"Rindu yang tak bisa bertemu, namun terobati saat melihat wajahnya."
~Muhasabah Cinta~
***
Jam bekker yang Tasya setel untuk membangunkannya berbunyi dengan suara kerasnya. Ia bangun untuk mematikan suara itu, jam menunjukkan pukul 02:15, lantas ia bangun untuk menunaikan salat Tahajud. Setelah mengambil air wudhu, ia memakai mukena dan menggelar sajadahnya, tak lupa juga ia membangun Zahira yang masih terlelap. Cuaca di Kota Kairo sudah berganti dengan musim panas. Membuat para masisir bermalas-malasan untuk keluar rumah. Tapi, apapun cuacanya mereka harus tetap keluar dan menuntut ilmu. Meskipun sistem di Al-Azhar tidak menggunakan absensi, yang dimana para mahasiswa bebas untuk masuk atau tidaknya. Namun, dari sistem ini Mahasiswa juga diharuskan untuk tetap masuk dalam pelajaran. Karena saat kita tidak mengikuti pelajaran, pasti akan sangat rugi untuk diri sendiri. Walaupun tidak menerapkan sistem absensi, pihak kampus selalu menyeru para mahasiswanya untuk hadir di kampus demi mengikuti pembelajaran.
Alasan Al-Azhar tidak menerapkan Absensi salah satunya karena pihak kampus ingin ada kesadaran dari dalam diri para mahasiswa yang datang dan belajar kesana, bahwasanya mereka adalah calon ulama masa depan yang sudah harus mencari dan menggali khazanah keilmuan, sehingga system absensi hanya akan membuat mahasiswa terpaksa berkuliah, dan Al-azhar tidak ingin mahasiswa menuntut ilmu agama dalam keadaan terpaksa.
Setelah menyelesaikan salat Tahajudnya, Tasya duduk di tepi ranjang masih dengan mukena putihnya. Ia merasakan rindu yang amat dalam pada keluarganya yang di Indonesia. Tasya mengambil Handphone lalu mengetik nama 'Bunda Sayang' disana.
Dia ingin menghubungi bundanya melalui video call. Ingin membalas kerinduan dengan melihat wajah sang bunda. Saat ini di Kairo memang masih pagi buta, namun jika di Indonesia ini sudah jam 6 lewat. Untuk itu, Tasya menghubungi bundanya jam segini, karena keluarganya mungkin sedang sarapan pagi di rumah.
Sambungan terhubung, memperlihatkan wajah yang masih tetap cantik di Handphone nya, Bunda Maira yang memperlihatkan senyuman yang begitu menenangkan. Membuat Tasya semakin rindu akan sosoknya.
"Assalamualaikum Bunda ... " ucap Tasya saat melihat wajah bundanya yang tersenyum.
"Waalaikumussalam sayang, Tasya disana sehatkan?"
Tanya bundanya membuat Tasya tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipitnya. Saat ini dia sedang tidak menggunakan niqob nya.
"Alhamdulillah sehat Bunda, Bunda gimana?" tanya balik Tasya pada bundanya. Lalu Bunda tersenyum.
"Alhamdulillah Sya Bunda sehat, Ayah sama Idar juga sehat, disana jam berapa?" Tanya Bunda lagi. Mengingat jam di Kota Kairo lebih lambat 5 jam membuat Maira menanyakan hal itu, karena setahunya mungkin ini masih jam tidur jika di Indonesia.
"Jam setengah tiga Bun, tadi Tasya habis salat Tahajud, terus kangen sama Bunda dan yang lainnya, jadi Tasya video call Bunda," kata Tasya. Memang dia sangat merindukan keluarganya. Kerinduan yang tak bisa membuatnya bertemu. Mungkin Ramadhan kali ini dia melaksanakan di Kairo bukan di Indonesia. Mengingat beberapa minggu lagi bulan suci yang penuh dengan ampunan itu akan datang. Bulan dimana umat muslim selalu menunggu kehadirannya.
"Yaudah kalau sudah salat Tahajud, ehh... Ayah mau bicara sama Tasya nih," kata Bundanya lalu memberikan Handphone nya pada Ayah Tasya.
"Assalamualaikum Kak," ucap Raihan kepada Tasya. Kemudian Tasya tersenyum dan menjawab salam sang Ayah.
"Ayah sehat?" detik selanjutnya dia menanyakan keadaan sang Ayah.
Raihan mengangguk di layar Handphone Tasya. "Ayah sehat kok, kamu gimana? Sehat kan?" tanya Raihan khawatir dengan putrinya.
"Alhamdulillah Tasya sehat Yah, Tasya Rindu deh sama kalian di rumah" ucapnya lirih. Ada rasa yang mengganjal dalam hati. Rasa yang harus dia sampaikan kepada orang tuanya. Rasa rindu. Ya, rindu yang membuatnya selalu ingin bertemu. Namun, dia menahan untuk masa depannya.
"Syukur Alhamdulillah ... disana pasti masih pagi banget yah kak?"
"Hehe ... Iya Yah, masih setengah tiga," ucap Tasya sambil terkekeh.
"Yaudah Ayah tutup yah teleponnya. Kakak jangan lupa jaga kesehatan disana yah, kami disini merindukan kakak," ucap Raihan mengingatkan sang putri.
Aaaah... Tasya ingin pulang sekarang. Tapi tunggu lulus dulu.
"Iyaudah, Iya Ayah kalian juga yah. Aku rindu sama kalian. Assalamualaikum" setelah mendapat jawaban, dia mematikan sambungan tersebut.
Fyuhhhhh...
Rindu. Satu kata yang memenuhi relung hatinya. Namun, setelah menghubungi bundanya, rasa rindunya sedikit terobati. Kamu bisa Sya ... Kamu harus menjalani apa yang kamu cita-citakan di masa depan.
***
Jalanan Kota Kairo setiap harinya selalu lengang. Karena disini hanya ada beberapa kendaraan pribadi. Disini jarang yang memakai kendaraan pribadi, mereka lebih sering menggunakan kendaraan umum seperti Bus, Tremco dan Metro. Sekarang ini sedang musim panas, dan orang-orang berlalu lalang, kesana kemari.
Tasya sudah siap dengan jaket kulit yang senada dengan niqob hitamnya. Hari ini hari libur, jika di Indonesia hari Minggu adalah hari libur. Maka di Kairo hari liburnya adalah hari jumat.
Semua orang berkumpul dengan keluarganya maupun sahabatnya. Liburan kali ini, Tasya akan berkeliling di Taman Al-Azhar. Taman ini berada tak jauh dari Masjid Al-Azhar. Jalan kaki pun sampai ke tempat ini.
Lapangan luas yang ditanami rumput hijau, pohon-pohon yang tumbuh kokoh di Taman ini, membuat para pengunjung semakin betah. Pemandangan kota Kairo sangatlah apik. Rasanya Tasya semakin betah berada disini. Bukan hanya orang-orangnya yang ramah-tamah, tapi disini juga banyak wisata-wisata yang harus Tasya kunjungi. Selama berada di Kota ini, jika selama libur, Tasya akan mengelilingi Kota Piramid ini.
"Zah, kayaknya Aku semakin betah deh disini hehe," ucapnya terkekeh geli. Ya, dia betah karena pemandangannya sangatlah bagus. Selain itu, Kota ini menyimpan banyak sejarah mengenai peradaban Islam. Salah satunya berdirinya masjid 'Amru bin Ash. Masjid ini berada di wilayah Fushthat di bagian kota tua Kairo ini merupakan masjid tertua pertama di Mesir dan Benua Afrika.
"Aku juga Sya, walaupun dikenal gersang, akan tetapi masih ada pepohonan yang berwarna hijau yah," Zahira memandang taman ini dengan kagum.
"Zah Aku mau ke Toilet bentar yah," kata Tasya yang diangguki Zahira. Dia beranjak dari tempat duduknya, lantas bertanya kepada salah seorang Mesir.
"Law Sammaht, Fein Hammam?" (Permisi, dimana toilet?" tanya Tasya pada perempuan berkerudung yang Tasya yakini dia orang asli Mesir.
" 'Alatul..." (lurus saja). Kata wanita itu. Kemudian Tasya menundukkan kepalanya sambil berkata,
"Syukran," setelah itu dia pergi kearah yang tadi ditunjuk oleh perempuan Mesir tadi.
Taman ini tampaknya ramai sekali, karena mengingat hari libur. Mungkin mereka akan menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama keluarganya.
Setelah dari kamar mandi, Tasya berjalan ke tempat yang tadi. Namun, di jalan dia menabrak seseorang yang tak dia kenali.
"Afwan" kata Tasya meminta maaf kepada lelaki itu, dia masih menundukkan pandangannya.
"Iya tidak apa-apa," tunggu dia orang Indonesia? Lancar berbahasa Indonesia? Lalu Tasya melihat siapa lelaki itu.
"Antum dari Indonesia?" tanya Tasya penasaran. Karena itu dia menanyakan asal lelaki ini.
"Iya, saya dari Indonesia, kamu juga?" tanya lelaki itu balik.
Tasya menunduk lagi, membenarkan niqob yang hampir saja menutupi matanya.
"Iya saya dari Indonesia, kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum," tanpa menunggu jawaban lelaki itu, Tasya berjalan kearah Taman. Disana terlihat Zahira yang tengah memfoto pemandangan Taman ini.
Pemandangan yang menggugah mata, dan membuat ingin berlama-lama. Walaupun panas, namun semilir angin yang berembus membuat adem suasana di Kota Kairo ini.
Maka nikmat tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
***