81

1379 Kata

Arya menangkap semua dari ekor mata. Saat mereka sama-sama melangkah untuk keluar dari lahan milik keluarga Wicaksana. Langkah Widia sempat goyah—hanya dalam hitungan detik—namun cukup untuk membuat hak kecil itu bergeser, tumitnya mendarat tak sempurna di tanah kebun yang lembap. Widia reflek menahan diri, menarik napas pendek, berusaha tetap bersikap tenang meski wajahnya sedikit memucat. "Hampir saja." gumam Widia dengan tangan yang mengelus d**a. Ya... Hampir saja, kalau saja dirinya tak berhasil mengimbangi tubuhnya, bisasaja dirinya sudah terpeleset. "Kamu nggak papa?" Raden Arya sempat menahan lnya dengan menarik lengan Widia. "Terima kasih Raden, saya tidak apa-apa." Widia mengangguk dengan senyum cantiknya. “Sebentar,” suara Arya terdengar tenang namun tegas, melepaskan tan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN