Tatapan itu penuh hasrat. Penuh kata-kata yang belum sempat terucap. Didit mendekat sedikit, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Ana. Bibir mereka nyaris bersentuhan. *** Rumah Ana berdiri di ujung gang sempit, terpisah beberapa meter dari bangunan dua lantai tempat ia menyewakan enam kamar kost. Tiga kamar di lantai dasar, dan tiga kamar di lantai dua. Ia menyukai jarak itu, cukup dekat untuk mengawasi, tetapi cukup jauh untuk menjaga rahasia. Didit adalah penghuni salahsatu kamar kost. Penghuni lainnya Darto, Tirta, Puka, Santa, dan sepasang suami istri Susan dan Rido. Didit menempati kamar nomor lima. Usianya dua puluh enam, bertubuh tinggi, tegap, dengan kulit legam bersih khas lelaki yang rajin olahraga. Bahunya bidang, tangannya kekar, dan wajahnya selalu berseri-seri. Ia

