Angin laut sepoi-sepoi bertiup melewati jendela kaca yang terbuka. Kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu bersandar kelelahan di kepala ranjang. Dua sesi panas telah mereka lalui dengan sukses. Kara mencari destinasi yang akan mereka kunjungi berikutnya di ponselnya. Ia yakin kegiatan tersebut akan lebih sering berakhir di tempat tidur. “Ian ...” panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari benda pipih tersebut. Ian malas-malasan membuka mata. “Hmm?” “Kau mau aku memanggilmu dengan sebutan yang lebih sopan?” “Maksudmu?” “Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan Mas, atau … something like that?” Kara mendadak geli sendiri. “Apa itu penting?” “Tentu saja penting. Aku tidak mau dicap sebagai isteri kurang ajar memanggilmu dengan sebutan nama. Mama akan menggorok leherku.” “Bag

