Langit Jogja malam itu masih basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu pendopo Arga berpendar temaram, memantulkan cahaya di kaca ruang tamu tempat Sekar duduk dengan wajah tanpa ekspresi. Gaun satin tipis membalut tubuhnya, sementara jemarinya sibuk memutar cangkir teh yang sudah dingin. Ketukan pelan terdengar di pintu. Sekar menoleh, senyum tipis melintas di wajahnya. Dirinya sudah cukup lama menunggu seseorang. Dan Sekar bisa bernafas lega saat orang yang dia tunggu sepertinya sudah datang. Dan benar bukan... “Masuklah, Pram.” Pintu terbuka, memperlihatkan sosok pria berjaket hitam dengan tatapan tajam penuh perhitungan. Pram melangkah masuk tanpa banyak bicara, pandangannya langsung menelusuri wajah cantik di depannya. Seakan tak ingin ketahuan Pram menarik Sekar untuk masuk ke dalam kam

