Rail menarik napas. Matanya memandang lurus pada Davion yang berdiri cemas, bersandar pada tembok keras nan dingin. Ketika pria itu hanya memakai pakaian berlengan panjang berwarna hitam polos dan celana jins biasa. Topinya telah ditanggalkan. Tersampir di atas kursi. Mata Davion tertuju ke arahnya ketika dia mendekat. Meminta Davion untuk duduk saat Rail memberikan sebotol air minum dan makan malam dalam bentuk boks berukuran sedang. Meminta agar Davion memerhatikan dirinya sendiri yang lelah. "Bagaimana kabar—," Davion tampak bingung. "—Tuan Larius?" "Dia baik, entahlah," kata Rail lirih. Melirik Davion tanpa ekspresi. "Dia menitip pesan padaku. Kalau kau luang, kau boleh menemuinya kapan pun. Itu kalau kau siap. Dia tidak akan memaksa. Kau tahu, dia hanya ingin bicara. Beberapa hal.

