.
Reyna menghela nafas kasar. "Operasi kan jam sembilan, jam sepuluh juga selesai."
"Dan aku berangkat jam sembilan, kesana perlu satu setengah jam."
"Tuh kan jauh! Aahh aku gak mau Rey. Gak ikhlas pokoknya."
"Tapi aku gak bisa request ke atasan, kamu bisa percaya sama Alvin. Besok aku bawa dia kok!"
Setelah Reynand berbicara seperti itu, tiba-tiba saja Felli tersedak cemilan.
"Ah s****n! Gue gak rela. Awas aja loh, Vin!"
Alvin memandang Reynand dengan kening mengkerut. "Ndan, gue kenapa dibawa-bawa."
"Gue kan atasan lo, dan atasan itu harus di kawal."
Alvin mendelik. "s****n!"
"Lo gak usah ngumpat gitu sama atasan, Vin. Mau gue tambah tugas nih?"
"Tugas mulu, di promosikan kagak!"
Reynand tertawa mendengar perkataan lucu dari Alvin. Sementara Felli memandang Alvin seperti Reyna memandang Reynand.
"Siska, telepon manager dong! Bilangin, gue sama Reyna besok yang gantiin si Nina."
Bukan hanya Felli yang tersedak, Tetapi Siska juga demikian. "Enak ya punya sahabat macam gue, gampang banget lu bicara."
"Sis, ayolah!"
"Gue dapet apaan dulu, kalau cuman tas lima juta gue masih mampu beli."
Semua mata memandang pada Siska, wanita itu begitu enteng mengucapkan kata-kata itu. Dasarnya persahabatan sudah lama, mau bicara apapun juga bebas.
"Kalau lo mau liburan ke Singapura, gue pinjaman privat jet, berlaku satu kali."
"Tawaran yang bagus, kalau lo apa Rey?"
"Gue kasih cincin berlian, couple kita bertiga."
Semua mata memandang ke arah Reyna, bahkan Reynand saja tak percaya dengan apa yang Reyna ucapkan barusan.
"Kayak lo punya duit aja, Rey!" Jawab Siska setengah tak percaya dan bahagia. Tentu saja ia tahu, ucapan Reyna tak main-main.
"Gue mau rampok toko perhiasan kakak gue, lo tenang aja."
"Oke, dua-duanya menggiurkan. Awas pada bohong ya."
Siska segera merogoh handphone, tak lama kemudian mendial nomor manager rumah sakit, dengan gampang manager segera mengangkat telponnya. Tak lupa, Siska meload speaker agar mereka semua mendengar.
'Hallo, selamat malam. Maaf menganggu waktunya.' ucap Siska.
'Selamat malam, tidak apa-apa dok. Ada keperluan apa ya?"
"Baik pak, besok apakah ada jadwal dokter untuk mensurvei yang ada di kota sebelah dengan salah satu polisi."
"Benar sekali, saya menyuruh dokter Cathrine karena sebelumnya dia yang menawarkan diri terlebih dahulu. Ada apa ya?"
"Bisa tidak, yang survei ganti dengan dokter Fellicia Aula bramasta dan dokter Reyna Briliana Ardiaz?"
"Kenapa begitu?"
"Ganti saja pak, dan kabari pihak kepolisian juga."
"Baik dok, ada lagi?"
"Tidak, terimakasih ya pak. Saya tutup teleponnya."
Telepon pun tertutup, Reyna dan Felli tersenyum senang sembari menatap Siska dengan tatapan binar.
"Menyalahgunakan kekuasaan." Ucap Angga.
"Ya enggak sih, ini mah biasa aja." Elak Siska.
Sementara Reynand dan Alvin tersenyum kecil, karena para wanitanya nampak bahagia sekali.
Sepertinya apa yang mereka lakukan akan terlaksana degan mudah.
Felli, Siska dan Reyna bukanlah wanita sembarangan. Tetapi di balik itu semua, mereka tak pernah menunjukkan pada orang lain, dan tak pernah sombong. Mereka bertiga, patut di acungi jempol.
***
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dan untuk yang ingin copyright cerita abal-abal ku ini, mendingan mikir-mikir lagi. Saya tak mau ada kesalahpahaman seperti sebelumnya, mending cerita hasil sendiri akan lebih puas, daripada cerita hasil orang lain.
Untuk PUEBI atau typo, nanti saya akan benarkan sesudah cerita ini TAMAT. InshaaAllah, karena kehidupan saya bukan hanya tentang novel. Maaf kalau mata kalian perih dengan cerita saya.
Salam
Saghita laa
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dan untuk yang ingin copyright cerita abal-abal ku ini, mendingan mikir-mikir lagi. Saya tak mau ada kesalahpahaman seperti sebelumnya, mending cerita hasil sendiri akan lebih puas, daripada cerita hasil orang lain.
Untuk PUEBI atau typo, nanti saya akan benarkan sesudah cerita ini TAMAT. InshaaAllah, karena kehidupan saya bukan hanya tentang novel. Maaf kalau mata kalian perih dengan cerita saya.
Salam
Saghita laa