32

1842 Kata

Malam kian pekat. Hujan benar-benar berhenti, hanya suara air menetes dari ujung genting yang terdengar di antara rintik senyap halaman belakang. Sisa dari air yang turun dari langit. Di dapur kecil yang masih hangat oleh tungku arang, Mbok Ratri duduk di kursi kecil berbahan kayu, wajahnya muram menatap nyala api kecil yang mulai meredup. Pak Cahyo meletakkan kendi air di atas meja bambu, lalu menatap istrinya lama. “Wis, Mbok. Aja dipikir terus. Mengko malah lara atimu,” ucapnya pelan, mencoba menenangkan.* Namun Mbok Ratri menggeleng lemah. “Piye aku ora mikir, Pak… cah ayu kuwi, cah sing paling suci sing tau tak delok nang pendopo iki. Wong’e alus, ora nate njawab, ora nate nuduh, padahal saben dina disakiti.” * Suara Mbok Ratri bergetar, matanya mulai berkaca. “saya yang melihatnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN