Satu malam setelah selesai acara doa 7 hari meninggalnya abah Burhan, kami pergi ke kuburan beliau untuk ziarah. Kami bertiga berdoa bersama di sana. Masih terasa begitu dekat rasanya batin kami dengan beliau, walaupun abah Burhan sudah meninggal dunia. Para penziarah yang kebanyakan murid-muridnya setiap hari pasti ada yang datang ke makam beliau. Jadi kuburan beliau tidak pernah terlihat sepi. Malam itu kami pulang ke rumah kami masing-masing. Aga tidak menginap di rumahku malam ini karena dia akan ada acara besok pagi. Di perjalanan akan menuju pulang, Aga dicegat oleh sosok seorang nenek yang selama ini terus mengincar mereka. Siapa lagi kalau bukan Nyi Sapnah, musuh yang sekarang lebih menjadi-jadi. Dia sudah sedikit leluasa menyerang kami. Sebab benteng kami yang kokoh sekarang sudah

