"Gue tau lo bakal menang Gen." Revo menepuk pundak Gentala beberapa kali ketika wakilnya itu kembali dengan selamat di garis finish dengan membawa kemenangan, lagi.
Inilah yang membuat Revo begitu mengagumi dan mengandalkan sosok Gentala, pasalnya lelaki itu bisa segalanya. Pintar iya, jago balapan iya, jago berantem juga iya, terkadang Revo ingin sekali turun posisi dan membiarkan Gentala menjadi ketua FIGHTER.
"Iyalah Gentala dilawan, mana bisa!" kata Deno sedikit berteriak, ingin pamer karena lagi-lagi FIGHTER menang telak atas AGOS.
"Ga cape-cape itu bocah ngajak balapan, padahal dia tahu kalau ujungnya bakal kalah juga." Rafael memberikan sebotol air mineral dingin kepada Gentala.
"Selamat Gen! Lagi-lagi lo menang!" sang ketua AGOS datang menghampiri kumpulan FIGHTER. Sebenarnya AGOS ini bukan musuh abadi FIGHTER sih, hanya saja mereka memang sering mengajak bertarung yang pada akhirnya tetap dimenangi oleh FIGHTER. AGOS juga tidak semengerikan itu kok, ketuanya bahkan masih berhubungan baik dengan Revo.
"Makasih bang! Sering-sering ya bang, lumayan hadiahnya buat nafkahin buaya peliharaan." Gentala iseng menepuk leher belakang Deno dan Kiki, hal itu membuat Deno dan Kiki hanya bisa mengutuki Gentala di dalam hati.
"Santai b**o. Lo udah kayak siapa aja sama gue." Tio namanya, menjabat sebagai ketua AGOS selama beberapa tahun belakangan ini.
"Lo gaada niat gantiin Revo, Gen? Tuh anak gue liat-liat udah bosen banget jadi ketua kumpulan buaya lo itu." Tio mengajak mereka untuk masuk ke dalam markas AGOS untuk mentraktirnya makan malam, sudah seperti ritual harian, Tio memang se-random itu. Terkadang dia bisa menjadi musuh terkadang juga bisa menjadi kawan.
"Nggak dulu bang, gue gabisa menandingi wibawa bang Revo."
"Jangan dulu bang, ga kebayang kalau Gentala jadi ketua. Pasti anak buahnya bakal jadi buaya semua." Kiki nyerocos. Dari tadi dia diam karena asik menikmati makanan gratis.
"Lo contohnya kan Ki? Tobat napa Ki!"
"Nggak dulu bang."
Setelah Kiki berkata seperti itu sentak semua temannya melempari Kiki dengan kacang koro.
"Bang, kita gabisa lama-lama di sini, gapapa kan?" tanya Revo kepada Tio.
"Gue juga gamau nampung lo lama-lama di sini, sana cabut!"
Pada akhirnya FIGHTER benar-benar pergi dari markas AGOS. Gentala pergi sendiri dengan motornya, sedangkan yang lainnya pergi bersama dengan mobil Revo. Malam ini sebenarnya mereka sudah merencanakan akan berkumpul bersama untuk program yang akan dilakukan pada bulan selanjutnya.
Program apa? Jadi FIGHTER ini memang memiliki program bulanan khusus untuk beramal, seperti misalnya mereka akan mengunjungi panti asuhan secara rutin, mengadakan bakti sosial dan lainnya. Semua ini berdasarkan usul Rafael, lelaki itu benar-benar menyalurkan kasih sayangnya kepada orang sekitarnya, itulah mengapa teman-temannya juga berlomba-lomba memberikan Rafael kasih sayang yang tidak dia dapatkan.
"Bang, mampir ke minimarket dulu dong. Kacang koro abis."
Dengan perintah tidak jelas dari Deno akhirnya Revo meminggirkan mobilnya di tepi jalanan agar Deno bisa pergi ke minimarket. Hal itu juga membuat Gentala memberhentikan motornya persis di depan mobil Revo. Sepertinya Gentala kesepian karena teman-teman laknatnya itu tidak ada yang mau menemaninya naik kendaraan roda dua, katanya takut masuk angin karena sudah malam.
"Bang, itu Naya bukan sih?" Kiki yang duduk di kursi tengah tiba-tiba menyondongkan tubuhnya kedepan saat melihat perempuan dengan hoodie kebesaran warna abu-abu sedang berjalan seorang diri di trotoar. Pertanyaan Kiki membuat Revo mengikuti arah pandangannya ke arah Naya. Jika dilihat dari proporsi tubuhnya sih benar, mirip seperti Naya.
"Gatau gue, kayaknya iya. Mau samperin?" tanya Revo.
Kiki mengangguk kemudian langsung membuka pintu mobil, pergerakannya juga disusul oleh Revo sedangkan Rafael memilih tinggal di dalam mobil.
Kiki dan Revo berlari kecil menghampiri gadis yang mirip seperti Naya itu. Perlakuan keduanya mendaparkan atensi dari Gentala yang sedang bermain ponsel di atas motornya, dia ikut-ikutan saja dengan Kiki dan juga Revo.
"Woy, lu pada mau ngejar maling ya?" Gentala berbisik di belakang Revo dan Kiki. Sebenarnya dia binggung kenapa temannya itu bersikap seperti penguntit.
"Sttt, berisik lo Gen!"
"Lah, salah aja gue."
Gentala mengalihkan atensinya kepada seorang yang sedang berjalan tidak jauh di depan mereka, seperti seorang perempuan dengan hoodie kebesaran berwarna abu-abu. Gentala tidak tahu gadis itu siapa, dan apa yang membuatnya sampai dikejar-kejar oleh Kiki dan Revo.
Akhirnya Gentala jadi kesal karena dicueki oleh Kiki dan Revo, dia berjalan mendahului mereka berdua dan menarik lengan gadis hoodie abu-abu itu sampai sang empunya lengan berteriak karena terkejut.
"AAA! AMPUN!"
Gentala meringis mendengar teriakan cempreng dari gadis di depannya.
"Bener kan Naya, gue bilang juga apa bang!" Kiki dan Revo langsung berlari menghampiri Gentala dan Naya saat melihat aksi menyebalkan Gentala, padahal maksud mereka kan tidak mau membuat Naya kaget, eh malah dikagetin beneran sama Gentala.
"Loh, kalian? Ngapain di sini?" Naya gugup. Kaget karena dalam pelariannya malam ini dia harus dipertemukan kembali dengan orang-orang yang banyak membantunya hari ini.
"Harusnya kita yang nanya, lo ngapain malem-malem di sini? Sendirian pula? Ga takut diculik Nay?"
Karena sepertinya Kiki yang paling kenal oleh Naya, makanya Revo dan Gentala sama-sama diam. Canggung lebih tepatnya.
"Emm, nggak kok. Aku cuman mau cari udara segar aja."
"Nay, mending lo pulang deh. Ini udah malem banget tau!"
"Ta-tapi-"
"Pulang, cewek ga baik jalan malem sendirian."
Akhirnya suara Gentala terdengar.
"Dianter aja ya Nay?"
Kiki mulai sok baik, padahal dia sendiri nebeng bareng Revo, sok-sokan mau anter Naya pulang. Gentala diam saja, dia tau pasti dia akan menjadi tumbal temannya karena dia mengendarai motor sendiri.
"Tapi, aku ga bisa pulang ke rumah," Naya menundukkan kepalanya dalam, sebenarnya dia takut bercerita, tetapi mau bagaimana lagi. Keadaannya sudah mendesak dan Naya tidak mau kembali ke rumah malam ini, tadi ada sedikit masalah di rumah yang membuat Naya muak sampai akhirnya memutuskan untuk berjalan ke luar saja untuk menghabiskan waktu.
"Loh?"
"Umm, aku pergi aja ya? Kalian lanjutin perjalanan kalian aja."
"Nggak bisa Nay, lo ikut kita aja gimana?"
"Ke mana? Bukannya kalian juga mau ke rumah? Naya gamungkin ikut kalian ke rumah."
"Ke markas kita."
•••
"Non, dicariin sama bapak."
Naya menghela napasnya lelah. Baru saja menginjakkan kaki di depan rumah, tau-tau sudah dihampiri oleh bibi dan sebentar lagi dia akan menghadapi ajalnya. Sial, kenapa ayahnya tidak pergi saja? Bukannya maksud mengusir, tetapi rasanya hidup Naya tidak bisa tenang jika harus dipertemukan oleh ayahnya apalagi jika ada sang provokator, Dimas.
Akhirnya dengan langkah penuh keterpaksaan, Naya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang tamu di mana sudah ada ayah dan Dimas di sana. Naya menghela napasnya berat, jika sudah ada Dimas, matilah dia.
"Ada apa ayah?"
Pamungkas bangkit berdiri kemudian berjalan menghampiri anak perempuannya dan menarik lengan kurusnya itu kasar. Perlakuan kasar itu tentu saja membuat Naya terkejut sampai ngantuknya hilang, apalagi saat merasakan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Aws,"
Naya meringis ketika merasakan tubuhnya terbentur dinding yang kasar dan keras. Ayahnya itu sengaja sekali melempar dirinya ke arah dinding sehingga ngilunya langsung berasa sampai ke tulang.
"Anak tidak tahu malu. Sudah disekolahkan mahal-mahal malah seenaknya telat masuk, jika tidak ada Dimas yang melaporkan hal ini kepada ayah maka ayah tidak akan tahu kelakuan kamu di sekolah, Naya!"
Naya bisa melihat wajah ayahnya itu sudah mengeras dan memerah menahan amarah, hal itu membuat Naya takut. Takut jika setelah ini luka di tubuhnya bertambah lagi karena perlakuan kasar ayahnya. Lagi pula, Dimas ini benar-benar ingin dimaki, mulutnya seperti cewek saja, aduan sekali.
"Ayah, Naya minta maaf. Tetapi Naya punya alasan kenapa Naya telat tadi pagi, ayah."
"Tidak. Saya tidak mau mendengar omong kosong kamu. Lebih baik kamu masuk ke kamar dan jangan menampakkan wajah kamu di depan saya lagi sampai saya pergi besok!"
Hati Naya sakit, seperti ditusuk oleh pisau tak kasat mata. Gila, perkataan ayahnya itu menyakitkan sekali.
Akhirnya dengan kaki gemetar Naya berusaha bankit dari bersandarnya dan berjalan pelan menuju kamarnya. Tubuhnya yang baru saja dilempar sang ayah dan mengenai dinding sepertinya mengalami benturan di lengan dan juga tulang keringnya. Pasti akan memar nantinya.
Tetapi sebelum Naya masuk ke dalam kamarnya dia melihat Dimas yang juga melihat ke arahnya. Entahlah, rasanya dia ingin menghujat adiknya itu, tetapi tidak bisa. Naya begitu menyayanginya, seburuk apapun Dimas kepadanya.
Ah, ada ide melintas di kepala Naya. Berhubung ayahnya akan pergi besok, alangkah baiknya jika dia pergi berkeliling malam ini, mungkin udara malam akan baik untuk mengatasi suntuknya. Dikhawatirkan? Tidak perlu dipikirkan, bahkan Naya yakin sekali tidak akan ada yang mencarinya, walau Naya hilang selama berbulan-bulan pun. Naya yakin sekali.
Dengan berbekal uang jajannya yang tersisa sedikit dan mengenakan hoodie abu-abu pemberian Bakara, Naya berjalan keluar dari rumah. Awalnya kepergian Naya mendapat cekatan dari bibi, tetapi Naya berhasil keluar dari rumah walau dengan kata-kata rayuannya.
Malam ini udara tidak begitu panas, banyak angin yang Naya rasakan sampai ke dalam kulit walau dia memakai hoodie tebal warna abu. Tidak apa, Naya justru senang ketika angin menyapu wajah dan rambutnya, rasanya seperti angin itu ingin juga membawa sial dan beban hidupnya.
Sejak dulu, Naya memang sudah mendapatkan kebencian seperti ini, hanya saja dulu ayahnya belum berani bermain fisik dengannya. Tetapi seiring bertambahnya umur Naya, ayah juga berubah. Ayahnya jadi lebih sering bermain fisik dengannya, mulai menendang, melempar, menampar, menjambak dan hal mengerikan lainnya.
Tetapi sekarang, itu menjadi hal biasa yang akan Naya terima. Lagi pula siapa yang ingin membelanya? Tidak ada. Ingin mengandalkan Bakara pun tidak bisa, abang kesayangannya itu sudah sibuk dengan kehidupannya yang semakin dewasa, Naya tidak mungkin mengganggunya terus.
Maka dari itu Naya benar-benar mengupayakan hidupnya sendiri, menjadi mandiri sekaligus menjadi orang yang menyedihkan.
Sungguh, Naya sering sekali berpikir jika dia ini hanyalah sebuah kesialan dan orang yang sangat menyedihkan.
"AAA! AMPUN!"
Naya refleks berteriak saat merasakan tarikan kencang pada lengannya. Padahal lagi asik melamun sambil menceritakan betapa menyedihkan dirinya, eh ada saja yang mengganggunya.
"Loh, kalian ngapain di sini?" Naya heran saat melihat Gentala, Kiki dan juga Revo di belakangnya. Lebih terkejut lagi saat melihat tangan Gentala masih bertengger di lengannya.
"Harusnya kita yang nanya, lo ngapain di sini?" Kiki bertanya kepada Naya.
Duh, Naya jadi binggung. Tidak mungkin kan dia menceritakan kisah kaburnya malam ini, tetapi mau bagaimana lagi. Naya gamau sampai dipaksa untuk balik ke rumah sedangkan dia pergi dengan penuh perjuangan.
"Aku, aku gabisa pulang ke rumah."
"Ikut kita aja Nay? Mau?"
Naya binggung. Ikut ke mana ya Bukan ke tempat aneh-aneh kan? Semoga saja tidak.
"Ke mana?"
"Markas kita. Lo ikut Gentala ya Nay, oke?"
Belum sempat Naya menjawab tau-tau tangannya sudah ditarik oleh Kiki dan mengantarkannya ke depan motor besar milik Gentala. Tubuh Naya jadi kaku, dia takut Gentala tidak akan suka dengan kehadirannya.
"Umm, gapapa ini? Aku takut ganggu kegiatan kalian."
"Nggak kok Nay," ujar Kiki. "woy Gentala! Buruan ke markas, gue udah laper banget!"
Dan ya, Naya berakhir menghabiskan malam kaburnya ini dengan menginap di markas FIGHTER. Naya belum tahu mengenai geng itu, hanya saja dia pikir markas-markas itu tempat menyeramkan seperti di film-film, tenyata dia salah. Jika markasnya bagus dan bersih seperti ini, Naya mah jadi betah. Apalagi saat di sana dia malah disungguhi banyak makanan sampai perutnya begah.
Ohiya, yang lebih terkejutnya adalah saat Naya tahu mereka adalah anggota inti FIGHTER, Naya pernah mendengarnya sekali dari Dimas. Saat itu adiknya merayu Bakara untuk mengizinkan dia ikut seleksi penerimaan anggota baru, tetapi Bakara tidak mengizinkannya. Naya juga kaget saat mendengar rapat mereka malam ini yang berhubungan dengan acara amal bulanan, Naya tidak menyangka jika geng-geng seperti ini akan berbuat hal baik, dia pikir hanya melakukan hal buruk saja.
Tidak tahu mengapa, Naya tidak lagi takut dengan mereka. Mungkin lebih tepatnya tidak takut dengan Kiki dan Deno sih, sisanya Naya masih canggung plus takut banget.
Tetapi Naya benar-benar merasa aman, terlebih ketika Revo mengantarkannya ke dalam kamar tamu yang bersih dan nyaman, ingin sekali rasanya Naya pindah ke sana, tetapi tidak mungkin bukan? Naya bahkan bukan siapa-siapanya mereka.
Baiklah, Naya akan beristirahat dan kembali besok setelah ayahnya kembali pergi. Maaf jika Naya sudah menjadi anak durhaka hari ini, tetapi Naya benar-benar merasa tenang.
Ya, sangat tenang dan aman.
•••