Gentala memutar balik tubuhnya ketika merasa ada yang kurang darinya, dia baru ingat jika gadis tadi bisa saja kena masalah karena berkeliaran di sekitar sekolah pada jam pelajaran. Maka dengan segala kebaikan dan kebesaran hatinya, Gentala harus merelakan jadwal rutin makan di kantin karena merasa kasihan.
Tetapi saat langkah kaki Gentala dibawa kembali ke tempat awal di depan pintu rahasia, Gentala tidak melihat keberadaan gadis pendek itu. Dahi Gentala mengernyit, cepat sekali langkahnya? Kira-kira ke mana perginya gadis itu?
"Loh aneh, belum semenit gue tinggal." Gentala menggaruk leher belakangnya yang sebenarnya tidak gatal. Pada akhirnya Gentala melangkahkan kakinya sekali lagi ke depan untuk memastikan keberadaannya.
Mata Gentala akhirnya tidak sengaja melihat tas hitam milik gadis tadi berada di balik rerumputan. Kenapa tasnya di sana?
"WOY!" Gentala hampir saja berlari kabur ketika melihat tubuh gadis itu sudah tergeletak di bawah dan sebagian tubuhnya itu tertutupi tasnya yang lumayan besar, pantas saja Gentala tidak bisa mengenalinya.
"Woy lo kenapa?" jari telunjuk Gentala menyentuh pelan bahu gadis itu, ohiya Gentala baru ingat namanya. Naya.
"Naya? Lo ngapain tidur di sini?"
Aneh sekali, pikir Gentala. Ada tempat sejuk seperti UKS dan kursi koridor, tetapi mengapa Naya memilih tidur di bawah rumput.
"Ck, nyusahin aja lo. Baru juga kenal udah nyusahin dua kali aja!" Gentala berdecak kesal sebelum berjongkok di depan wajah Naya. Jika dilihat dari napasnya yang teratur dan wajahnya pucat, Gentala dapat pastikan jika gadis ini sedang tidak sadarkan diri.
Tahu dari mana? Ya Gentala kan pintar, secara dia anak Ipa sedangkan teman-temannya yang lain anak Ips.
"Harus gue apain ya? Gendong gitu?" tanya Gentala pada dirinya sendiri.
"Apa gue tinggal aja?"
"Aduh tapi kasihan."
"Yaudah deh."
Dengan berat hati, Gentala harus merelakan tenaganya untuk mengangkat tubuh Naya yang sebenarnya tidak begitu berat sih, tetapi tetap saja memakan banyak tenaga karena jarak dari tempatnya sekarang menuju UKS cukup jauh.
Untung saja koridor sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung, jadi Gentala tidak perlu menjadi pusat perhatian karena tindakannya yang heroik ini.
Saat Gentala ingin masuk ke dalam UKS dia melihat Gita sedang melintas di sana.
"Gita!" panggil Gentala. Sedangkan yang dipanggil langsung tersenyum sumringah dan menghampiri Gentala.
"Gentala, kamu ngapain? Ini siapa?" tanya Gita binggung saat melihat Gentala menggendong perempuan. Tidak biasanya Gentala berinteraksi dengan perempuan.
"Naya, lo kenal kan? Tolong urus dia dulu ya, gue laper banget mau ke kantin." Gentala berjalan masuk ke dalam sekat ruangan dan meletakan Naya di atas brankar. Gentala sedikit meringis merasakan lengannya yang kebas.
"Tolong beliin dia makan sama minum habis dia bangun, titip dulu ya Gita, thanks." Gentala tidak lupa memberikan selembar uang merah kepada Gita sebelum menepuk pundaknya dan berlari menuju kantin.
Sedangkan Gita dibuat terheran-heran, mengapa Gentala baik sekali kepada Naya? Setelah tadi mengantarkannya ke UKS dan sekarang menyuruhnya membelikan makanan untuk Naya, apakah Gentala ada hubungan ya dengan Naya? Pikir Gita.
Tidak lama Gita menunggu sambil memainkan ponselnya di kursi tunggu akhirnya Naya menunjukan pergerakan. Gita langsung buru-buru mematikan ponsel dan menghampiri Naya, tidak lupa membawakan seporsi makanan dan minuman seperti yang diperintahkan oleh Gentala.
"Naya? Kamu gapapa? Muka kamu pucet banget." Gita memijat pelan bahu Naya.
"Aku di UKS ya Gita? Ko aku bisa di sini? Seinget aku terakhir kali aku ga sengaja tidur di atas rumput?" Naya yang baru saja bangun langsung merasakan pusing tujuh keliling melandanya, ditambah sekarang perutnya melilit.
Gita cemas, tidak tahu harus menceritakannya atau tidak, ceritakan saja lah ya?
"Umm, tadi kamu dianterin sama Gentala ke sini, dia nggak bilang apa-apa lagi sekalin minta tolong sama aku untuk beliin kamu makanan." Gita menyerahkan seporsi nasi goreng yang tadi dibelinya di kantin dan sebotol air mineral.
"Gentala? Gentala anak sebelas Ipa 2 itu kan?" tanya Naya binggung. Padahal tadi Gentala sudah pamitan ingin pergi ke kantin dulu.
Gita mengangguk. "Iya Gentala, aku baru pertama kali lihat dia sedekat itu sama perempuan, kamu dekat sama dia ya Nay?"
Alis Naya mengernyit binggung.
"Aku gapernah dekat sama orang di sekolah ini Gita, baru kamu satu-satunya orang yang perhatian sama aku." Naya tersenyum. Dia sungguh-sungguh terharu, hal ini merupakan momen langka selama kehidupannya di sekolah.
"Oh gitu Nay, emm, berhubung kamu udah bangun, kamu bisa aku tinggal kan? Kebetulan aku harus balik ke kelas." Gita sebenarnya tidak enak meninggalkan Naya seorang diri di dalam UKS, tetapi dia tidak punya pilihan lain karena harus melanjutkan pembelajarannya.
"Gapapa kok Gita, kamu balik aja ke kelas. Lagi pula aku bisa urus diri aku sendiri kok, makasih banyak ya Gita udah mau temenin aku."
Gita tersenyum sebelum menepuk pundak Naya dan meninggalkan Naya sendiri di dalam UKS.
Naya yang ditinggalkan kemudian melanjutkan makannya dengan sedikit tergesa. Bohong jika Naya bilang dia tidak lapar padahal dari semalam perut Naya sudah keroncongan minta diisi. Naya akan berterimakasih kepada Gentala juga setelah ini karena telah mengantarkan dan memberikannya makanan.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Naya beranjak perlahan dari atas brangkar dan berjalan keluar UKS. Sudah cukup waktunya beristirahat, sekarang Naya harus kembali ke dalam kelasnya.
Tetapi di tengah perjalanan Naya kembali mendapatkan kesialannya. Dia harus kembali dihadapkan oleh ketiga perempuan yang paling Naya ingin hindari, kenapa lagi coba? Perasaan Naya belum ada berbuat kesalahan hari ini.
"Halo cewek gatel." Kia maju selangkah menghadang jalan Naya.
"Ada apa ya?" Naya mundur selangkah. Jujur saja dia takut diperlakukan seperti kemarin, ngilu mengingat sakitnya.
Kia maju lagi mengikuti langkah Naya kemudian pada langkah selanjutnya dia mendorong bahu Naya tanpa perasaan.
"Lo bisa bilang ada apa? Lo gasadar udah berani deket-deket sama Gentala hah?!" Kia berjongkok di hadapan Naya sebelum tangan dengan kuku panjangnya itu menarik rambut Naya dengan kasar. Tindakannya itu didukung dengan kedua temannya yang ikut melempari Naya dengan tepung terigu dan air yang Naya tidak tahu terbuat dari apa tetapi baunya sangat membuat Naya mual.
"Rasain lo cewek gatel!" cerocos Salsa. Mata Naya memerah menahan perih dan juga tangis, tetapi Naya tidak ingin menjadi lemah di depan mereka. Naya ingin berani tetapi tidak tahu bagaimana caranya.
"Lo inget ya tuli, gue gapernah main-main sama perkataan gue. Jauhin Gentala dan gue akan berhenti gangguin lo, gue gasuka Gentala dideketin cewek gatel dan jelek kayak lo!" ucap Kia sambil mencengkram erat wajah Naya dengan kuku panjangnya, hal itu cukup membuat beberapa goresan di pipi dan dagu Naya.
"Kalau kita lihat lo gangguin cowok Kia lagi, lo akan dapat akibatnya!"
Setelah perkataan Sila selesai, ketiganya beranjak dari hadapan Naya. Naya tidak menangis pada akhirnya, hanya saja hatinya sangat sakit. Memangnya Naya seburuk itu ya di mata mereka?
Dengan tangan bergetar Naya menyingkirkan tepung yang menghalangi pandangannya. Bagaimana bisa Naya belajar jika penampilannya sekacau ini?
"Woy! Hahahaha lo ngapain di sini?" Naya mendongakkan kepala ketika mendapat tepukan pelan di bahunya. Ah Naya ingat, dia kan Deno.
Ternyata keberadaan Deno disusul dengan ke tiga temannya yang lain. Naya ingat, ada Kiki, Rafael, dan juga Gentala. Huh, lelaki itu yang menjadi alasan kekacauan Naya hari ini.
"Lah, Naya?" tanya Kiki yang kemudian lelaki itu ikut jongkok di depan Naya.
"Lo kenapa Nay? Kok bisa gini?"
Naya menggelengkan kepala. Dia tidak mau lagi kena masalah, jika Naya berkata jujur bisa-bisa besok mungkin kaki Naya akan dibuat patah oleh Kia dan teman-temannya.
"Wah, gabener nih! Gaterima gue, temen baru gue diginiin!" Deno bergerak seperti cacing kepanasan sambil berkacak pinggang.
Hati Naya menghangat mendengarnya. Teman? Apakah benar Naya dianggap teman oleh Deno dan lainnya?
"Nay, gapapa kok kalau belum mau jujur, gue anterin bersih-bersih ke toilet ya?" Kiki benar-benar perhatian kepada Naya. Memang Kiki orangnya aneh, tetapi dia akan menjadi orang pertama yang maju jika temannya diganggu.
"Yah, modus lo Ki!" Deno mendorong kepala Kiki sampai pemiliknya berdecak kesal.
"Bukan gitu b**o. Ini kasihan banget Naya, tolongin napa lol!"
"Yaudah iya. Ayo Nay." Deno membantu Naya berdiri dengan menarik pelan lengan Naya. Hal itu tidak luput dari pergerakan Kiki yang juga memegang lengan Naya di sisi satunya.
Naya tersenyum lebar, ini saatnya dia punya teman? Apakah akan menjadi petaka atau sebaliknya? Naya tidak tahu juga.
"Lo kenal dia Gen?" tanya Rafael pada sosok dingin yang berdiri di sampingnya. Dia diam saja berjalan di belakang Kiki dan Deno yang sibuk membantu Naya menuju kamar mandi.
"Kenal, temen sekelas gue. Kenapa Raf?"
Rafael menggelengkan kepalanya. "Gapapa, cuman kasihan aja. Gue tahu siapa dalangnya."
•••