Hamparan kebun teh itu membentang luas, hijau, dan basah oleh embun pagi. Udara di dataran tinggi terasa dingin, menyusup sampai ke paru-paru, membawa aroma tanah dan daun teh yang baru dipetik. Raden Arya berdiri beberapa langkah di depan, kedua tangannya masuk ke saku mantel tipisnya, pandangan lurus ke depan—namun pikirannya jauh dari sekadar memandang. Di sampingnya, Widia berjalan dengan tablet di tangan. Langkahnya tenang, profesional, nada suaranya terjaga rapi sebagaimana kebiasaannya. Selayaknya dua orang yang memang sedang meninjau lokasi proyek. “Produksi semester ini relatif stabil, Raden Arya,” ujar Widia sambil membuka beberapa data. “Meski ada sedikit penurunan di blok utara karena perbaikan jalur irigasi. Tapi kualitas daun justru meningkat.” Arya mengangguk singkat. “P

