Cahaya matahari pagi merembes masuk melalui celah jendela kayu jati, membentuk garis emas di lantai. Burung-burung di halaman bersahutan, tapi di dalam kamar suasana tamoak hening. Raden Arya mengerjap pelan. Kelopak matanya berat, seolah dipenuhi pasir. Kepala terasa berdenyut hebat, seperti ada dua palu saling menghantam di balik pelipisnya, sedangkan telinganya berdenging, serasa banyak semut yang memenuhinya. “Agh…” Arya memijit pelipis. Napasnya kacau. Lidahnya terasa pahit. Tenggorokannya kering seperti tak disentuh air berhari-hari. Pengar melanda dirinya saat ini. Berapa alkohol yang masuk ke tubuhnya, Arya tak ingat. Matanya menelusuri ruangan. Dinding kayu lawas dengan warna yang masih mengkilat. Kain batik yang dijadikan dekorasi, terlihat sekali aksen jawanya. Bantal tipis

