Avaric Sashi melihatku penuh tanya ketika aku mengucapkan penjelasanku sebelumnya. Aku khawatir salah berbicara lagi, jadi aku mencoba mengingat apa yang barusan kukatakan hingga menyinggungnya. Sepertinya aku hanya mengatakan bahwa aku tidak ingin membuat kecewa calon mertua. Itu hal yang wajar bukan? Mana mungkin aku sudah berjanji akan mengantarkan Ayah dan Bunda ke bandara, tapi harus batal hanya karena tidak bisa menahan nafsu? Lagipula Sashi dan nafsunya memang sedang banyak membuatku kewalahan. Bayangkan saja betapa intensnya setiap malam yang kulalui selama beberapa minggu terakhir. Aku tentu senang dengan perubahan Sashi yang seperti ini, namun aku juga terkadang khawatir. Penuh nafsu kadang membuatku hilang kendali. Jadi jika dibuka data keterlambatanku ke kantor akhir-akhir

