Langit sore itu seperti menumpahkan seluruh kesedihannya. Awan menggulung kelam, menggantung berat di atas kota yang mulai diterpa hujan. Butir air jatuh satu per satu di sela daun, menimbulkan suara lembut yang menyayat sunyi. Tetesan itu seakan tau apa yang dirasakan oleh wanita ayu yang sedari tadi menatap kosong ke atas langit. Raden Ayu duduk di bangku besi tua di pinggir taman kecil, tepat di seberang jalan dari gedung megah bertuliskan Maheswara Group. Gedung tempat suaminya memimpin. Gedung yang hari ini terasa begitu asing—seperti lambang dari luka yang tak bisa disembuhkan oleh waktu. Perlakuan tadi begitu membuat Ayu merasa direndahkan. Tangannya menggenggam ujung dress formal yang dia kenakan, menatap kosong ke arah lalu-lalang kendaraan. Rasa malu, marah, dan kecewa bergan

