Sashi "Aku butuh kamu untuk bisa istirahat," itulah perkataan terakhir Ava sebelum aku hanya bisa mendengar dengkuran halus melalui sambungan telepon saat ini. Dia memang tadi menghubungi saat aku baru saja akan menutup mata untuk tidur. Sepanjang hari ini, jika aku boleh jujur aku memang selalu memikirkan mengenai keadaannya. Semalam ketika dia pergi berpamitan untuk pergi ke Jakarta, aku belum merasa ada masalah sedikitpun. Namun ketika aku berbangun keesokan paginya dan melihat jam dinding sudah menunjukkan waktu lewat dari jadwal keberangkatannya, muncul juga kegusaran dalam hatiku. Aku gusar mengetahui bahwa Ava benar-benar pergi ke Jakarta sendiri tanpa membawaku. Aku tidak sama sekali mengharapkan dia memaksaku untuk pergi, seperti yang sudah kubayangkan. Hanya saja aku tidak da

