BAB 8

926 Kata
Mungkin hanya aku saja yang dapat mencintai mu sedalam ini Karna cinta ku tak akan pernah terukur oleh apapun  Aku mencintai mu dalam lelah dan lemah ku Tapi itulah satu-satunya lelah yang tak ingin aku hilangkan Dan lemah yang selalu ingin aku nikmati Meski dengan  lama nya waktu yang terus berlalu Hingga sampai saat waktu itu sendiri yang akan menyerah Lalu berkata bahwa hanya aku yang mampu bertahan ***** Faira Sudah hampir sebulan setelah kejadian di ruang keluarga itu kak juan seperti menjauhi ku,  mungkin dia berubah fikiraan untuk tidaka menikahi ku, masa depan nya lebih berharga. Dan tidak seharus nya dia juga ikut berkorban demi aku, ini takdir ku dan jalan hidup ku. Aku pun ikhlas untuk menerima nya. Aku hanya ingin melihat nya bahagia tanpa harus menderita, karna bukn aku wanita yang di ingin kan oleh dia. Terdengar suara langkah kaki mendekat, dan tiba-tiba ada yang memeluku dari belakang aku sangat mengenal aroma ini, aroma kak juan yang aku rindukan beberapa hari ini. "Kak juan" ucap ku kaget "Ada apa kak, ada yang bisa aku bantu" tanya ku pada nya yang masih pada posisi nya yang memelukku kak juan hanya menggelengkan kepala nya tanpa sepatah katapun, dia terdiam sehingga membuat ku bingung sendiri "Kak???" panggilku lagi "Gakpapa faa" suara nya yang lirih dan lolos membuat ku merinding. Terdengar suara hembusan nafas nya yang begitu berat seperti menahan beban yang amat berat "Maaf" sambung nya lagi lalu melepaskan pelukan nya dan berlalu pergi. "Ada apa dengan mu kak, kenapa kamu membuat hati ku mengembang dan lalu melemarkn nya kembali" suara ku lirih dalam keheningan sesaat melihat kepergian nya. ***** Juan Maafkan aku yang akan selalu menyakiti mu dengan pebuatan ku. Aku terpaksa melakukan ini agar kamu mau aku nikahi kamu selalu menolak nya faa, dengan alasan tidak mau menghancurkan masa depan ku. Tapi kamu sendiri berani menghancurkan hidup ku dengan tidak menolak perjodohan tidak masuk akal itu. Aku harap kamu tidak melibatkan perasaan mu dalam hal ini, kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk kamu bisa menjalani hidup mu yang lebih layak. Bukan dengan perjodohan dengan tua bangka yang bernafsu tinggi. Mungkin aku salah menerima pernikahan ini, tapi aku pun tidak mengingin kan jika kamu harus berkorban lebih jauh "Juan, apa kamu di dalam?" teriak mama dengan mengetuk pintu kamar ku dan membuyarkan lamunan ku "Ya maa" jawab ku langsung beranjak turun dari kasur dan membuka pintu kamar "Kenapa maa?" sambung ku dan membiarkan mama masuk ke dalam kamar ku. "Terimakasih" ucapan mama yang begitu tulus  "Kamu sudah mau menikahi faira, dan mama minta maaf jika harus melibatkan kamu dalam persolan yang sedang menimpa faira, mama benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi dan harus meminta tolong kepada sypa lagi" sambung mama paruh dan terdengar suara khas orang yang sedang menahan tangis nya Ku melangkah mendekati mama dan lalu menghamburkan pelukan ku untuk mama, beliau pun membalas nya dan tangis pun pecah mengisi sunyi nya kamar ku. "Sudah maa, ini sudah kewajiban ku sebagai kakak nya untuk melindungi faira, Ya walaupun aku bukan kakak kandung nya, tapi aku sudah menganggap faira seperti adik kandung ku sendiri. Tapi aku hanya takut jika menyakiti nya maa" ucap ku menguak sesuatu yang aku pendam beberapa hari ini Mama yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi nya seolah menunggu jawaban ku. "Aku takut jika faira mempunyai rasa pada ku ma, dengan perlakuan manis yang aku berikan, kadang aku juga berat untuk melakukn nya. Tapi aku juga tidak bisa jika harus cuek terus terhadap nya, karna itu akan tambah sangat menyakiti nya. Semoga faira dapat mengerti maa sampai waktu yang dimana bisa membuat nya bahagia"jelas ku kepada mama yang masih sesegukan menangis dalam pelukan ku. Dan tatapan ku beralih pada sosok gadis kecil ku, faira yang berdiri mematung di depan pintu dengan tatapan sendu yang sulit untuk di artikan,  Faira hanya melebarkan senyuman di bibir nya menandakan bahwa dia baik-baik saja saat ini, lalu faira beranjak pergi meninggalkan tempat dimana dia berdiri. ...... Waktu sudah menujukkan pukul satu dini hari tapi mata faira enggan tertutup untuk terlelap, suara juan selalu bergeming di telinga nya, bahwa juan hanya akan menganggap nya sebagai adik sampai batas prnikahan nya akan berakhir. Kata demi kata yang  berhasil memenuhi Fikiran faira hingga membuat nya begitu frustasi. Faira menyusuri jalan setapak di halaman rumah yang dia tempati saat ini, sulit untuk melupakan kejadian saat juan mencium nya dan memeluk nya hingga akhirnya  faira menyadari bahwa semua itu hanya angan semu untuk dapat memiliki juan seutuh nya. Bukan hal mudah untuk faira menjalani semua ini, fikiran nya sudah begitu penuh, tubuh nya sudah begitu lelah. Faira terlalu takut menghadapi kenyataan yang begitu fana, faira mencoba menyikapi nya dengan lapang d**a walaupun dia sadari ada perdebatan hebat antara dia dan hati nya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang" ucap faira terbata, karna mata nya sudah terasa begitu panas menahan agar tangis itu tidak hadir. Tak terasa tetes rintik hujan turun mengmbasahi faira yang tetap berdiri dan enggan beranjak pergi, karna dalam dekapan hujan lah dia dapat menngis tanpa ada satu orang pun mengetahui nya, walau dia tau bahkan sekarang pun memang tidak ada orang yang berada di dekat nya. Sudah hampir satu jam tpi faira masih setia berdiri menemani hujan yang juga tak kunjung berhenti. Seakan akan hujan pun tau perasaan faira saat ini. Tubuh faira seakan mengejang dia jatuh dan bertumpu pada kedua lutut nya, tubuh nya sudah merasa melemah tak berdaya. Mulut nya seakan berat untuk di buka serasa beku dan mata nya mulai gelap. "Apa yang terjadi pada ku" ucap faira dan seketika semua menjadi gelap Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN