Steven dan Peter datang ke kamar perawatan Sabina, di mana sang CEO menenteng shopping bag berisi makanan kesukaan Sabina.
“Oma!” pria ini segera mendekati sang nenek, lantas mencium saying kedua pipi neneknya, baru meletakan shopping bag ke bufet, “Maaf, Oma, saat Darian mengabari Oma dicelakai Mike, Steve mengejar dulu adik Steve itu.”
Dia minta maaf terlambat datang membesuk si nenek, sambil duduk ditepi bed, kedua tangannya memegang tangan nenek terkasih ini.
Sabina menghela napas, “Tidak mengapa, karena kejadian di luar dugaan.” Ditepuk-tepuk lembut tangan cucunya ini, “Kamu, jangan terlalu garang ke adikmu itu.” Dia menegur sang cucu.
“Ha eh!” terdengar helaan napas Steven, “Maafin Steve, Oma, tiap kali Mike atau Tante Mel mencelakai Oma, Steve sangat marah. Steve tidak terima mereka mencelakai Oma hanya demi mendapatkan Duarte Company dan semua kekayaan keluarga kita.”
Sabina tersenyum haru mendengar semua ini. Steven memang sangat menyayangi dia. Jika tahu dia dicelakai, si cucu bisa mengamuk. Sangat berbeda dengan Mike, dipikiran cucu kandungnya hanyalah harta dan tahta. Pelan tangan dia mengusap saying wajah tampan Steven.
“Steve,” suara lembutnya terdengar, “Oma bahagia menjadikanmu cucu,” dia menyampaikan perasaan bahagianya, “Kamu sangat menyayangi Oma. Bahkan Kamu bertaruh nyawa untuk menjaga Oma.”
Steven meraih tangan itu, digenggam lembut, “Oma, kasih saying Oma ke Steve luar biasa, tidak sebanding dengan nyawa Steve. Berkat Oma pula, Steve yang dulu hanya Fikar anak yatim piatu dari keluarga miskin, bisa seperti sekarang. Bahkan Steve punya Keith yang melengkapi hidup Steve.”
Sabina terenyuh mendengar ini, “Andai Bella sudah ditemukan, Oma ingin Kamu menikahi dia. Bella anak yang manis, meski slengean karena sifatnya tomboy. Bella juga pemberani, bahkan bisa kungfu, karena Ivander ayahnya mendatangkan guru kungfu untuk melatihnya bela diri.”
Steven menyimak semua ini yang sering dikatakan si nenek.
“Oma, Steve akan kembali mencari jejak Bella.”
“Tidak perlu, karena Bayu sudah melakukan itu. Kamu cukup bantu Oma mengelola dan menjaga Duarte Company dan perusahaan Ivander.”
“Oke, Steve paham,” Steven paham, “Oma, maaf, selama ini Oma selalu menceritakan mengenai Bella, tapi tidak pernah menunjukan foto dia ke Steve. Apa boleh Steve melihat foto dia?”
Sabina tersenyum geli, “Kamu ingin melihat dia, agar membayangkan dia dewasa seperti apa? Lantas gimana sama Nina Ramlan?”
Steven terkesiap, lantas menghela napas, “Omaku memang detektif Conan.” Disebut si nenek adalah Conan sang detektif komik kesayangannya. “Sudah tahu Aku mengenal gadis slengean nan garang itu.”
Sabina terkekeh-kekeh geli, ditepuk saying pipi cucunya ini.
“Dengar-dengar,” dia bicara lagi, “Hatimu kepicut sama Nina Ramlan.” Dipancing Steven untuk mengungkapkan isi hati.
Sang cucu cengegesan saja.
“Ngga..Steve ngga gitu, Oma. Dia slengean, Oma, bukan selera Steve.”
Sabina tersenyum geli sebab wajah cucunya bersemu merah.
“Oke,” dia memasang wajah serius, “Kalau begitu, Oma lega, karena tuan putri yang Kamu katakan slengean sudah membuatmu kesemsem. Kamu melihat dibalik slengeannya, dia punya inner beauty sangat bagus.”
Steven terkesiap, lantas sedikit menggaruk kepala, Oma tahu semua perkataannya palsu.
“Tapi-“ Sabina melanjutkan, “Jika kepicut Nina Ramlan, gimana Kamu menikahi Bella? Apa menikahi keduanya?”
“Hais, Oma menggodaku,” Steven kembali cengegesan, “Hayah-!” buru-buru mengalihkan pembicaraan, “Oma, ayo dong kasih liat foto Bella.” Direngekin si nenek dengan manja. Dia memang manja ke sang nenek, karena seperti kata Peter, dia berhati Hello Kitty. Tapi, kalau sudah marah, menjelma menjadi Rahwana.
Si nenek kembali terkekeh-kekeh sebab wajah Steven bersemu merah digodanya tadi.
“Darian!” dia pun memanggil Darian, “Perlihatkan ke Steve, foto Bella yang Saya simpan dalam gallery ponsel Saya.” Diminta sang asisten memperlihatkan foto Bella di ponselnya.
“Baik, Nyonya.” Darian paham, segera mengeluarkan ponsel sang nyonya dari saku celana panjangnya, diakses sejenak ke gallery foto, lantas diberikan Steven.
“Silahkan, Tuan muda.”
“Terima kasih, Darian.” Steven mengambil ponsel tersebut, lantas melihat satu persatu foto Bella Duarte cucu sulung Sabina yang hilang selama sembilan belas tahun.
Di gallery itu lengkap foto Bella, dari mulai lahir sampai usia enam tahun. Di sana pun ada foto Ivander dan Mona orangtua Bella.
‘Bella dari lahir sangat cantik menggemaskan.’ Steven menilai sosok Bella, ‘Bella juga aktif, kreatif, ceria, dan genic berfoto.’ Dia masih menilai setiap aksi si nona kecil.
Tidak lama dia tercenung saat menemukan foto Bella yang mirip sekali sama gadis kecil yang pernah ditolong dia di masa lalu. Dia segera memandang neneknya ini,
“Oma, ini Bella usia berapa?” tanyanya sambil memperlihatkan foto itu ke sang oma.
Sabina melihat foto tersebut, “Enam tahun.” diberi jawaban, “Itu foto terakhir dia sebelum orangtuanya dibunuh Luis Bianco, rumah orangtuanya diledakan pria itu, dan dia hilang di bandara Soetta.”
Steven terhenyak mendengar semua ini, “Mengapa, mengapa?”
“Mengapa apa?”
“Oma, delapan belas tahun lalu, Steve menolong gadis kecil bernama Nina dari para penculik.” Steven menceritakan sejenak kejadian di masa lalu tersebut ke sang nenek. “Saat Steve melihat foto Bella ini,” dia sudah mengakhiri ceritanya, “Mengapa sangat mirip dengan Nina gadis kecil itu? Steven sangat ingat wajah Nina.”
“I see.” Sabina paham, “Steve, apa kamu masih ingat pasangan yang membawa kita ke rumah sakit setelah Oma dan Kamu dicelakai Melda, delapan belas tahun silam?”
Steven menyimak sambil mengingat kejadian yang dikatakan sang nenek.
“Oma,” dia menegur si nenek, “Apa kejadian itu awal Steve bertemu Oma?”
“Iya.” Sabina menganggukan kepala, “Mereka orangtua kandung Nina kecil itu. Lantas nona itu sekarang sudah dewasa, Kamu pun menolong dia lagi agar gagal bertunangan dengan Eric Hardadi.”
“Tunggu dulu,” Steven menyergah, “Kok Oma tahu orangtua Nina kecil itu?”
“Karena orang yang hendak menculik Nina adalah utusan Oma.”
Steven terhenyak, “Utusan Oma?”
“Iya, karena orang itu merasa Nina kecil sangat persis Bella. Mereka hendak membawa Nina kecil ke Oma, untuk dipastikan Bella atau tidak.”
“I see.” Steven paham, tidak lama terbayang sosok Damar dan Fitri yang sedari kemarin mengobrol sama dia seputar Nina. Lantas dia mengingat kembali pasangan yang membawa dia dan Sabina ke rumah sakit setelah kecelakaan delapan belas tahun silam. Tidak lama dia menepuk keningnya, mengapa tidak menyadari sudah mengenal orangtua Nina di masa lalu.
Dia tidak salah, sebab saat itu keadaan hetic, sehingga baik dia dan orangtua Nina sama sekali tidak saling menghapal rupa. Orangtua si nona sulung pun tidak menyadari Steven adalah Fikar yang pernah menyelamatkan sang nona di masa lalu.
“Astaga, Tuhanku! Hais, kenapa Aku tidak menyadari ini?” Steven merutuki diri sendiri, “Berarti Nina yang sekarang adalah Nina kecil di masa lalu Steven?”
Sabina menganggukan kepala, “Juga dia adalah Bella Duarte.”
Steven terkaget mendengar ini, “Nina Ramlan itu Bella Duarte cucu Oma?”
“Feeling Oma iya, karena Oma melihat liontin kalung yang dipakainya. Liontin itu lambang keluarga Oma, milik Ivander.”
“Oma ada tanya mengapa dia pakai itu?”
Sabina menggelengkan kepala, “Iya, tapi dia bilang dari Iqbal. Tapi itu tidak mungkin, karena kalung tersebut diberikan Ivander saat dia masih bayi, dan belum ada Iqbal dan Damar.”
Steven menghela napas, jika semua cerita sang nenek benar, berarti sangat berbahaya untuk Nina. Mike dan Melda sampai hari ini berambisi ingin menguasai Duarte Company dan kekayaan keluarga Duarte. Namun, karena ada dia, kedua manusia itu selalu gagal.
“Steve,” Sabina menegur Steven, “Keep mengenai ini agar tidak diketahui Melda dan Mike. Kamu juga jaga baik-baik Nina, apa pun hasil yang didapat Bayu nantinya.”
***
Di dalam suite room hotel, tampak Mila sesunggukan menangis duduk di tepi tempat tidur. Dia baru saja didatangi Eric, di mana pria itu mengatakan tidak akan menikahi Mila seperti yang keluarga mereka rencanakan dilangsungkan dua hari ke depan. Sang selingkuhan pun bilang hanya tergoda rayuan dia.
Di satu sisi, dia puas menggagalkan acara pertunangan Nina yang dibencinya. Tapi disisi lain, harapannya menjadi istri Eric kandas.
‘Huh!’ bisik hati dia sambil menyeka air mata dari salah satu matanya, ‘Apa sih bagusnya Nina? Body bebeng, pipi chubby, lantas sikapnya liar.’ Dikatai fisik Nina, ‘Mengapa banyak pria menyukai dia? Berebut ingin menikahinya?’ dia sangat kesal si kakak disuka banyak pria. Bahkan para pria berebut ingin menikahi sang kakak.
‘Huh!’ kembali dia mendengus, ‘Papa pilih kasih.’ Dirutuki Damar, ‘Demi Nina, bisa membuat Eric menerima keputusan batal bertunangan sama Nina. Tapi Papa tidak bisa membuat Eric menikahiku dua hari ke depan.’ Dia menyangka Eric mendatangi karena sudah atas persetujuan Damar.
Dia lantas memukul-mukulkan tangan ke permukaan kasur, air mata kesal berlinang deras ke wajahnya.
Dia tidak menyadari bahwa sang ayah menyayangi dia, buktinya setiap dia ingin ini itu diberikan melalui Karla. Bahkan si ayah selalu membela dia, jika dia kalah berdebat sama Nina. Lantas selama delapan belas tahun terakhir, dia tinggal bersama ayahnya, sedangkan Nina bersama Iqbal.
Namun semua itu tertutup rasa iri hati ke Nina. Merasa ayah mereka mengistimewakan si kakak. Bahkan membanggakan sang kakak karena berprestasi sebagai CEO di bisnis internasional.
Dia berhenti memukuli kasur, segera turun dari tempat tidur, langsung mengambil silet pisau cukur dari laci meja wastafel kamar mandi.
‘Lebih baik Aku mati, daripada terus dipermalu Nina!’ bisik hati dia memandang silet yang diarahkan ke pergelangan dalam tangan kirinya.