Ana diam. Ia membiarkan tubuhnya disentuh, dijelajahi, seolah sedang membiarkan diri hanyut dalam arus yang tak bisa lagi ia lawan. *** Beberapa hari terakhir, Ana merasa dirinya berbeda. Setiap pagi saat membuka mata dan menatap wajah Rudi di sebelahnya, ada rasa yang tumbuh dari tempat yang tak ia kenali. Bukan sekadar rindu atau cinta lama yang disegarkan waktu, tapi sesuatu yang muncul dari rasa bersalah, penyesalan, dan hasrat untuk menebus. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil: kemeja Rudi yang setrikaannya tak boleh berlipat, sarapan yang ia siapkan dengan lebih telaten, bahkan kehangatan ciuman pamit yang kini ia sambut dengan lebih tulus. Semua itu adalah caranya meminta maaf… tanpa harus mengucapkan satu kata pun. Namun, satu hal masih menjadi duri kecil yang terus mengusik

