Mirna merasakan tubuhnya bergetar dalam pelukan itu. Ada rasa malu, tapi juga sebuah kepuasan tersembunyi. Ia akhirnya memiliki apa yang selama ini ia rindukan. *** Sejak pagi, Mirna sudah menyiapkan hati. Ia ingin menyampaikan kabar besar itu kepada Johan: kehamilnnya. Perasaan bahagia membuncah, bercampur dengan keyakinan bahwa suaminya pasti akan senang, bahkan mungkin menangis bahagia. Sebab, sudah sekian lama suaminya sangat menginginkan kehadiran seorang anak di tengah rumah tangganya. Dan saat yang dinantikan pun tiba. Sore hari, sepulang kerja, Johan terlihat letih, tapi tatapannya lembut. Johan dan Mirna makan bersama di ruang makan apartemen. Mirna sudah hampir membuka suara, namun Johan lebih dulu menaruh sendoknya dan menatap istrinya dengan sungguh-sungguh. “Mirna…” uc

