"Cah Ayu!" Namanya dipanggil lagi. Lebih pelan kali ini. Seakan lebih mendalam dengan panggilan itu. Ayu menutup mata sejenak. Menguatkan diri dan meyakinkan diri. Sebelumnya dia menghembuskan napas panjangnya. Lalu perlahan… ia membalikkan badan. Dan di sanalah dia. Berdiri beberapa langkah darinya—tinggi, tegap, dengan setelan kemeja gelap yang lengan bajunya digulung hingga siku. Wajah itu tetap sama, hanya garis rahangnya kini sedikit lebih tegas. Mata coklat madunya itu menatapnya dengan ketenangan yang membuat d**a Ayu terasa sesak. Raden Linggarjati Emir Tanumaja. Tidak berubah. Dan di saat yang sama—terasa begitu jauh. “Benim güzelliğim,” panggil Linggar lirih. (Cantikku) Satu frasa pendek itu seakan merobohkan dinding yang Ayu bangun berbulan-bulan. Matanya memanas. Tenggo

