"Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu."
(HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa Hadits ini hasan)
~Muhasabah Cinta~
***
Suara deringan ponselnya terus terngiang di seluruh penjuru ruang kamarnya, dia mengambil ponsel yang tengah berdering diatas nakas. Memencet panel hijau yang tertera di layar ponsel, dan melihat wajah seseorang yang terpampang jelas dilayar ponselnya.
"Assalamualaikum Bun..." sapa Tasya kala melihat bundanya tersenyum dilayar ponselnya.
"Waalaikumussalam sayang, Tasya sehat?" tanya Bundanya kepada sang putri.
Tasya tersenyum dibalik niqob nya, "Alhamdulillah sehat Bun, Bunda sama yang lain gimana? Sehat kan?" tanya balik Tasya pada bundanya. Hatinya sudah sangat merindukan keluarganya. Walaupun baru sebulan ia tinggal di Mesir, namun rasa rindu itu sangatlah besar terhadap keluarganya.
"Alhamdulillah kami sehat nak, oh iya Sya, lagi kemarin malam ada seorang lelaki datang ke rumah untuk meminangmu Nak, apa kamu mengenalnya?" Seketika Tasya diam. Hatinya berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Seorang lelaki? Meminangnya? Allahu ... siapa lelaki itu? Apakah Tasya mengenalnya? Apa jangan-jangan kak Hikam? Arghh... tidak mungkin juga kak Hikam yang meminangnya. Tunggu, kenapa Tasya memikirkan Hikam, lelaki yang telah berhasil membuatnya mencintai dalam diam. Sejak saat pertemuan pertamanya, Tasya memang sudah mencintai Hikam, dalam diam.
"Sebentar Bun, lelaki itu mau meminang Tasya?" tanya Tasya heran.
"Iya sayang, dia ingin meminangmu. Katanya kamu kenal sama dia, namanya Muhammad Hikam Al Farisy"
Deg!
Satu nama itu berhasil membuat jantungnya berhenti. Tolong, Tasya butuh oksigen saat ini. Nafasnya terhenti seketika. Apa ini yang dinamakan mencintai dalam diam layaknya Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali? Tasya memang berharap mendapat balasan cinta dari Hikam. Walaupun Hikam lelaki yang dingin, namun mampu membuatnya bahagia. Lelaki itu mencintainya? Lelaki itu melamarnya. Allahu... Tasya bahagia. Sangat bahagia.
"K—kak Hikam Bun?" Tasya gugup. Apa benar lelaki itu bernama Hikam?
"Iya sayang namanya Hikam, dia datang sendiri untuk bertemu Ayah juga Bunda. Dia ingin melamar kamu, katanya kamu adik tingkatnya, benar begitu?" Maira menanyakan ini karena dia memang tidak mengenal Hikam. Ya, dia kaget saat kedatangan Hikam untuk melamar putrinya.
"Lalu Bunda sama Ayah, jawab apa?" tanya Tasya menginterogasi. Saat ini dia ingin tahu jawaban apa yang Ayahnya berikan.
"Ayah bilang kamu sedang kuliah di Mesir, Ayah juga bilang kalau Hikam mau menunggu tidak apa-apa, begitu," jelas Maira pada Tasya.
"Dia kakak tingkat Tasya Bun, saat Kuliah di UIN, terus setelah Ayah bilang itu, kak Hikam jawab apa?"
"Hikam jawab saya akan menunggu Tasya sampai Lulus dan saya juga masih kuliah," kata Bundanya.
"Yaudah Bun, kalau nanti kak Hikam datang ke rumah, Bunda kabari Tasya yah,"
"Apa Tasya akan menerimanya? Jika laki-laki itu datang lagi? Bunda sama Ayah tidak akan memaksa kok, jika memang Tasya menerima lelaki itu, Ayah dan Bunda setuju saja, dia terlihat seperti laki-laki baik, dan urusan kuliah kamu, kan nanti bisa ambil cuti dan bisa lanjut lagi, bukan?" Benar kata Bundanya. Tasya harus apa sekarang? Dirinya memang mencintai Hikam. Tapi, apakah ini langkah yang harus dia ambil. Menerima dan menikah dengan Hikam?
Sejujurnya, hati Tasya ingin sekali menerima lelaki itu. Namun, dia juga harus menyelesaikan kuliahnya saat ini. Memang benar, Tasya bisa saja mengambil cuti untuk menikah, akan tetapi, dia rasa ini akan membuatnya kepikiran saat kuliah dan berjauhan kala menikah nanti. Mengingat Hikam melanjutkan S2-nya di Yaman, sedangkan dirinya di Mesir.
"Tasya akan salat istikharah Bun,"
***
Seorang lelaki tengah duduk diatas sajadahnya, dia baru saja menyelesaikan salat Tahajudnya.
Ya Rabbi .. jika memang dia jodoh hamba, dekatkan hamba kepadanya. Dan jika dia bukan jodoh hamba, maka hamba memohon kepada-Mu. Jodohkanlah hamba dengannya. Sejak pertama kali melihat mata cokelatnya, hati ini berdesir, menandakan bahwa hamba jatuh hati padanya.
Ya Rahman...
Engkaulah yang maha penyayang, maka berikanlah kasih sayang hamba atas-Mu kepadanya. Hamba yakin, rasa ini bukan hanya sekedar rasa sesaat. Tapi hamba mencintainya karena-Mu...
Ya Muqollibal Qullub Tsabit Qolbi Alaa Diniik ...
Selesai berdoa dia kembali teringat pertemuannya dengan wanita bercadar itu, dia tidak sengaja menabraknya karena Faisal mendorongnya saat mereka tengah mengelilingi kota Kairo.
"Ente Sal, kayak yang sudah Nikah aja, ente dulu deh, baru ane nyusul ente," kata Gibran, saat Faisal menyuruhnya untuk menikah.
Faisal mendorong badan Gibran hingga dia tidak memiliki keseimbangan, lalu disebelah nya ada seorang gadis bercadar yang sedang berjalan, tak sengaja dia menabraknya.
"Astaghfirullah ..." desis wanita bercadar itu. Lalu Gibran langsung meminta maaf kepada wanita itu.
"Afwan Ukhti, Ana Aseef" katanya dengan bahasa Arab. Perempuan itu masih menundukkan kepalanya. Gibran tidak bisa melihat matanya. Lalu saat wanita itu mendongakkan kepalanya, betapa terkejutnya dia saat melihat manik cokelat milik gadis didepannya itu. Dan ternyata dia adalah wanita bercadar saat di Taman waktu itu.
"Lho! Kamu ..." ujar Gibran seakan kenal dengan wanita ini.
"Ya?" tanya wanita itu mengernyit bingung. Wanita ini berpikir mengapa lelaki itu mengenalnya, dia menatap lelaki itu, dan mendongakkan kepalanya.
Dan ternyata, lelaki itu adalah lelaki yang dia temui di Taman Al-Azhar.
"Kamu perempuan waktu di Taman itu kan?" tanya Gibran penasaran. Dia menebak bahwa wanita ini memang benar wanita yang saat ini tengah memenuhi relungnya.
"Iya," jawabnya singkat, jelas dan padat.
"Nama kamu siapa?" Gibran menanyakan nama wanita itu, sebab dia ingin mengenalnya lebih dekat lagi.
"Maaf, saya permisi, Assalamualaikum..." sebelum menjawab pertanyaan Gibran dia langsung pergi dari tempat itu. Gibran menatap punggungnya yang sudah jauh. Belum sempat tahu namanya, wanita itu langsung beranjak pergi. Gibran harus mendapatkan wanita itu, dia kagum dengannya.
"Hahaha ... Ente ditolak Gib," kata Faisal sambil memegangi perutnya. Menertawakan sahabatnya yang baru saja ditolak wanita. Bukan ditolak, hanya saja mereka belum saling mengenal.
"Bukan ditolak Sal, tapi ini awal perjuangan ane, untuk mendapatkannya," ucap Gibran dan melangkahkan kakinya, beranjak menuju rumahnya.
Gibran teringat kejadian malam tadi, dia tersenyum. Begitu dia menjaga auratnya, bahkan dia menanyakan namanya saja, dengan segera dia berlalu begitu saja, tanpa menjawab pertanyaan dari Gibran.
Gibran harus memperjuangkan wanita limited edition ini. Jarang sekali wanita seperti dia. Sekarang ini, banyak perempuan yang langsung mendekatkan lelaki, tanpa rasa malunya dia datang ke rumah lelakinya, dan dengan rasa bangganya dia memperkenalkan kepada orang tuanya. Menurutnya, itu adalah salah. Tidak seharusnya wanita itu dengan mudahnya mendekatkan lelaki apalagi lelaki yang bukan mahramnya. Gibran heran, mengapa banyak sekali para wanita, yang memutuskan rasa malunya. Padahal rasa malu itu hal yang utama yang harus dimiliki seorang Muslimah.
Gibran pernah membaca sebuah Hadist yang berkaitan dengan rasa malu. Bahwa rasa malu itu termasuk iman seorang muslim.
"Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu." (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa Hadits ini hasan).
***