“Kamu mau kemana Kiran? Bukannya kamu tidak ada kuliah pagi hari ini kan?” tanya Pak Dave dengan kerutan di dahi melihat sang istri turun dari tangga.
“Kiran memang tidak ada kuliah pagi. Kiran mau main. Kiran malas di rumah Pak Dave,” jawab Kiran lalu melangkahkan kaki menuju pintu utama.
“Kamu tidak sarapan dulu Kiran?” Pak Dave berteriak memanggil Kiran yang sudah berada di ruang tamu.
“Kiran tidak nafsu sarapan bareng Pak Dave,” tykas Kiran dengan teriakan yang lantang
Pak Dave menghela nafas berat melihat sikap sang istri, Kiran yang seenaknya sendiri. Tapi Pak Dave bisa apa? Jika Kiran dikekang itu tidak mungkin. Ini pilihan Pak Dave. Semua konsekuensi harus diterima Pak Dave selama Kiran masih belum berubah sikap. Baiklah. Pak Daren akan mengalah untuk beberapa saat ini. Pak Dave melanjutkan menikmati hidangan sarapan yang telah disajikan oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah pribadi Pak Dave.
***
“Kamu lapar apa doyan sih Kalo?” tanya Dita teman satu kelas Kanaya di kampus.
“Lapar Dita. Aku belum makan dari tadi malam,” balas Kiran sembari mengunyah makanan di mulut.
Dita menggelengkan kepala melihat kelakuan Kiran yang terkenal urakan itu. Bagaimana Kiran akan punya pacar atau suami kalau kelakuan seperti ini? Tidak ada feminimnya? Lihatlah.. Makan pun Kiran berantakan seperti ini. Pikir Duta dalam hati melihat kelakuan Kiran ketika sedang makan. Dita membulatkan kedua mata melihat Pak Dave si dosen killer kini telah berdiri di belakang Kiran. Isyarat dari Pak Dave yang meminta Dita untuk meninggalkan Kiran segera dipatuhi oleh Dita yang tidak ingin memiliki masalah dengan si dosen killer di kampus mereka itu. Kiran yang sedang menikmati makanan dengan caranya sendiri tidak menyadari jika Dita telah pergi meninggalkan Kiran dan Pak Dave atau suami Kanaya kini telah duduk di tempat di mana Dita duduk tadi.
“Kenyang? Apa ingin nambah makanannya?” tanya Pak Dave sembari menopang dagu dnegan tangan melihat ke arah Kiran
Kiran menghentikan makan saat mendengar suara bariton yang dikenali oleh Kiran tidak jauh dari posisi duduk Kiran saat ini. Kiran membolakan kedua mata melihat si dosen killer yang kini telah berstatus sebagai suaminya duduk di tempat Dita duduk tadi. Kiran celingak celinguk mencari keberadaan Dita dan mengacuhkan keberadaan Pak Dave. Namun Kiran tidak menemukan keberadaan Dita di sekitar mereka.
“Kamu mencari siapa? Teman kamu yang tadi duduk di sini?” Pak Dave kembali bertanya kepada Kanaya yang masih mencari Dita
Kiran mengacuhkan ucapan Pak Dave lalu kembali menikmati makanannya setelah tidak menemukan keberadaan Dita di sekitarnya. Bodo amat. Pikir Kiran dalam hati dengan keberadaan Pak Dave di dekat Kiran saat ini. Pak Dave menghela nafas kasar dengan sikap Kiran. Bukan tidak merasa emosi diacuhkan oleh mahasiswi yang Dave telah menjadi istrinya itu. Namun Pak Daren mencoba untuk bersabar selama menghadapi sikap Kiran. Batu yang keras saja bisa hancur jika disiram oleh air terus menerus kan? Apalagi hati manusia yang masih bisa dibolak balikan oleh manusia lain dengan doa meminta bantuan Sang Pencipta? Sifat keras tidak harus dilawan dengan sifat keras juga bukan? Pengalaman Pak Dave yang lebih banyak dalam menghadapi sifat manusia lain menjadikan Pak Dave bisa berfikir dan bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi Kiran.
Setelah mie ayam yang berada di mangkok tandas tanpa sisa, Kiran pergi meninggalkan Pak Dave dengan sikap acuh tanpa menegur Pak Dave sedikitpun. Sikap Kiran benar-benar menguji iman dan kesabaran Pak Dave, si dosen killer yang biasa disegani dan ditakuti oleh mahasiswa di kampus kini seakan tunduk kepada Kiran, istri kecilnya.
***
Kiran membulatkan mata ketika melihat mama Naya telah berada di rumah Pak Dave. Ya. Kiran yang baru pulang berkumpul bersama dengan temannya di cafe baru tiba di rumah ketika waktu maghrib hampir tiba dan Adzan maghrib yang dapat dipastikan akan berkumandang beberapa saat lagi. Sementara Pak Dave telah berada di rumah sejak pukul tiga sore karena slelau kembali ke rumah setelah aktivitas mengajar di kampus selesai.
“Kamu dari mana saja Kiran? Suami kamu sudah pulang ke rumah terlebih dahulu. Kenapa kamu baru pulang jam segini?” tanya mama Naya tidak habis pikir dengan sikap Kiran yang belum berubah setelah menikah
“Biasa Ma. Makan dan ngobrol sama teman,” jawab Kiran dengan sikap tenang setelah mengecup punggung tangan mama Naya lalu duduk di samping sang mama
“Kiran.. Kamu sudah jadi istri sekarang. Kamu tidak bisa lagi berbuat sesuka hati kamu seperti dulu. Ingat Kiran. Surga kamu di suami kamu setelah kamu menikah. Kalau kamu ingin pergi tanpa suami kamu, jangan lupa kamu minta izin terlebih dahulu kepada suami kamu. Restu suami kamu itu sangat penting bagi kamu, Kiran." Mama Naya berusaha menasehati Kiran dengan halus agar Kiran tidak marah.
“Kiran sudah minta izin kepada Pak Dave sebelum pergi bersama teman-teman kok Ama. Iya kan Pak Dave?” Kiran mendelikan mata ke arah Pak Dave agar suaminya itu mengikuti apa yang diucapkannya
“Iya Ma. Kiran sudah izin sama Dave tadi di kampus,” balas Pak Dave mencoba mengikuti permintaan Kiran.
Mama Naya tercengang saat Kiran memanggil suaminya dengan Pak Dave. Bukan mas atau panggilan lainnya sepasang suami istri pada umumnya. Helaan nafas kasar terdengar dari bibir mama Naya. Anak sulungnya bersama Dean ini memang belum berubah sama sekali. Entahlah.. Mama Naya seakan telah kehabisan cara agar Kiran bisa berubah lebih baik lagi.
Adzan Maghrib berkumandang menghentikan pembicaraan di antara ibu dan anak itu. Mereka bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib berjama’ah di rumah Dave dan Kiran. Tak lama kemudian, mereka melaksanakan sholat maghrib berjama’ah bersama dengan para pekerja di rumah Dave dan Kiran. Sebelum menikah dengan Kiran, Pak Dave selalu membiasakan untuk melaksanakan sholat berjamaah bersama dengan para pekerja di rumah. Sikap Pak Dave yang hangat jika di rumah sehingga para pekerja di rumah Pak Dave merasa nyaman dan tidak pernah berpikir untuk mencari pekerjaan lain di luar sana.
***
“Dari mana kamu, Kiran?”
Suara bariton Pak Dave yang keras menghentikan langkah kaki Kiran yang hendak menaiki anak tangga menuju ke kamar. Kiran membeku di tempat tanpa menoleh ke arah Pak Dave. Derap langkah tegas terdengar sedang melangkah menuju ke arah Kiran yang masih berdiri di ujung anak tangga.
“Dari mana kamu, Kiran?” Pak Dave mengulangi pertanyaan yang belum dijawab oleh Kiran.
Kiran membalikan tubuh menghadap ke arah Pak Dave dengan wajah mengeras, “Kiran habis nongkrong terus balapan motor. Kenapa Pak Dave? Pak Dave ingin menghukum Kiran? Atau Pak Dave menyesal menikahi Kiran?” jawab Kiran dengan mata menyalang ke arah Pak Dave.
“Malam ini kamu tidur dengan saya, Kiran!” sambung Pak Dave.
Kiran berdesis, “Saya memang istri Pak Dave sekarang. Tapi bukan berarti Pak Dave
bisa mengatur kehidupan saya. Saya tidak sudi tidur satu kamar dengan Pak Dave. Pernikahan ini Pak Dave kan yang menginginkannya? Bukan saya. Pak Dave harus ingat hal itu,” tukas Kiran lalu pergi menaiki anak tangga meninggalkan Pak Dave yang masih tergugu di tempat berdirinya saat ini
“Kiran!”
Deg..