Jarum jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Bocah laki-laki berumur lima tahun itu terbangun karena kegerahan. Ia menggosok-gosok matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang yang berasal dari lampu tidur. Kerongkongannya kering kerontang. Bram kecil menyibak selimut yang menutup tubuhnya. Tangannya meraba-raba meja nakas dan tidak mendapati segelas minuman yang biasanya selalu tersedia di sana. Ia merangkak turun dari tempat tidur, lalu berjalan terseok-seok menuju kamar orang tuanya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Kedua kamar itu dihubungkan oleh sebuah pintu kecil bercat putih. Kedua orang tuanya bisa mengecek keadaannya kapan saja. Semenjak bayi, ia telah terbiasa tidur sendirian dan dilatih mandiri. Pintu tersebut tidak tertutup rapat, melainkan masih menyis

