Tangan Raden Ayu sudah melingkar erat di leher tegap Linggar. Saat tangan besar itu menelusupkan ke bawah lekukan lutut dan punggung Ayu, untuk di gendong. Bukan karena manja—melainkan refleks. Refleks seorang wanita yang tubuhnya masih gemetar, kakinya belum benar-benar kuat untuk berpijak. Linggar mengangkatnya tanpa ragu. Lengan kokoh itu benar-benar menompang tubuh Ayu untuk dia bawa ke dalam Yayasan. Tubuh Ayu terasa ringan—terlalu ringan untuk seseorang yang menanggung beban sebesar itu beberapa waktu terakhir. “Mas—” suara Ayu lirih, nyaris tak terdengar. “Ssst,” Linggar menunduk sedikit. “Pegang yang erat, Cah Ayu.” Ia melangkah cepat menuju bangunan utama yayasan. Pak Wiryo yang melihat dari kejauhan langsung bergegas mendekat, wajahnya cemas. Bu Mita—pengasuh utama—mengikut

