51

1510 Kata

Kedua kelopak itu menutup bersamaan dengan suara pintu yang tertutup. Ketika Amara menarik napas, mengerjap pelan untuk mencoba mengusir rasa panas itu pergi. Kedua matanya tiba-tiba menyengat. Membuatnya tak nyaman. Perasaan yang terlanjur bercokol terlalu dalam itu tidak mau pergi. "Amara?" Amara menoleh untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah. Dia melihat Ana berlari cemas ke arahnya. Dan Rail menerjang dirinya dengan pelukan. Membawa Amara pada satu dekapan penuh gelisah dan rasa takut. Rail hanya ingin menghiburnya, dan Amara berusaha memaklumi pria itu sekarang. "Aku baik-baik saja," dustanya. Merasakan bahu Rail gemetar di dagunya. "Aku serius. Di dalam ada Tuan Hinto. Dia akan membantu. Kau tenang saja. Jangan terlalu berlebihan dalam mencemaskanku." Rail menggeleng s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN