"Perjuangan cinta tak hanya dengan perkataan saja. Melainkan perjuangan dalam menggapai cintanya karena-Nya."
~Muhasabah Cinta~
***
Indonesia, 20:27 WIB
Seorang lelaki dengan kemeja biru tuanya sedang melihat tampilannya didepan cermin. Tampan. Pikirnya.
Setelah menyisir rambut yang klimis itu, dia beranjak dan menuruni anak tangga satu persatu. Hari ini, dia akan melamar seorang wanita yang dia cintai. Wanita yang sejak saat pertama bertemu membuatnya selalu memikirkan wanita itu. Ya, dia jatuh hati pada pandangan pertama. Dia selalu terbayang dengan mata cokelat gadis yang mengisi relungnya.
Dia menaiki mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Hatinya cukup dag-dig-dug karena dirinya akan menghadapi orang tua wanita itu.
Tanpa kedua orang tuanya, dia hanya seorang diri untuk menyatakan perasaannya pada wanita yang sudah mengisi hatinya.
Tak lama kemudian, dia sudah berada didepan rumah gadis yang akan dia lamar. Dia mengklakson mobil, lalu seorang satpam keluar dari balik pintu gerbang.
"Maaf Pak, ada keperluan apa ya?" tanya satpam itu.
"Saya ingin bertemu dengan orang tua Tasya, Pak!" katanya yang sudah membuka kaca spionnya.
"Ohh mau ketemu Pak Raihan, beliau ada didalam, sebentar saya buka pintunya dulu," kata satpam itu lalu mendorong pintu gerbang besi berwarna hitam.
"Silakan Den!" katanya mempersilakan lelaki itu masuk.
Dia turun dari mobil, melihat penampilannya di kaca mobil sejenak dan merapikan rambutnya.
Merasa dirinya sudah sangat tampan, dia berjalan menuju pintu utama. Kemudian mengucapkan salam dan mengetuknya.
Keluarlah seorang wanita berkisar umur empat puluh tahunan.
"Wa'alaikumussalam, mau cari siapa?" tanya perempuan itu sambil menelisik seorang lelaki yang di hadapannya ini.
"Mmm... maaf tante, saya ingin bertemu dengan orang tua Tasya, apakah boleh?" tanya lelaki itu sopan.
Maira memperhatikan penampilan lelaki di hadapannya. Tampan.
"Oh iya, silakan masuk Nak," Maira mempersilahkan lelaki itu masuk.
Kini, Maira dan Raihan sudah berada di ruang tamu, bersama dengan lelaki itu.
"Sebelumnya saya minta maaf om dan tante, kedatangan saya kesini untuk melamar Tasya, Anastasya Putri Alisya Firdaus," ucap lelaki itu tegas. Tidak ada basa-basi, dia langsung to the point, bahwa dirinya ingin melamar putri Raihan.
"Nama kamu siapa?" tanya Raihan tak kalah tegas. Sebab, dia tidak mau jika seorang lelaki datang dan lelaki itu akan menyakiti anaknya. Terlebih lelaki ini menginginkan Tasya untuk menjadi istrinya.
"Saya Muhammad Hikam Al Farisy, saya kakak tingkat Tasya waktu kuliah di UIN Om, Tante," kata Hikam.
Ya, lelaki itu adalah Hikam. Kakak tingkat Tasya saat kuliah S1 dulu. Tasya tak menyadarinya jika Hikam juga memiliki perasaan terhadapnya.
"Mohon maaf sebelumnya, Tasya sedang melanjutkan kuliah di Mesir, dan saya tidak bisa menjawab tanpa sepengetahuan dia," kata Raihan tegas.
Hikam tampak berpikir, mengapa Tasya tak memberitahunya jika dia melanjutkan kuliah di Mesir?
"Saya akan menunggu Tasya Om, Tante," katanya sambil melirik ke arah Raihan.
Raihan melirik istrinya.
"Saya juga masih kuliah Om, Tante, di Yaman," katanya lagi.
Raihan mengangguk, "Saya tidak melarang kamu untuk melamar putri saya, tapi alangkah baiknya, jika menunggu putri saya pulang dari Mesir, lalu kamu balik lagi kesini," ujar Raihan. Iya, Raihan tidak akan mengambil keputusan sepihak. Ini kehidupan yang akan Tasya jalani nantinya. Dia ingin melihat putrinya bahagia.
Dengan senang hati, Hikam akan balik untuk melamar Tasya.
"Baik kalau begitu Om, Tante. Saya permisi untuk pulang, Assalamualaikum," ucap Hikam sambil menangkupkan kedua tangannya.
Setelah kepulangan Hikam, Maira menatap Raihan.
"Mas yakin, mengizinkan Tasya menikah muda?" tanya Maira pada Raihan. Bukannya Maira tak suka, tapi alangkah lebih baiknya, Tasya fokus pada kuliahnya dulu. Jangan terburu untuk menikah. Karena menurut Maira, menikah itu bukan siapa cepat dia menikah. Akan tetapi, tentang kesiapan mental dan batin juga harus kuat. Menikah bukan perihal kesenangan saja. Melainkan akan ada guncangan didalamnya. Maira tidak ingin Tasya berhenti kuliah karena menikah. Cukup Maira saja yang tidak sekolah tinggi. Anak-anaknya jangan.
"Humaira ... dengerin Aku, Aku percaya sama Tasya dia pasti sudah dewasa, jika memang Tasya menerima lelaki itu, Mas akan mengizinkannya untuk menikah muda," kata Raihan sambil mengelus pipi istrinya.
"Ya, tapi kan Tasya masih kuliah Mas," ucap Maira seakan tidak ingin anaknya menikah muda.
"Kamu percaya sama Aku yah Humaira," kata Raihan memberikan kecupan singkat di dahi istrinya.
"Iyaudah, Aku setuju kalau begitu, tapi nanti Tasya harus menyelesaikan S2-nya,"
"Iya sayang,"
***
Hikam membanting tubuhnya di kasur empuk miliknya. Lega perasaannya saat ini, karena telah mengutarakan keinginannya sejak dulu. Dia baru berani untuk mengatakan ini semua pada orang tua Tasya.
"Sya ... Aku mencintaimu karena Allah, Aku akan memperjuangkan cinta ini," ucap Hikam lalu menutup matanya sejenak.
Perlahan dia menatap langit-langit kamarnya, semoga saja Tasya menerimanya sebagai calon suaminya nanti.
Hikam selalu menyimpan nama Tasya dalam setiap doanya. Dirinya begitu mencintai Tasya, sejak saat pertama kali Tasya ikut organisasi FSI waktu itu. Kebetulan dirinya yang menjadi ketua Forum Study Islam. Dimana organisasi ini mengajarkan banyak hal terutama ilmu agamanya. Sejak angkatannya Hikam menjadi ketua, dia selalu menghindari kontak mata kepada gadis itu. Dia takut menatap mata Tasya membuatnya lalai dan terus membayangkan Tasya. Itu termasuk zina pikiran. Tidak baik memikirkan wanita yang bukan mahramnya.
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara k*********a; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.(QS. An-Nuur ayat 30)
Hikam paham dengan Hadist ini. Bahwa lelaki maupun wanita harus menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya.
Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah Iblis. Barang siapa yang menundukkan pandangannya dari keelokan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya manisnya iman sampai hari kiamat.
Maka dari itu, Hikam selalu menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya.
Tapi pernah sekali Hikam tanpa sengaja menatap mata cokelat Tasya. Wanita dengan cadarnya itu membuat Hikam jatuh hati kepadanya.
Hikam tahu, ini perasaan yang tak biasa. Perasaan ini menunjukkan, bahwa keinginan untuk memilikinya sangatlah besar. Terlebih ketika tahu Tasya seorang wanita yang taat beribadah.
Sejak saat itu, dia merasa ini bukan dirinya. Dia selalu tersenyum dikala sendirian. Seperti saat ini, dia tersenyum mengingat dia akan melamar Tasya lagi.
Rasanya dia ingin cepat-cepat membawa Tasya ke KUA untuk melakukan ijab kabul.
Astaghfirullah ... Kam, Kam, sadar Kam. Dia masih belum mahram. Jadi sabar dulu.
Perjuangkan cinta karena Allah, gapailah ia dengan doa di sepertiga malam.
***