Toples yang tengah berada di dalam genggaman tangan Kiran terjatuh di lantai saat Kiran mendengar suara bariton berat yang tidak asing di indera pendengaran Kiran. Mama Naya yang tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Dave tercengang saat mendengar suara bariton sang suami. Pak Dave lantas mengalihkan tatapan ke sumber suara setelah mengutarakan niat dan tujuan datang ke rumah keluarga Kiran.
Ya. Pak Dave memiliki tujuan lain dalam kunjungan ke rumah keluarga Kiran. Pak Dave tidak hanya ingin melaporkan sikap Kiran hari ini. Namun pak Dave juga ingin mengenal orang tua Kiran sebelum menyampaikan niat baik kepada keluarga Kiran. Pak Dave merasa penasaran dengan sikap yang dimiliki oleh Kiran sejak pak Dave mengajar di kelas Kiran. Sikap Kiran yang berbeda dari gadis lain menarik perhatian pak Dave untuk mengenal Kiran lebih jauh. Bahkan Pak Dave ingin mengenal Kiran lebih dekat sejak pertama bertemu dengan wanita tomboy yang bernama Kiran.
“Perkenalkan saya Dean papa dari Kiran. Saya merestui kamu jika kamu benar-benar ingin menikah dengan anak saya, Kiran,” ucap papa Dean setelah duduk di samping sang istri lalu mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Pak Daren
“Saya Daren Antares, Pak Devan. Dosen killer yang selalu diceritakan oleh Kiran kepada Pak Dean dan ibu Naya. Saya senang dapat berkenalan dengan Pak Dean dan Ibu Naya,” balas Pak Dave sembari meraih uluran tangan dari Dean
Dean tertawa dengan apa yang diucapkan oleh Pak Dave lalu menoleh ke arah Kiran yang tampak menekuk wajah. Ya. Dean dan Naya tidak asing dengan julukan dosen killer yang selalu diceritakan oleh Kiran saat hari rabu pagi. Baik saya Kiran terlambat bangun atau tidak. Dosen killer yang tega memberikan nilai C kepada Kiran di semester empat sehingga Kiran merasakan kebencian yang mendalam terhadap Pak Dave sang dosen killer. Tugas yang selalu dikumpulkan dan nilai yang tidak terlalu buruk didapatkan oleh Kiran saat mata kuliah sang dosen killer. Namun entah kenapa Pak Dave memberikan nilai C kepada Kiran di semester empat.
“Saya juga senang berkenalan dengan anda Pak Dave. Kapan anda akan melamar anak saya Pak Dave?” lanjut papa Dean
“Papa!” pemikiran Kiran saat papa Dean kembali membahas lamaran Pak Dave.
Papa Dean mengacuhkan Kiran yang hendak melayangkan protes. Papa Dean mengacuhkan Kanaya yang hendak melayankan protes. Papa Dean kembali mengajak Pak Dave berbincang untuk membahas lamaran Pak Dave. Kiran mendengus sebal mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya dan Pak Dave sang dosen killer yang sangat menyebalkan bagi Kiran. Papa Dean tidak mengizinkan Kiran beranjak dari tempat duduk sehingga Kiran dengan terpaksa tetap duduk di tempat sembari mendengarkan perbincangan kedua orang tuanya dan Pak Dave sembari tetap memakan camilan dengan memayunkan mulut.
Tanpa disadari oleh Kiran, Pak Dave yang tengah berbincang m dengan papa Dean sedari tadi mencuri pandang ke arah Kiran yang tengah memakan camilan dengan sikap yang cuek namun menarik perhatian Pak Dean. Papa Dean yang menyadari jika dosen killer yang selalu diceritakan Kiran selama ini mencuri pandang ke arah sang putri sulung mengulum senyuman dengan perasaan bahagia.
Ya. Papa Dean merasa bahagia ada yang memberikan perhatian kepada si sulung Kiran. Bahkan papa Dean dapat melihat dari pendar netra sang dosen killer ada cinta di dalam sana terhadap si sulung Kiran. Tidak ada alasan lagi bagi papa Dean untuk menolak lamaran Pak Dave kepada Kiran. Mungkin dengan menikah sikap Kiran akan berubah sedikit demi sedikit. Itulah hadapan papa Dean saat ini terhadap Kiran setelah menikah dengan Pak Dave.
“Baiklah Pak Dave. Saya menunggu Pak Dave dan keluarga berkunjung ke rumah kami besok malam seperti apa yang Pak Dave sampaikan tadi,” tegas papa Dean.
“Baik Pak Dean. Saya akan membawa kedua orang tua beruntung ke rumah Pak Dean besok malam. Saya juga sudah tidak sabar untuk menikah dengan Kiran, Pak Dean,” balas Pak Dave.
Kiran tersedak mendengarkan perbincangan antara papa Dean dan Pak Dave sang dosen killer. Kanaya menatap papa Devan dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Namun papa Dean kembali mengacuhkan Kiran. Tekad papa Dean telah bulat untuk menerima lamaran Pak Dave. Papa Dave memiliki keyakinan jika Pak Daren sang dosen killer laki-laki yang baik dan mencintai si sulung Kiran. Melihat air muka Kiran yang tidak bersahabat, mama Naya yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik perbincangan antara papa Dean dan Pak Dave berusaha menjadi penengah antara sang suami dengan si sulung Kiran sebelum pernah dunia yang kesekian kali terjadi antara papa dan anak itu.
“Mari kita makan siang dulu. Waktu makan siang juga sudah tiba mas Dean, Pak Dave dan Kiran. Saya hari ini masak banyak untuk makan siang kita,” sahut mama Naya.
Kiran berdesis mendengar apa yang diucapkan oleh mama Naya. “Mama.. Ngapain juga mengajak dosen killer makan siang di rumah. Dosen killer kan bisa makan siang di luar kali Ma."
“Kiran.. Tidak baik kamu seperti itu. Apalagi dosen killer kamu di kampus akan jadi suami kamu sebentar lagi Kiran,” tukas papa Dean
“Terserah papa. Kiran tidak mau makan siang hari ini!” Kiran hendak melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu namun papa Dean menghentikan langkah kaki Kiran.
“Kalau kamu tetap seperti ini, motor kesayangan kamu akan papa jual,” pungkas papa Dean.
Tubuh Kiran seketika membeku saat mendengar apa yang diucapkan oleh papa Dean. Kiran menghela nafas kasar lalu melangkahkan kaki menuju ruang makan dengan lesu. Pak Dave yang ingin membuka mulut kembali mengatupkan mulut saat papa Dean mengajak Pak Dave menuju ke ruang makan dan tidak menerima penolakan.
Dean, Naya, Pak Dave dan Kiran menikmati hidangan makan siang dengan suasana hening tanpa ada yang berani mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya dentungan sendok, garpu di atas piring yang memecah keheningan saat mereka tengah menikmati makan siang. Pak Dave yang duduk di hadapan Kiran terus mencuri pandang saat tengah menikmati hidangan makan siang. Apa yang dilakukan oleh Pak Dave tukas luput dari perhatian Dean dan Naya. Sedangkan, Kiran yang tengah menjadi pusat perhatian tampan acuh dan tetap menikmati hidangan makan siang yang sangat lezat.
Ya. Kiran sangat menyukai masakan sang mama yang selalu terasa lewat di lidah Kiran. Bahkan Kiran sering membawa bekal ke kampus jika tidak terlambat bangun. Bagi Kiran masakan mama Naya itu masakan terenak karena dibuat dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus. Pantas papa Dean sangat mencintai mama Naya karena mama Naya memiliki cinta yang tulus untuk papa Dean dan keluarga.