Bab 11 Pura-Pura Baru Kenal

1266 Kata
Sabina tercenung melihat Damar dan Fitri datang bersama Nina untuk membesuk dia. Ingatan dia yang sangat bagus mengenali suami istri tersebut. Seketika dia menyesali diri, mengapa tidak menyadari bahwa orangtua dari cucu Iqbal adalah Damar dan Fitri yang pernah ditemui di masa lalu. Persoalannya karena Iqbal hanya menceritakan mengenai Nina, juga memperlihatkan foto gadis itu. Kemudian selama bekerjasama bisnis, mereka memang belum mengadakan pertemuan antar keluarga. Damar dan Fitri berbarengan menghela napas, sebab mengenali pula Sabina. Mereka pun tidak menduga si nyonya yang ditolong Nina. “Nyonya!” Nina menyapa Sabina sambil meraih tangan kanan si nyonya, tampak lega sebab perempuan itu dinyatakan selamat lahir batin. “Puji Tuhan, Nina lega Anda sudah ditangani dokter.” Digenggam lembut tangan Sabina. “Saya juga lega, Nina.” Si nyonya membalas genggaman tangan tersebut, “Karena Tuhan menyelamatkan Saya melalui tanganmu.” Nina tersenyum, “Ah ya-!” teringat datang bersama orangtuanya, “Nyonya, mari Nina perkenalkan dengan orangtua Nina.” Dilepas tangan si nyonya, lantas membawa Damar dan Fitri ke sisi dia. “Mereka ini, Damar dan Fitri.” Damar cepat meraih tangan kanan Sabina, disalami dengan ramah. “Nyonya Sabina, salam kenal, saya Damar,” Lantas menunjuk Fitri, “Ini Fitri istri Saya.” Diperkenalkan juga Fitri. Sabina terdiam, pelan tersenyum tipis, Damar tidak mau Nina mengetahui mereka sudah saling mengenal di masa lalu. Dia kembali merasa ada yang dirahasiakan suami istri itu. Sabina memasang senyum sedikit lebih cerah, “Salam kenal juga, Tuan Damar, Nyonya Fitri.” Diikuti kemauan Damar, “Saya tidak menyangka yang menolong Saya tadi adalah putri Kalian.” Digelar pembicaraan mengenai penyelamatan dia, “Saya berterima kasih ke Nina, berkat dia, Saya selamat.” “Jangan sungkan, Nyonya.” Damar tersenyum kecut, merutuki keadaan, mengapa Nina harus bertemu Sabina? “Ayah Saya mengajari Nina kungfu tidak semata untuk melindungi diri sendiri, tapi juga menolong siapa pun yang dihadang orang jahat.” “I see,” Sabina paham, “Ayah Anda bernama Iqbal Ramlan kan?” “Betul, Nyonya. Ah ya, bukan kah Anda dan Papa menjalin kerjasama bisnis di Quwait?” Nina mencolek sedikit lengan Damar. “Pa, apa Nyonya Sabina ini owner dan presiden direktur Duarte Company?” “Betul, anakku.” Damar menganggukan kepala, “Opa Kamu tidak melibatkanmu dalam bisnis itu, sebab dunia perminyakan tingkat kejahatan tinggi. Opa tidak mau kamu celaka.” Sabina mendengar percakapan ini, bicara dalam hati, feeling kuat Nina adalah Bella cucunya yang hilang selama delapan belas tahun. ‘Tuhanku, Hamba mohon dibantu memastikan Nina adalah Bella cucuku yang hilang itu.’ *** Nina memeluk saying Iqbal, saat ini bersama dia ada orangtuanya dan Adam. Iqbal melepas pelukan itu, segera mengecek wajah, leher, kepala, kaki dan tangan cucunya ini. Julian ditelpon pula sama Jenderal Ruhut, terpaksalah sang asisten memberitahu kejadian yang Nina alami ke Tuan besar. Nina menjadi kecut diperiksa si opa, merutuki kenapa Gandy tidak minta Jenderal Ruhut merahasiakan. “Julian!” seru Iqbal cepat, “Panggil dokter jaga sekarang kemari.” Diminta asistennya memanggil dokter jaga. “Opa!” sela Nina cepat, “Opa merasa sakit kah jantungnya?” dia menjadi cemas ke Opa ini. “Iya, sakit hati karena melihatmu memar akibat fighting sama orang-orang itu.” Si kakek menyahut ketus, lantas diperlihatkan lipatan siku tangan kanan cucunya ini. Damar terkejut melihat ini, segera mengecek tangan itu. “Tadi Damar cek tidak ada memar ini.” Dipandang sang ayah yang sangat menjaga Nina. “Hais!” Nina hendak melepas tangannya dari pegangan si Opa, “Opa, memar kecil aja kok ini.” rengeknya karena sang kakek tidak mau dilepas oleh dia, “Opa, Nina baik saja.” “Julian!” seru Iqbal kembali memanggil Julian, “Lekas panggil dokter jaga kemari.” Julian menganggukan kepala, bergegas pergi. Nina duduk disisi si opa, menyandarkan kepala dipundak tegap opanya. “Opa, maafin Nina ya.” Dia minta maaf, “Nina bikin Opa cemas.” Iqbal menghela napas, ditegakan badan cucunya, dipandangin. “Nina, Opa tahu jiwa kemanusiaanmu sangat tinggi, tapi Opa minta sedikit direm. Opa hanya punya Kamu, apa jadinya kalau kehilanganmu karena Kamu menolong orang dalam bahaya seperti kejadian itu?” “Iya Opa, iya.” Nina menenangkan kecemasan si kakek, “Sudah, sudah.” Diusap-usap d*** sang opa, “Kita tidak usah bicara itu lagi.” Diberi senyuman pria tersebut, “Ah ya!” mulai mengalihkan pembicaraan, “Opa mengapa tidak pernah mengenalkan Nina sama Nyonya Sabina rekan bisnis Opa di Quwait?” Sang opa menghela napas, “Nina, Kamu cucu kesayangan Opa. Sudah tentu Opa ingin Kamu mengelola bisnis yang aman saja.” “Tapi Opa sudah merencanakan menyerahkan posisi presdir ke Nina, berarti semua unit bisnis di Ramlan Company dikelola Nina.” Nina membuka rencana Iqbal sambil melirik Damar. Ingin tahu reaksi sang ayah mengenai hal tersebut. “Bisnis yang membahayakan,” Iqbal memandang si cucu, “Ditangani bapakmu itu.” Ditunjuk Damar, “Opa menjadikan beliau pelindung Kamu di Ramlan Company.” Damar tersenyum geli, menerima keputusan sang ayah yang menyerahkan kursi presiden direktur ke Nina, sedang dia menjadi pelindung si anak dalam mengelola semua unit bisnis di Ramlan Company. Sementara di satu gudang, di Pelabuhan Ratu, tampak Steven mencambuki Mike. Dia dan Peter hanya mengikuti Nina dan Sabina sampai depan rumah sakit, lantas segera sang asisten menelpon Gandy, bertanya di mana Mike dan para ajudan itu dibawa Jenderal Ruhut. Setelah bernegosiasi, Sang Jenderal menyerahkan Mike ke Steven, tapi tetap menahan anak buah Mike. Cucu Sabina itu membawa Mike ke gudang tersebut, dan langsung di eksekusi pria itu. Steven berhenti melecut cemeti, di dekati Mike yang megap-megap tapi tidak bisa bersuara sebab mulutnya disumpal kain gulungan. Tangan dan kaki diikat pada tiang. Ditarik kain dari dalam mulut si adik, lantas mencengkram pucuk dagu adiknya itu. “Kamu,” dia bersuara, “Benar-benar tidak tahu berterima kasih ke Oma ya. Oma membebaskanmu karena perduli nasibmu yang katanya mengalami sesak napas. Tapi Kamu ingin membunuh Oma.” “Bukan urusanmu, anak pungut!” Mike tidak mengindahkan kemarahan Steven, “Beliau nenek kandungku, jadi Aku mau berbuat apa ke beliau, tidak menjadi urusanmu.” Steven mendidih mendengar ini, dipukul kuat mulut Mike, lantas kembali mencengkram pucuk dagu si adik. “Kamu pikir Oma itu hewan peliharaan, hmm?” tanyanya dengan wajah sengit, “Bisa Kamu perlakukan sesuka hatimu? Apa itu yang diajarkan Ibumu, hmm? Apa Kamu perlakukan sesuka hatimu juga kah ibumu?” Mike terhenyak, lantas, “Fikar!” disebut nama asli Steven, “Sekali lagi kukatakan, semua ini bukan urusanmu! Sebaiknya Kamu serahkan posisi CEO ke Aku, lantas kembalilah ke tempat kumuhmu dulu!” Steven naik darah, dia begitu menyayangi Sabina, tidak terima Mike keji ke sang nenek. Dia pukuli wajah Mike. “Tuan!” Peter cepat menghentikan dengan menarik tuan ini yang emosi tingkat tinggi, “Sudah, Tuan, sudah!” diredam emosi si bos, “Baiknya Anda jebloskan saja Tuan Mike ke penjara.” *** Sabina sudah dipindah ke ruang perawatan VVIP menghela napas mendengar laporan Darian. Dia tidak bisa menyalahkan Steven menghukum Mike, karena tahu betapa Steven menyayangi dia. “Nyonya.” Darian menegur sang nyonya. “Apa Steven segera kemari setelah puas menghajar adiknya?” “Iya, Nyonya.” “Saya tunggu dia.” Sabina menghela napas lagi, “Darian, hubungin Bayu, agar dia menyelidiki siapa Nina sebenarnya, karena Saya yakin seratus persen, Nina adalah Bella.” Hatinya berkecamuk karena mengenali liontin kalung Nina sebagai milik mendiang Ivander. Dia sangat ingin memastikan siapa Nina sebenarnya, karena tidak mungkin Nina memakai kalung almarhum putranya yang diakui kalung Iqbal, sebab si anak saat itu tidak mengenal sama sekali Iqbal atau pun Damar. Lantas Damar dinilai menghalangi dia mengetahui siapa Nina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN