Keberania Linggar

1755 Kata

Hujan belum juga reda ketika Langit Jogja berubah jadi selapis abu yang kelam. Air menetes dari ujung rambut Ayu, menelusuri lehernya yang pucat, meski jas Linggar yang hangat sudah membungkus tubuhnya. Mobil hitam milik Linggar berhenti di tepi jalan sebentar, pria itu menatap keluar jendela, lalu menatap Ayu yang menunduk di sampingnya. “Naiklah,” katanya datar tapi tegas. “Saya antar kamu pulang.” Ayu menoleh pelan. Rambutnya yang sedikit berantakan jatuh di bahu, wajahnya basah dan pucat. “Tidak usah, Mas. Saya bisa pulang sendiri.” Linggar hanya mengangkat alis. “Pulang sendiri, dengan tubuh basah dan sepatu yang sudah becek begitu?” Nada suaranya sedikit mengeras, tapi tetap dengan ketenangan khasnya. “Apa kamu pikir saya tega membiarkanmu begitu saja, Cah Ayu?” Ayu menghela nap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN