Balada Cincin

1241 Kata
“Kiran.. Kamu di panggil Pak Dave di ruangan,”ucap Maya tenan satu kelas Kanaya saat melihat Kiran tengah berjalan menuju ke kantin siang Kiran berdesis sebelum menjawab ucapan Maya, “Sekarang?” tanya Kiran dengan malas. “Iya Kiran. Masa tahun depan sih. Ntar yang ada kamu mengulang lagi mata kuliah pak Dave. Apa kamu mau Ki? ” jawab Maya sembari meledek Kiran. “Sialan itu mulut kamu. Untung kamu teman satu kelas aku. Kalau kamu mahasiswa jurusan lain pasti sudah aku gibas,” terang Kiran dengan nada sedikit emosi. “Sudah buruan kamu ke ruangan pak Dave sekarang. Dari pada nanti kamu ribet sendiri berurusan sama dosen galak itu,” tukas Maya. “Iya Maya yang rese.. Makasih informasinya,” balas Kiran. Kiran melangkahkan kaki menuju ke ruangan pak Dave si dosen galak sembari menggerutu sepanjang perjalanan. Kiran mengacuhkan tatapan mahasiswa lain yang berpapasan dengan dirinya dan merasa aneh kepada Kiran yang berbicara sendiri sepanjang jalan. Kiran menghela nafas kasar ketika berada di depan pintu ruangan dosen galak yang bernama Pak Dave itu. “Masuk,” titah Pak Dave saat ketukan terakhir Kiran. Kiran menautkan kedua alis setelah mendengar suara Pak Dave dari dalam ruangan yang mengizinkan Kanaya untuk masuk. “Tumben ini dosen galak balasnya cepat banget,” gumam Kiran sembari memutar kenop pintu ruangan Pak Dave. Kiran masuk kedalam ruangan si dosen galak dengan mengunyah permen karet di mulut. Pak Dave menggelengkan kepala melihat sikap Kiran yang selalu slengean itu. “Ada apa Pak Dave memanggil saya? Apa ada tugas yang belum saya kumpulkan Pak Dave?” tanya Kiran tanpa basa basi. “Apa kamu masih ada kuliah hari ini Kiran?” Bukan menjawab pertanyaan Kanaya, Pak Dave mengajukan pertanyaan kepada Kiran. Kanaya memutar bola malas saat Pak Dave mengajukan pertanyaan kepada Kiran dan tidak menjawab pertanyaan Kiran. “Memang ada apa Pak Dave kalau saya ada kuliah lagi atau tidak? Pak Dave ingin memberikan saya kuis atau ujian susulan?” “Saya ingin mengajak kamu membeli cincin untuk lamaran nanti malam,” jawab Pak Dave. Hah??? Kiran tercengang dengan apa yang didengarkan bebrapa saat yang lalu. Satu ide terlintas dalam benak Kiran untuk membohongi atau menghindari rencana Pak Dave siang ini. “Saya masih ada kuliah Pak Dave. Permisi,” ucap Kiran lalu membalikan badan hendak meninggalkan ruangan pak Dave namun langkah kaki Kiran terhenti saat suara bariton pak Dave menginterupsi gerakan Kiran. “Jangan pernah membohongi calon suami kamu yang pintar ini Kiran. Saya tahu kamu sudah tidak ada kuliah hari ini. Saya memiliki jadwal kuliah kamu setiap semester dengan lengkap Ki,” tukas Pak Dave. Jeder.. Kiran kembali tercengang mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Dave kali ini. Kiran membeku di tempat berdirinya tanpa berani menoleh ke arah Pak Dave. Pak Dave menghampiri Kiran dengan tas kerja dan juga tas yang disampirkan di tangan kanan. “Kamu tunggu saya di mobil. Sebentar lagi saya akan menyusul kamu. Motor kamu nanti akan diantarkan oleh salah satu pekerja saya ke rumah kamu,” ucap pak Kiran. Kiran masih bergeming di tempat tanpa menanggapi apa yang diucapkan oleh Pak Dave kepada Kiran. Pak Dave menghela nafas pelan melihat sikap Kiran saat ini. “Kiran..” Pak Dave memanggil Kiran “Berisik. Kiran mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Dave. Iya Pak Dave. Kiran akan menunggu di mobil,” balas Kiran bergegas keluar dari ruangan Pak Dave menuju ke tempat parkir di mana mobil Pak Dave berada. Pak Dave menggelengkan kepala dengan sikap Kiran, calon istri pak Dave. Entah kenapa saat bersama Kiran, Pak Dave merasa bahagia dan terhibur. Walaupun banyak dosen membicarakan Kiran dengan segala sifat yang dimiliki oleh wanita tomboy dan slengean itu, namun Pak Dave memiliki penilaian sendiri terhadap Kiran. Kata Pak Dave don’t judge a book by the cover. *** “Kamu mau cincin yang mana Kiran?” tanya Pak Dave saat mereka telah berada di sebuah toko perhiasan mewah. “Kenapa tanya sama saya Pak. Pak Dave kan yang butuh cincin? Bukan saya. Mana saya tahu benda seperti itu. Saya saja tidak suka dengan benda seperti itu. Ribet,” jawab Kiran dengan gaya santai. Pak Dave tersenyum dengan sikap Kiran. Sedangkan Kiran tampak acuh saat menyadari Pak Dave tengah menatap Kanaya sebelum memilih cincin pertunangan mereka malam ini. Setelah memilih beberapa cincin, Pak Dave menjatuhkan pilihan kepada sebuah cincin dengan model simpel namun berkelas. Cincin berbahan titanium dengan berlian model solitaire menajdi pilihan terakhir pak Dave setelah memilih cincin seorang diri tanpa bantuan Kiran yang tengah bermain ponsel di samping Pak Dave. “Bagaimana kalau kita makan dulu Kiran?” tanya Pak Dave. Kiran menggelengkan kepala, “Saya hanya ingin langsung pulang Pak. Tidak ingin makan. Saya lelah." “Baiklah. Saya lupa jika kamu juga harus beristirahat untuk acara lamaran nanti malam,” sambung Pak Dave Kiran memutar bola mata malas dengan jawaban yang diberikan oleh Pak Dave. Kanaya berjalan mendahului Pak Dave tanpa menjawab ucapan si dosen killer di kampus itu. Pak Dave menyusul langkah kaki Kiran yang telah berada di depan dengan menggelengkan kepala melihat sikap absurd Kiran calon istri si dosen killer itu. *** Mama Naya mengetuk pintu kamar Kiran untuk melihat si sulung yang akan dilamar oleh sang dosen killer beberapa saat lagi. Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Kiran. Namun tidak ada balasan dari dalam kamar Kiran, mama Naya memutar kenop pintu Kanaya yang tidak dikunci. Mama Naya menggelengkan kepala melihat si sulung masih bergelung di balik selimut tebal berbulu kesayangan Kiran. Mama Naya benar-benar tidak habis pikir dengan si sulung yang masih terlelap di alam mimpi saat waktu menunjukan pukul setengah tujuh malam. Sedangkan, pak Dave dan kedua orang tua berkunjung ke rumah keluarga Kiran pukul tujuh malam seperti apa yang telah diucapkan oleh Pak Dave tempo hari. “Kiran.. Bangun sayang.. Ini sudah pukul setengah tujuh malam sayang. Pak Dave dan kedua orang tuanya sebentar lagi datang sayang,” ucap mama Naya sembari menyibak selimut yang menutupi tubuh Kiran. Kiran menggeliatkan tubuh saat mendengar suara lembut sang mama. Kiran perlahan membuka mata dan tersenyum saat melihat wajah cantik mama Naya di hadapan Kiran saat ini. Hoaammmm.. Kiran menguap dengan lebar di hadapan mama Naya. Mama Naya menggelengkan kepala dengan tingkah si sulung. “Ayo.. Kamu harus cepat mandi Kiran. Waktu kamu tinggal tiga puluh menit lagi sebelum Pak Dave dan keluarga tiba di rumah,” ucap mama Naya. “Kiran masih ngantuk Ma. Lamaran diganti saja sama Kinar bisa tidak sih Ma. Kiran kan tidak ingin menikah sama dosen killer itu,” balas Kiran. “Tidak usah ngawur kamu, Ki. Mana ada lamaran diganti seperti itu,” seru Mama Naya. “Ada ma. Ada lamaran bahkan pernikahan seperti itu di novel Mama Kiran tersayang,” imbuh Kiran. “Kiran.. Cepat mandi!” titah Mama Naya. Kiran beranjak bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi saat melihat air muka Mama Naya telah berubah. Ya. Si kembar Kiran dan Kinar sangat memahami bagaimana sifat Mama Naya. Apalagi jika tanduk banteng telah berada di atas kepala Mama Naya yang menandakan jika sebentar lagi tidak akan baik-baik saja bagi Kiran atau Kinar. Mama Naya mengukir senyum manis di wajah cantiknya melihat Kiran berlari ketakutan masuk ke dalam kamar mandi. Mama Naya mengetahui jika si kembar Kiran dan Kinar akan lebih takut kepada mama Naya dari pada ke papa Dean sehingga papa Dean meminta Mama Naya untuk melihat Kiran di dalam kamar sebelum pak Dave dan kedua orang tuanya tiba di rumah keluarga Kiran. "Anak ini memang seperti papanya.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN