Pagi mengalir pelan di pendopo Wicaksana. Matahari Solo jatuh lembut melalui ukiran kayu jati di langit-langit. Udara membawa aroma wedang jahe dari pawon belakang. Raden Arya keluar dari kamar tamu. Kepalanya masih berat, tetapi hatinya jauh lebih berat. Semalam, dia berantakan. Semalam, mantan istrinya, Cah Ayu, merawatnya. Kejadian yang seharusnya tak terjadi. Karena malu saja dirinya seperti orang tak waras. Dan memang itu adanya. Dan pagi ini, ia ingin mengucapkan maaf dan terima kasih. Hal yang selama ini sulit ia lakukan. Akan berusaha ia lakukan untuk menjadi lebih baik, atau.. Bolehkah berharap untuk menarik hati mantan istrinya lagi? Kepala Raden Arya melongok mencari keberadaan mantan istrinya itu. Begitu ia melangkah keluar, ia berpapasan dengan Mbok Retno yang membawa nam

