Bab 13 Gagal Menghabisi Mertua

1884 Kata
Karla tergesa berjalan di bangsal VVIP Bella Hospital, dia geram sekali, harus bertemu Iqbal, minta pertanggungjawaban pria itu yang membuat Mila melakukan percobaan bunuh diri sebab Eric menolak menikahi Mila. Sekarang putrinya itu berada dalam observasi dokter di IGD. Dia yakin semua ini karena Iqbal. ‘Arghh!’ geram hati dia, ‘Dasar mertua pilih kasih. Dia selalu membuat hidup Nina bagus, tidak melakukan itu ke hidup anakku.’ Dirutuki sang mertua. Langkah dia berhenti sebab melihat di depan kamar perawatan sang mertua ada dua ajudan berjaga. ‘Sial!’ rutuknya kesal, ‘Kapan sih dia tidak dijaga ajudan?’ Saat bersamaan dia melihat Darian berjalan menuju kamar Iqbal membawa buket bunga. Gegas, dia menghadang pria itu. “Tuan,” ditegurnya sambil memasang senyum manis, “Maaf, apa Anda hendak membesuk Papa Iqbal yang dirawat di sana?” tanyanya karena Darian memandang dia dengan heran, lantas menunjuk pintu kamar Iqbal. “Benar, Nyonya. Saya hendak mengantar buket bunga dari atasan Saya untuk beliau.” “Ah!” seru Karla paham, “Maaf, Papa mertua sedang istirahat, jadi biar Saya saja yang mengantar buket bunga dari atasan anda, Tuan.” Dia menawarkan jasa baik ke Darian. “Anda siapa?” “Saya Karla Ramlan, menantu kedua Papa Iqbal.” Darian paham, kedua mata dia mengamati si nyonya diam-diam. ‘Jadi ini, Nyonya Kedua istri Tuan Damar?’ tanya hatinya, ‘Ish, manusia ini culas seperti Nyonya Melda.’ Dia merasa karakter Karla sama seperti Melda. “Tuan.” Karla menegur si asisten. Darian menghela napas, diberikan buket tersebut ke tangan Karla, ingin tahu apa yang akan si nyonya lakukan dengan buket itu. Dia merasa sang nyonya mau melakukan kejahatan, terlihat dari sikap perempuan itu yang mendadak menghadang dia. “Terima kasih, Tuan.” Karla menjadi senang, “Baik, Saya antar buket ini ke Papa Iqbal ya.” Bergegas meninggalkan si asisten. Darian mengeluarkan ponsel dari saku kanan celananya, diakses menu SCOUT, karena tanpa Karla sadar, dia menempelkan chip penyadap dipermukaan gelang keroncong ditangan si nyonya. Dia dan semua asisten di keluarga Duarte menyimpan beberapa chip penyadap di rantai arloji mereka. Jika merasa situasi perlu diintai, tangan mereka yang sudah terlatih, cepat melepas satu chip dan menempelkan ke target yang ingin dipantau. Karla dengan santai masuk ke dalam kamar, tersenyum melihat Iqbal sedang tidur memakai masker oksigen. Kamar ini sepi, karena Damar, Fitri, dan Nina ke ruang dokter Fadel untuk membicarakan mengapa si opa merasa jantungnya berdebar lebih cepat, dan sesak napas pula. Padahal di Singapura sudah dipasang ring kedua. Sedangkan di luar kamar, Steven dan Peter menuju kamar Iqbal, di mana asisten menenteng sekeranjang buah segar dan shopping bag berisi oatmeal dan s*** non kolesterol. Semua itu untuk si opa, yang bakal menjadi calon kakek mertua sang CEO. Saat itu mereka melihat Darian tidak jauh dari kamar sang kakek. Segera di dekati. “Darian.” Steven langsung menegur asisten Sabina tersebut, “Kamu kenapa di sini?” tanyanya karena heran mengapa sang asisten bisa di sini, “Bukannya Kamu menjaga Oma?” Darian belum menjawab, sebab kedua mata dialihkan ke pintu, dari sana Karla keluar dengan tergesa. Setelah si nyonya melewati mereka, dia cepat mendekati dua ajudan. Steven dan Peter bergegas menyusul pria itu sebab melihat kepanikan di wajah asisten Sabina tersebut. “Kalian berdua!” serunya dengan suara panic, “Lekas panggil dokter jaga untuk menolong Tuan besar kalian!” diturunkan perintah. “Anda ini siapa?” tanya Piko salah satu ajudan tidak mengenal Darian. “Tidak penting Kamu kenal saya.” Darian segera menerobos masuk ke dalam kamar, “Tuhanku!” pekiknya menemukan Iqbal megap-megap dan berusaha turun dari bed, “Lekas panggil dokter jaga!” jeritnya lantang sambil menahan tubuh si opa agar tidak turun dari tempat tidur. *** Damar dan Nina tergesa ke kamar tempat Mila dirawat. Wajah mereka thunder strom, karena Darian menceritakan kejadian Iqbal kolaps. Sang kakek saat ini dipindah ke ICU agar dibersihkan aliran darah dari obat inject yang adalah obat pemacu jantung. Jika saja Darian tidak menyadap Karla, mungkin nyawa si kakek melayang. Begitu berada di dalam kamar. “Karla!” seru Damar lantang memanggil istri keduanya. Sang istri yang sedang menyuapin makanan ke mulut Mila terkaget, segera meletakan piring ke bufet disebelah ranjang, tergesa menghampiri suaminya yang datang bersama Nina. “Ada apa, Pa?” Satu tamparan keras mendarat di wajah cantik sang istri, hadiah dari suaminya. “Akh!” pekik Karla kaget. Untuk kedua kali ditampar sang suami. Mila pun terkaget, langsung ciut, pikiran pun berkecamuk, bertanya-tanya apakah sang ayah menampar ibunya karena dia melakukan percobaan bunuh diri? “Kamu,” Damar menatap sengit si istri yang memegangi pipi, “Mau membunuh ayahku, Karla?” tanyanya. Karla terkesiap, lantas, “Papa bicara apa sih?” dia pura-pura tidak mengerti pertanyaan sang suami. Damar segera mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana panjang, diperlihatkan ke sang istri. Perempuan itu terkejut karena itu adalah botol obat inject dan syringe yang digunakan untuk melenyapkan nyawa Iqbal. “Itu apa, Papa?” tanya dia pura-pura tidak paham mengapa diperlihatkan kedua barang tersebut. “Masih berani bertanya ini apa, hmm?” Damar menjadi geram, “Kamu gunakan ini untuk memacu lebih cepat jantung Papa, agar Papa meninggal dunia!” Karla terkaget, lantas kembali berkelit, “Papa jangan sembarangan bicara! Mama sedari tadi menemani Mila.” Mila mendengar semua ini terkaget, dipandang sang ibu. Sejauh yang diketahui, ibunya tidak berani melakukan aksi percobaan pembunuhan ke Iqbal. Ini pun karena sang kakek tinggal di Singapura. Kalau pun ke Jakarta, yang menemani hanya Damar dan Fitri. “Mama!” sela Nina memandang Karla, “Mama ada masalah sama Nina kan?” Karla terkesiap diberi pertanyaan itu, “Maksud Kamu apa?” “Mila berusaha bunuh diri karena Eric menolak menikahi dia dua hari lagi.” Sang ibu terkaget, menghela napas, “Itu memang masalah, tapi pasti Mama mencarimu, bikin perhitungan ke Kamu.” ditatap sang anak tiri, “Untuk apa Mama menyingkirkan Opa Kamu seperti yang dituduhkan Papamu.” Dilirik Damar yang sedikit menahan geram. “Mama,” Nina menyebut nama si ibu, “Mama mendatangi Opa, minta pertanggungjawaban beliau, karena menyuruh Papa segera menikahkan Mila sama Eric. Tapi kenyataan, Eric menolak Mila. Kemudian Mama lihat Opa tidur, maka Mama berpikir untuk menghabisinya, sebab beliau membuat Mila ditolak Eric.” Karla terhenyak, tidak menyangka Nina mampu menganalisa cepat penyebab dia melakukan aksi ingin membunuh Iqbal. “Karla!” Damar menegur sang istri, “Anakmu sendiri yang cari masalah, main gila sama calon tunangan anakku.” Ditunjuk Mila yang menjadi ciut melihat dia, “Jika Kami memaksa Eric menikahi Mila, itu kewajaran. Lantas ternyata Eric menolak Mila, bukan kesalahan Kami. Mengapa Kamu menyalahkan Kami, terutama ayahku?” Karla terkaget, lantas menghela napas, “Papa, Papa Iqbal pilih kasih. Beliau mampu membuat acara pertunangan itu batal, mengapa membuat Eric tidak membatalkan menikahi Mila.” Dilepas semua sesak hati saat ini, “Papa lihat Mila!” ditunjuk Mila yang merundukan kepala takut melihat pertengkaran ini, “Dia mencintai Eric, tapi dilepeh Eric. Dia pun mencoba bunuh diri.” segera mendekati si anak, diraih tangan putrinya yang diperban. Gegas, Nina mendekati Mila, direbut tangan si adik, lantas dengan kasar menarik perban hingga terlepas dari tangan sang adik. “Akh!” pekik Mila kesakitan, “Nina!” dipelototin si kakak yang mengecek tangannya itu. “Tanganmu halus ya.” Nina membalas dengan tatapan sinis, “Tidak ada bekas sayatan silet.” Mila terkesiap, cepat menarik tangannya dari pegangan si kakak, tapi sang kakak malah mengacungkan ke udara. “Papa!” seru kakaknya ke Damar, “Lihatlah, betapa mulusnya pergelangan tangan Mila.” Damar dan Karla cepat menghampiri, lantas bersama mengamati pergelangan tangan anak mereka. Tangan itu mulus tidak ada bekas sayatan silet. Setelah itu berbarengan memandang si anak. Mila menjadi ciut. Ketahuanlah kebohongan dia. Dia memang ingin bunuh diri, tapi melihat tajamnya pisau silet menjadi takut. Saat bersamaan masuk Isa mencari dia. Dia segera minta sang pengasuh membantu bersandiwara menemukan dia tergeletak bunuh diri di lantai. Sampai di rumah sakit, disuruhnya Pepen menyogok dokter IGD agar mendukung sandiwara itu. Tujuan dia agar Damar menghukum Nina karena membuat dia bunuh diri. Nina menghela napas, dikeplak kepala si adik. “Kalau bikin sandiwara,” ujarnya sinis menanggapi mata adiknya melototin dia saat ini, “Sewa pemain yang berpengalaman, jadi lakonmu sukses.” Dihempas tangan sang adik yang sedari tadi diacungkan ke udara. “Kamu tahu dari mana semua ini lakonku?” Mila kena pancingan Nina. “Nina, jawab Aku!” Nina hanya tersenyum sinis. Dia tahu dari Pepen, sebab sang ajudan merasa dia dalam bahaya. Lantas si ajudan juga memperlihatkan rekaman cctv kejadian itu. Sang kakak mengeplak lagi kepala Mila, “Tidak perlu kujawab!” dialihkan pandangan ke Karla, “Mama Karla, bersiaplah menginap di jeruji besi.” “Kau!” Karla naik pitam, hendak menerjang Nina, tapi dihalangi Damar, “Papa minggir!” dihardik suaminya, “Mama harus kasih pelajaran ke anak kesayanganmu itu! Aku ini ibunya, berani sekali dia kurangajar ke Aku!” Damar menjadi kesal sebab si istri tidak mengakui melakukan percobaan pembunuhan ke Iqbal, didorong tubuh sang istri hingga tersuruk ke tempat tidur, menimpa kedua kaki Mila. “Akh!” pekik kedua perempuan itu berbarengan. Pria ini menghela napas, lantas ditatap keduanya. “Kali ini Saya masih mengampunin Kalian. Tapi lain waktu, Saya habisi kalian! Jangan ganggu ayahku, Fitri, dan Nina. Kalian dengar itu?” Karla dan Mila yang ketakutan saat ini menganggukan kepala berbarengan. Setelah itu Damar membawa keluar Nina dari kamar. Karla cepat mengambil satu bantal, dilempar ke arah pintu, diteriaki suaminya dengan kesal. “Papa! Kamu tidak adil ke Kami! Kamu hanya perduli sama mereka bertiga!” *** Steven mengamati Nina yang duduk sendirian di belakang tepi dinding menara rumah sakit ini. Sang nona tengah menenangkan diri setelah mengalami banyak kejadian. Pria ini tahu karena mencari si nona ke Gandy. ‘Tuhanku,’ bisik hati pria itu sambil duduk di sisi si nona, ‘Jika gadis ini benar Nina kecilku, aku berterima kasih, Engkau mengembalikan dia ke aku. Jika pula gadis ini Bella Duarte cucu Omaku, aku bersyukur sebab Oma sudah menemukan cucunya yang hilang.’ Nina mulai tersadar ada orang lain disisinya, tapi bukan Damar atau Gandy. Hidungnya pun mencium aroma parfum, lantas menghela napas. ‘Buaya darat ini lagi.’ dia mengenali siapa yang disisinya. Penciuman dia sangat peka dan langsung hapal wangi apa atau wangi siapa. ‘Ngapain sih dia membuntutiku terus?’ kesal ke cucu Sabina itu. Steven tersenyum geli melihat raut wajah si nona berubah, meski tidak melihat ke dia. Pelan jari telunjuk tangan kanan mencolek lengan nona tersebut. Nina tidak memperdulikan, tetap memandang ke depan. Sang CEO kembali tersenyum geli, dicolek lagi lengan itu, tapi tetap tuan putri tidak merespon. Maka sekarang dicolek-colek lebih dari sekali. Nina menjadi gemas, memutar setengah badan, lantas cepat menjitak kening Steven, dipelototin pula pria itu yang terkekeh-kekeh geli. “Buaya darat!” dia memanggil pria itu buaya darat, “Genit banget sih nyolek-nyolek?” dimarahin pula. “Kalau tidak begitu,” sahut Steven santai, “Kamu tidak melihatku kan?” “Untuk apa Aku melihatmu?” Nina memasang wajah garang. “Aku tampan loh.” Steven menunjuk wajah tampan dia, “Hatimu pasti senang melihat wajahku ini.” Dia memainkan sedikit kedua mata turun naik. Nina menggigit sedikit bibirnya, didorong kesal pria itu, membuat cucu Sabina mental ke luar tepi menara. “Astaga!” pekik dia terkaget melihat ini, “Steven!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN