21

1894 Kata

"Terima kasih." Setelah Davion mendapatkan obatnya, dia lekas menghubungi Davina yang masih menunggu di kafe. Membiarkan Davion yang mengambil resep obat itu dan bukannya Davina sebagai si penderita. Kakinya berhenti melangkah saat dia melihat Amara yang masuk melalui pintu sebelah barat. Berjalan tenang sembari memperbaiki ikatan rambutnya, tidak lagi peduli pada sekitar dan tetap melangkah lurus ke depan. Davion melihatnya pergi ke bangsal kelas terbaik. Saat rumah sakit menyediakan beberapa tempat sesuai dompet para pasien. Amara jelas tidak akan memilih tempat biasa dan berdesakan untuk dirinya sendiri. Kakinya membawanya pergi menyusul gadis itu. Bukan melarikan diri dan pergi untuk menunggu bis di halte seperti biasa. Dia mencari, masih berusaha mencari saat dia melihat Amara ber

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN