Eyang Adiguna meneguk teh hangatnya perlahan—Teh yang diproduksi oleh sahabatnya Wicaksana dan di pasarkan oleh Maheswara group—Namun pandangannya tak lepas dari sosok di hadapannya. Raden Arya. Mata tuanya semakin tajam saja mengamati perubahan dari cucu semata wayangnya itu. Arya saat ini duduk santai di kursi rotan, tubuhnya sedikit bersandar, satu kaki terlipat nyaman. Ada sesuatu yang berbeda—sangat berbeda. Sejak kepulangannya dari Solo, Arya seperti membawa cahaya lain dalam dirinya. Bukan lagi lelaki dingin dengan rahang mengeras dan sorot mata yang selalu waspada. Lebih memanusiakan, manusia. Itu yang Eyang tangkap beberapa hari ini. Kini… senyum tak henti terlukis di wajah tampannya. Bibir yang dulu irit bicara, kini mudah terangkat, bahkan sesekali melengkung tanpa alasan y

