Perempuan berniqob

1024 Kata
"Perasaan yang tumbuh ini murni dari hati. Bukan rekaan ataupun fiksi belaka. Tapi ini nyata, bahwa Aku mencintai dia yang pertama kalinya." ~Muhasabah Cinta~ *** اَلرَّحْمٰنُۙ (Allah) yang maha pengasih عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ Dia menciptakan manusia, عَلَّمَهُ الْبَيَانَ Mengajarnya pandai berbicara. اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya). وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِۙ Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya), فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِۖ di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُۚ Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Yakni nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, hai dua jenis makhluk, jin dan manusia yang kalian dustakan? Demikianlah menurut pendapat Mujahid dan ulama lainnya, yang hal ini ditunjukkan oleh pengertian yang terkandung pada konteks sesudahnya. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa nikmat-nikmat Tuhanmu tampak jelas pada kalian dan kalian diliputi olehnya hingga kalian tidak dapat mengingkarinya atau tidak mengakuinya. Dan kami hanya dapat mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh jin yang beriman kepada-Nya, "Ya Allah, tiada sesuatu pun dari nikmat-nikmat-Mu yang kami ingkari, maka bagi-Mulah segala puji." Disebutkan bahwa Ibnu Abbas selalu menjawabnya dengan ucapan berikut, "Tidak, lalu yang manakah, wahai Tuhanku?" Dengan kata lain. dapat disebutkan bahwa kami tidak mendustakan sesuatu pun darinya. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Abul Aswad, dari Urwah, dari Asma binti Abu Bakar yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ia dengar dalam salatnya membaca satu rukun Al-Qur'an sebelum diperintahkan untuk menyerukan dakwahnya secara terang-terangan, sedangkan orang-orang musyrik mendengarkan­nya, yaitu firman Allah Swt.: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 13) (tafsir ibnu Katsir) Lelaki itu menyudahi rutinitasnya. Setiap hari sehabis salat wajib, dia selalu ber murojaah untuk menambah hafalannya. Dia menutup mushaf kecil yang berada di tangannya kemudian menciumnya. Sejenak dia memikirkan wanita yang tadi siang dia temui di Taman. Siapa wanita itu? Mengapa dirinya dengan begitu cepatnya jatuh cinta pada perempuan berniqob itu? Gibran Hafiz Hanafi, seorang mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Dia melanjutkan S2-nya di Mesir. Pria ini berusia dua puluh lima tahun. Wajah yang bersinar bagaikan cahaya, hidung mancung nan runcing itu membuat para wanita kagum dengan ketampanannya. Apalagi soal agama, jangan ditanya. Dia seorang Hafidz, lulusan terbaik saat S1 di Bandung. Dia memilih untuk melanjutkan kuliah di Kairo karena ingin belajar lebih mendalam soal Agama Islam. Selama dua tahun di Mesir, dia cukup tahu banyak hal tentang peradaban Islam di Mesir ini. Tentang wanita bercadar itu? Gibran jadi berpikir lagi, mengapa dia begitu memukau hatinya? Padahal baru pertama kali dia bertemu dengan wanita itu. Secepat itukah dirinya jatuh cinta pada wanita? Gibran ini sosok laki-laki idaman bagi para istri ... Eitss, para wanita maksudnya. Untuk dijadikan suami idaman. Maasyaa Allah... Masih dengan pemikiran yang sama, dia melamunkan wanita itu. Sampai dirinya tidak sadar bahwa seorang laki-laki dengan sarung lengkap pecinya datang dan duduk disampingnya. "Ente ngelamunin siapa?" tanya lelaki itu yang diketahui adalah sahabatnya. "Eh, ente Sal, sejak kapan disini?" tanya Gibran kaget akan kedatangan sahabatnya. "Aelaaah Gib ... ane tuh dari tadi disini, nanya ente kenapa, ehh ... ente malah ngelamun. Ngelamunin apaan sih? Perempuan yah?" tebak Faisal. Gibran diam. Dia masih memikirkan wanita bercadar itu, dia belum sempat berkenalan dengannya. Semoga saja, Allah mempertemukan mereka lagi. "Ehh ... malah diam lagi. Benarkan ente lagi mikirin perempuan?" lagi dan lagi, Faisal menebaknya. Sahabat Gibran ini memang sedang merasakan jatuh cinta, dia tahu bagaimana tingkah seorang lelaki yang sedang jatuh cinta. Melamun dan memikirkan wanitanya. Mungkin. "Eh, apaan sih, gak Sal," jawab Gibran mengelak dari kebenarannya. Padahal pikiran tertuju pada wanita itu, tapi dia tidak jujur dengan sahabatnya sendiri. Bukannya tidak mau, hanya saja menunggu waktu yang tepat. "Bilang aja kali Gib, ane paham kok, ente sedang kasmaran," ucap Faisal sembari menepuk punggung Gibran, dan berlalu darinya. "Apa iya saya sedang kasmaran?" tanyanya pada diri sendiri. Dia menggelengkan kepala, " Tidak, tidak, mungkin ini hanya perasaan kagum saja," katanya mengelak. *** Malam harinya karena Tasya maupun Zahira kelelahan seharian berkeliling di Taman Al-Azhar, mereka memutuskan untuk pergi keluar mencari makanan. Tasya sudah siap dengan Khimar maroon senada dengan gamisnya dan niqob hitamnya. Begitu juga dengan Zahira yang sudah memakai niqob nya. Mereka berjalan keluar asrama untuk membeli makanan. Ada salah satu dessert di Mesir yang terbuat dari beras yaitu Ruz Billaban. Makanan ini terbuat dari beras atau nasi yang dimasak dengan s**u, gula dan sedikit kayu manis. Ruz billaban ini cukup populer di Mesir, makanan ini menjadi menu untuk berbuka puasa. Bentuknya seperti puding. Sesampainya ditempat roti, Tasya memesan dua buah ruz billaban (nasi dengan campuran s**u) dan kusyari (nasi dicampur spagetti, makaroni dan bawang). Akhirnya, Tasya dan Zahira mendapatkan tempat duduk yang berada dipojokkan. Tasya memakannya perlahan dan sedikit menyibakkan cadarnya agar tidak menghalanginya saat makan. Sama halnya dengan Zahira. Jam menunjukkan pukul delapan malam, mereka bangkit dari duduknya dan berjalan menuju asrama. Kota ini sangat ramai saat malam hari, banyak orang-orang asli Mesir yang berlalu lalang. Mungkin, para turis dari berbagai macam negara pun ada di Kota ini. "Sya, Aku kangen deh sama yang di rumah," kata Zahira sambil terus berjalan. Tasya menoleh kearahnya, "Sama Zah, tapi kemarin pagi Aku sudah hubungi orang tuaku. Alhamdulillah mereka sehat," kata Tasya tersenyum dibalik niqob nya. "Aku belum, mungkin nanti ketika sampai di asrama," Tasya hanya menganggukkan kepala menanggapi Zahira. Brukkkkk...! "Astaghfirullah ..." desis Tasya ketika ada seorang yang menabraknya ketika jalan. "Afwan Ukhti! Ana Aseef" kata lelaki itu. Tasya menundukkan pandangannya, dia tidak mau menatap lelaki itu. "Lho! Kamu ..." kata lelaki itu seakan mengenal Tasya. Tasya mengernyit bingung, kamu? Kata lelaki itu. Apa lelaki ini mengenalnya? Perasaan Tasya tidak mempunyai kenalan di Mesir selain tante Ayla sahabat dari Bundanya. Tasya penasaran sehingga dia mendongakkan kepala dan melihat siapa lelaki ini. Deg! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN