"Aku membawa makanan manis. Kau mau?" Amara hanya melirik, menatap datar pada bungkusan plastik berisi jajanan ringan. Saat dia kembali menatap Davina dan tertegun. "Kau membuatnya?" "Hmm. Pagi-pagi sekali. Davion memberi kabar di pagi buta. Dan aku berpikir untuk membawa bingkisan. Kau suka?" Amara menipiskan bibir. Memeriksa adakah makanan yang ingin dia cicipi setelah pilihannya jatuh pada pie s**u manis. "Terima kasih." "Sama-sama." Davina menelisik jauh pada diri Amara yang membuka bungkusan pie s**u. Melihat bagaimana ekspresi lelah itu tergambar. Amara tanpa riasan masih terlihat sangat memikat. Tidak salah saat Davion menyebutnya jelita. Sahabatnya sudah mabuk dengan gadis ini, dan Davina sama sekali tidak keberatan meski berita yang menyudutkan Amara terus ada. Davion tidak

