Raden Ayu membuka laptopnya perlahan. Layar menyala, menampilkan deretan laporan yang baru saja masuk dari Indonesia. Nama Widia muncul di sudut layar, notifikasi dari pesan berlogo hijau yang memang tersambung dengan leptopnya dan juga lampiran dari email yang masuk. Pesan tersebut berjejer rapi dari laporan harian dan mingguan yang berfokus pada kondisi terakhir perkebunan dan pabrik di Solo. Dahi Ayu sedikit berkerut. Fokusnya tertarik sepenuhnya pada angka-angka dan catatan produksi. Meski raga berada di Turki, tanggung jawab itu tak pernah ia tinggalkan. Jari-jarinya bergerak cekatan di atas touchpad, sesekali mengetik balasan singkat. Dengan fokus yang sama sekali tak teralihkan, Raden Ayu berusaha sebaik mungkin untuk menghandle pekerjaan yang ada. Dirinya yang berada di Turki dan

