Mirna hampir tak sanggup lagi menyembunyikan gejolak yang meluap dalam dirinya. Ada letupan rasa bersalah, tapi juga ada kenikmatan yang tak terukur. *** Malam demi malam, Mirna sulit tidur. Ia sering berbalik gelisah di ranjang, sementara Johan terlelap di sampingnya. Tatapannya jatuh pada langit-langit, lalu turun ke arah perutnya yang masih rata. Di sana ada kehidupan baru, sebuah anugerah yang diharapkannya selama bertahun-tahun, tetapi kini lahir dari rahasia gelap. Tangannya mengelus perutnya pelan, bibirnya berbisik lirih, seolah kepada bayi yang belum bisa mendengar. “Anakku… Ibu sedang menyiapkan cara agar keberadaanmu tidak menimbulkan persoalan. Ampuni Ibu…” Hari yang ditentukan makin dekat. Mirna semakin cemas. Ia menyiapkan setiap detail: pintu balkon yang akan sengaja

