“Marahnya orang yang sabar itu lebih nakutin.” Suasana siang yang terik tidak menghalangi Qilla untuk segera sampai ke kafe. Baru saja dia selesai kelas pertama, tapi pegawai kafe menghubunginya dan menyuruhnya untuk datang. Qilla yang masih ada kelas lagi tentu tidak bisa, tapi karena keadaan yang mendesak akhirnya dia memilih untuk datang. Pegawai bilang ada beberapa orang yang ingin bertemu dengannya. Qilla melepas helmnya dan bergegas untuk masuk ke dalam kafe. Dia hanya sendiri karena dia melarang Syasa untuk ikut, biar bagaimanpun dia tidak mau jika Syasa harus meninggalkan kelasnya. "Ada apa, Mas?" tanya Qilla pada Anwar, pegawai yang sempat menghubunginya tadi. "Anu, Mbak. Ada yang mau ketemu di ruangannya mas Dewa." Qilla mengerutkan keningnya bingung, kenapa tamunya berani

