52

1605 Kata

Pendopo Wicaksana sore itu diterangi oleh cahaya temaram dari matahari yang hanya tersisa serpihan emas di sela-sela tiang kayu jati. Angin membawa aroma teh melati yang baru diseduh. Raden Ayu berjalan perlahan, membawa nampan berisi teko teh, dua cangkir, dan beberapa camilan yang tadi disiapkan para abdi. Tangannya masih sedikit gemetar setelah sidang, tapi langkahnya tetap anggun. Leyla—wanita elegan dengan senyum keibuan—duduk di ruang utama dengan Linggar yang duduk di sampingnya. Tersenyum melihat Ayu yang datang dari arah belakang. Eyang Wicaksana dyduk di depan para tamunya. Tegap dengan rambut memutih, namun senyumnya… selalu teduh. Begitu Ayu mendekat, Eyang mengangguk pelan. “Matur nuwun, Leyla… sampun nganggep Ayu kados putrinipun piyambak.” (Terima kasih, Leyla… sudah m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN