Kalau lo belum bisa melupakan hati lama, jangan mencari tempat singgah baru sebagai pelampiasan.
•••
"Kak Dara kok tega gitu sih?"
"Asli, gak nyangka gue sama sifat Dara."
"Gue kira polos, ternyata suhu~"
"Ho'oh, gila banget. Udah ada rumor kalau dia itu ngejer-ngejer Kak Suga, eh masih mau ngembat Kak Khalid juga."
"Hm, bikin rusak hubungan Kak Mpus aja tuh cewek!"
"Emang gimana sih ceritanya?"
"Itu, Kak Mpus sama Kak Khalid putus karena Kak Dara."
"Kok bisa?"
"Kak Dara tuh ngebet sama Kak Suga, tapi ditolak sama dianya. Eh Kak Khalid emosi sama Kak Suga jadi mereka nge-war kemarin di kantin, terus Kak Mpus agak gak terima karena cowoknya protektif banget sama Kak Dara. Putus deh mereka."
"Beneran putus?"
"Yoi, mereka gak ke kantin berdua lagi terus gak ngepost di sosmed."
"Oh ya, foto-foto Kak Khalid di sosmed Kak Mpus aja di hapus."
"Kak Dara perusak hubungan couple fav sekolah kita!"
"Jadi fix putus?"
"Hm."
Gosip mereka semakin beredar dari mulut ke mulut dah menjadi trending topik di sekolahnya. Dara bersembunyi di balik tembok tangga guna mendengar pembicaraan adik kelasnya yang sedang berdiskusi mengenai kejadian yang terjadi kemarin.
Gadis itu memejamkan mata dengan menggigit bibirnya kuat-kuat sembari menahan air mata yang ingin berjatuhan. Setelah hari itu berlalu, perang dingin terjadi di antara circle Khalid dan circle mereka. Namun, bedanya adalah Fuspita tidak marah dengan dirinya atau menahan amarah untuk tidak menjauhi Dara yang sudah merusak hubungan mereka.
Imbas dari hubungan mereka terkena Alpiyya dan Nabil yang tidak bisa bertemu di sekolah demi menghargai sahabatnya masing-masing. Sedangkan Rana hanya bisa mengoceng panjang lebar terhadap Khalid dan Suga agar tidak terlalu kekanak-kanakan kemarin.
"Lo ngapain?" tanya seseorang membuat Dara tersentak pelan.
Dia mendongak dan tersenyum manis menatap Fuspita dan Rana yang berdiri tak jauh di hadapannya. Dara menggeleng pelan dan berkata, "lagi nunggu kalian biar bareng-bareng ke kelas, yuk ah."
"Gak nyangka Kak Mpus masih mau ngeliat muka cewek yang ngerusak hubungan dia, hahaha."
"Kalau gue sih, udah gue labrak terus gue buang tuh sahabat yang kek tai."
Fuspita dan Rana membelakkan matanya ketika mereka mendekat, suara-suara adik kelas yang sedang menggosipkan kian terdengar jelas dari tempat Dara berdiri.
Fuspita dan Rana berjalan cepat menghampiri mereka membuat Dara kelimpungan walaupun tetap mengikutinya. Adik kelas yang berjumlah lebih dari lima orang itu sangat terkejut bahkan ada yang terjatuh saat Fuspita memunculkan dirinya dan menatap tajam mereka semua.
"Tau apa lo tentang hubungan gue?!" Fuspita membentak emosi membuat mental penggosip tersebut menciut dan gemetar ketakutan.
"Kalian seharusnya belajar, bukan ngegosip. Bahagia denger kisah sedih orang lain?!" Kini, Rana ikut berteriak yang menyulut perhatian di sekitar mereka. Murid-murid yang sedang berjalan lewat atau bertempat kelas di koridor bawah pun kian berdatangan.
"Kalau punya mulut itu dipakai buat ucapan yang baik-baik karena bakal balik lagi ke diri kita sendiri. Mikir dulu sebelum ngomong, emang ucapan kalian itu udah yang paling bagus, gitu?!" hardik Fuspita tajam dengan tatapan sinisnya. Dia menaikkan sebelah senyuman membuat gadis itu terlihat menyeramkan apalagi dengan watak kerasnya.
Para penggosip itu diam menunduk dengan bahu bergetar tanpa ada perlawanan. Membuat Rana terkekeh sinis, "Hahaha, mental lo cuma bisa NGOMONGIN ORANG dari BELAKANG aja ya? Pas disamperin, CUPU banget," sinisnya menekan setiap perkataan dan sedikit berteriak.
"Ma-ma-maaf, Kak!"
Dara menghembuskan napasnya yang terasa berat lalu gadis itu berjalan mendekati Fuspita dan Rana untuk berdiri di tengah-tengah mereka. Dara menyentuh pelan lengan mereka berniat menenangkan dan berbisik pelan, "udah ya? Ke kelas yuk? Gue fine."
Fuspita yang mengacuhkan permintaan Dara pun maju dan menunjuk-nunjuk biang gosip sembari berujar sinis, "udah se-cantik apa banget lo sampe berani ngegosipin Dara? Lo lebih pinter dari dia? Lo lebih baik dari dia? Lo lebih terkenal dari dia? Lo punya jabatan apa di sekolah ini? Lo lebih kaya dari dia? Kalau lo masih jauh di bawah dia, jangan berani-beraninya ngucapin nama dia dari mulut sampah lo itu!"
Suasana di sana kian tegang, tidak ada yang berani mengeluarkan suara sekecil apapun apalagi beranjak pergi. Aura yang dikeluarkan Fuspita sudah menyihir setiap kaki untuk diam di tempat dan mendengarkan apa yang ingin gadis itu ucapkan. Bahkan Rana yang tadinya seratus persen emosi malah menjadi sedikit takut dengan Fuspita.
"Mpuss ...." Dara berbisik lirih dengan kepala menunduk.
Fuspita meliriknya sejenak dan membalikkan badannya untuk menatap seluruh murid sekolah mereka yang berkerumun guna menyaksikan perilakunya tadi.
Melihat itu membuat Fuspita menyeringai tajam. "Kalau kalian semua gak tau ceritanya, jangan jadi detektif yang sok tau malah jadi hoax. Berita-berita yang kalian sebarkan itu ngebuat gue, Dara, Khalid, dan Suga tertekan. Kalian bisa bayangin dampaknya? Kalian mau tanggung jawab?!" Fuspita berteriak nyaring membuat suaranya mendengung.
"Mulut kalian itu seperti pisau, bisa membunuh orang. Harusnya kalian lebih hati-hati lagi dalam berucap karena kalau ada satu orang lagi di sekolah ini yang berani ngomongin Dara ... gue patahin kepala kalian!"
Setelah mengancam dengan tatapan tajamnya tersebut, Fuspita menarik Dara dan Rana untuk pergi ke lantai dua. Di mana kelas mereka berada.
Meninggalkan para biang gosip, Khalid, Nabil, dan Suga yang mendengarkan dari tempat yang berbeda. Serta, beberapa guru yang menyimak dari awal sampai akhir tanpa ikut campur karena mereka percaya kepada Dara.
Sebegitu kuatnya reputasi Dara hingga dipercayai oleh seluruh guru yang ada di sana.
•••
"Apa sih, Njing!" Khalid menatap kedua mata Suga yang tampak dingin menusuk menatapnya. Tadi, lepas Fuspita pergi dari kerumunan, Suga langsung mendekati Khalid dan menyeret pemuda itu layaknya membawa kucing untuk ke gudang lama, bertujuan meluruskan kesalahpahaman. Tentu, Nabil membuntuti bak anak anjing setia kepada tuannya, hahaha. Kidding!
"Bisa berenti jadi childish dan kasih gue kesempatan buat ngejelasin?" tanya Suga tajam.
Khalid berdecih pelan mendengarnya. "Ck, buat apa lagi gue dengerin anjing menggonggong, hah?!"
Nabil memutar bola matanya muak melihat tingkah dua orang yang memiliki gengsi seperti psychopath itu. Dia maju dan berdiri tak jauh dari keduanya. "Diem lo berdua! Sekarang, Khalid tutup congor lo dan dengerin penjelasan Suga, dan lo Sug! Jelasin ke Khalid tanpa ada dusta di antara kita!"
Khalid dan Suga mendengkus malas. Namun, tak urung Khalid mengangguk tanpa menatap Suga setelah menyingkirkan egonya.
Suga menyeringai kecil sembari memasukan kedua tangannya ke saku celana. Lalu berkata, "gue suka sama cewek lain."
Khalid menaikkan sebelah alisnya acuh. "Terus?"
"Gue gak bisa nerima Dara," katanya final. Menutup pembicaraan.
Khalid menyeringai lebar sambil mengikuti gaya Suga dengan angkuh. "Terus?"
Nabil mencebikkan bibirnya kesal. "Lid—"
"Lo masih pacaran kan sama dia?" Khalid segera melanjutkan omongannya memotong ucapan Nabil membuat Suga menatapnya bingung.
"Cuma sekedar suka kan? Belum ada ikatan lebih di agama?"
Suga menatapnya tajam.
"Kalau gitu gampang, sekarang jalur tikung menikung kian tajam. Yang nikah bisa cerai, masa yang cuma pacaran gak bisa ditikung?"
Khalid terkekeh sinis dengan senyuman sebelah lalu meninggalkan mereka yang terbengong menatap ucapan sarkas pemuda itu.