Lamaran Mendadak

1282 Kata
Kiran tercengang mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Dave dosen killer yang saat ini berdiri di samping Kiran. ‘Bagaimana dosen killer ini bisa tahu apa yang sedang aku ucapkan dalam hati,’ batin Kiran. Pak Dave mengulum senyuman melihat air muka Kiran saat ini. Bukan hal mudah bagi seorang Pak Dave untuk menerka apa yang ada dalam pikiran Kiran saat ini. Tak lama kemudian, bi Mia yang bekerja di rumah keluarga Kiran membuka pintu lalu mempersilahkan Kiran dan tamunya untuk masuk ke dalam. Pak Dave mengikuti langkah kaki bi Mia bersama dengan Kiran masuk ke dalam rumah keluarga Kiran yang mewah dan luas. Bi Mia mempersilahkan tamu nona mudanya untuk duduk di kursi ruang tamu lalu bi Mia pamit undur diri untuk memanggil nyonya besar Naya dan membuat minuman untuk tamu nona muda Kanaya. Sedangkan, Kiran meninggalkan Dave seorang diri di ruang tamu m menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Pak Dave hanya menggelengkan kepala melihat sikap Kiran yang tidak seperti gadis lain dan rasa penasaran Pak Dave kepada Kiran semakin tinggi. “Selamat siang. Saya orang tua dari Kanaya. Perkenalkan nama saya Naya. Apa ada yang bisa saya bantu Pak? Sebelumnya mohon maaf jika boleh tahu bapak ini siapanya Kanaya?” tanya Naya setelah berada di ruang tamu dan duduk di hadapan Pak Dave. “Selamat siang ibu Naya. Saya merasa senang bisa berkenalan dengan ibu Naya. Sebelumnya perkenalkan saya Dave dosen Kanaya di kampus,” balas Pak Dave dengan sopan Naya mengernyitkan dahi saat mengetahui sosok laki-laki yang saat ini tengah berada di hadapan Naya, “Apa Kiran membuat masalah lagi Pak di kampus?” Kini giliran Pak Dave yang mengernyitkan dahi setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Naya, mama dari Kiran mahasiswa Pak Dave di kampus. “Lagi? Mohon maaf ibu Naya, berarti ibu telah mengetahui jika Kiran selalu membuat masalah di kampus selama ini?” lanjut Pak Dave. Naya menghela nafas kasar sebelum menjawab apa yang diucapkan oleh Pak Dave, “Saya telah mengetahui bagaimana Kiran di kampus Pak Dave. Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas sikap Kiran selama ini di kampus kepada Pak Dave. Saya dan suami saya sudah berulangkali menasehati Kiran agar dapat berubah sikap dan kepribadian. Namun saya dan suami saya tidak tahu harus bagaimana lagi saat Kiran memutuskan untuk tetap dengan kepribadian yang ada saat ini. Mungkin ini pilihan hidup Kiran, Pak. Saya dan suami saya merasa bersyukur walaupun Kiran memilih kepribadian tomboy namun masih membatasi diri dalam pergaulan negatif Pak” terang mama Naya “Iya bu. Saya paham apa yang ibu dan suami ibu rasakan. Saya juga paham kenapa Kiran seperti itu. Mungkin Kiran masih mencari jati dirinya bu,” balas Pak Dave bersikap bijak “Iya Pak. Terima kasih atas pengertian dari Pak Dave. Sebelumnya saya mohon maaf apa hari ini Kiran membuat masalah kembali di kampus Pak? Setahun saya dan suami saya, Kiran hari ini berangkat dari rumah pukul enam lebih lima belas menit dengan mengendarai motor besar kesayangan Kiran, Pak. Kiran memberitahukan kepada kami jika hari ini ada kuliah pagi dengan dosen killer yang terkenal di kampus. Bahkan Kiran melewatkan sarapan pagi bersama kami hari ini agar tidak kembali datang terlambat di mata kuliah pagi ini Pak Dave,” tukas mama Naya. Pak Dave tersentak dengan apa yang diucapkan oleh Naya, mama dari Kiran. Rasanya tidak mungkin jika mama Naya berkata bohong kepada Pak Dave. Lalu kenapa pagi ini Kiran kembali datang terlambat setelah dua minggu Kiran datang tepat waktu di mata kuliah yang diampu oleh Pak Dave? Banyak tanya dalam benak Pak Dave setelah mengetahui kebenaran tentang Kiran hari ini dari sang mama. “Hari ini motor kesayangannya Kiran ban bocor di jalan Ma. Kiran menunggu montir langganan datang ke lokasi sebelum Kiran melanjutkan perjalanan ke kampus dengan ojek online Ma. Kiran telat satu menit tapi tidak boleh masuk ke dalam kelas dosen killer yang saat ini tengah berada di hadapan mama. Kiran ingin menjelaskan alasan Kiran telat tapi dosen killer ini tidak menerima apa pun alasan dari Kiran. Iya sudah Kiran menerima hukuman dengan setengah hati karena Kiran memang terlambat gara-gara motor bermasalah. Bukan karena kesiangan Ma,” sahut Kiran menghampiri mama Naya dan Pak Dave dengan menggunakan celana denim di atas lutut dan kaos rumahan serta rambut yang acak-acakan Entah kenapa Pak Dave merasa terkesima dengan penampilan Kiran kali ini yang terkesan jauh lebih natural daripada penampilan Kiran saat di kampus sehingga Pak Dave tidak fokus dengan apa yang sedang diucapkan oleh Kiran saat ini. Naya mengatupkan bibir setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Kiran tentang dosen killer yang dimaksud oleh Kiran jika hari rabu pagi tiba itu. Naya merasa tidak enak hati telah mengucapkan tentang dosen killer di depan sang dosen killer itu. “Pak Dave.. Saya mohon maaf tadi telah berucap tentang dosen killer yang dimaksud Kanaya itu ternyata Pak Dave. Saya mohon maaf Pak Dave,” timpal mama Naya. Pak Dave menyadarkan diri dari lamunan saat suara lembutama nayra masuk ke dalam gendang telinga Pak Daren. “Iya ibu Naya. Tidak apa-apa bu. Saya paham bu. Apa yang diucapkan oleh Kiran dan mahasiswa di kampus benar bu. Saya dosen killer yang ditakuti oleh mahasiswa di kampus. Mungkin Kiran termasuk salah satu mahasiswa yang takut dengan saya bu, dosen killer itu,” balas Pak Dave. Kiran memutar bola mata malas mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Dave. Naya menggelengkan kepala melihat sikap Kiran dan penampilan Kiran di hadapan Pak Dave. Namun Naya tidak ingin menegur Kiran di hadapan sang dosen killer karena Naya tahu ini bukan saat yang tepat untuk menegur sang putri sulung kali ini. “Tujuan Pak Dave datang kemari apa sih? Apa untuk mengadukan kepada mama saya jika hari ini saya datang terlambat ke kelas Pak Dave? Jika Pak Dave dan mama tidak percaya dengan apa yang saya ucapkan. Mama dan Pak Dave boleh menanyakan langsung ke bengkel langganan keluarga kita, ma,” tukas Kiran Pak Dave terhenyak dengan apa yang diucapkan Kanaya. Namun Pak Dave berusaha tetap bersikap tenang, “Baiklah ibu Naya. Apa boleh saya meminta nomor bengkel langganan keluarga ibu untuk memastikan apa yang diucapkan oleh Kiran itu benar adanya,” seru Pak Dave. Kiran memutar bola mata malas dengan apa yang dilakukan oleh Pak Dave. Naya memberikan nomor bengkel langganan keluarga kepada Pak Dave. Tak lama kemudian Pak Dave meminta izin kepada mama Naya untuk menghubungi bengkel itu dengan mengaktifkan pengeras suara agar mama Naya dan Kiran mendengar apa yang Pak Dave bicarakan dengan pihak bengkel saat itu. Pak Dave terhenyak dengan kenyataan yang diterima saat ini tentang seorang Kiran, mahasiswa tomboy yang selalu membuat masalah di kampus dan sering berhadapan dengan dosen di kampus termasuk Pak Kiran. Naya merasa lega setelah mengetahui apa yang diucapkan oleh Kiran benar adanya dan bukan hanya alasan yang dibuat oleh Kiran. Naya tahu bagaimana sifat kedua putri kembar bersama sang suami. Walaupun Kiran tomboy dan songong cenderung slengean, namun pantang bagi Kiran untuk berbohong kepada orang tua. Naya tersenyum manis ke arah Kiran yang tengah duduk sembari memakan cemilan yang berada di toples dengan sangat santai seakan tidak ada dosen Kanaya di antara Kiran dan sang mama saat ini. Naya yang memahami bagaimana karakter Kiran hanya menggelengkan kepala melihat sikap absurd sang putri. “Apa boleh saya menggantikan tugas ibu dan suami ibu untuk bertanggung jawab terhadap Kiran?” ucap Pak Dave yang terkesan ambigu di indera pendengaran mama Nata. Mama Naya mengernyitkan dahi saat mendengar pertanyaan Pak Dave yang belum dapat dicerna dengan baik oleh mama Naya saat ini, “Sebelumnya saya mohon maaf.. Apa maksud Pak Dave?” tanya mama Naya. “Saya meminta izin kepada ibu Naya, saya ingin melamar Kiran sebagai istri saya, bu,” jawab Pak Dave. “Saya merestui kamu dan Kiran..” Klontang..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN