39. Menata Hidup

1030 Kata

Alara terbangun karena tepukan seseorang di pundaknya. "Neng, udah sampai!" Mata Alara mengerjap beberapa kali. Ia pun mengucap terima kasih pada kernet bus yang telah membangunkannya. Ia turun dari bus setelah memberikan sedikit tip pada sang kernet. Udara segar di subuh hari menyapanya. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. "Bismillah, semoga hari ini dan seterusnya perasaan damai ini akan terus hadir," gumamnya pelan. Suara azan Subuh menuntun langkahnya menuju sebuah masjid yang ada di terminal. Gadis itu menyimpan kopernya di dekat tempat wudhu sebelum ia melepas jilbab dan menggulung lengan gamisnya hingga ke siku. Sejak semalam Alara memakai pakaian yang menutup sempurna auratnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Sejak ia tinggal sementara di rumah Roland,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN