Nasehat Adik

1041 Kata
Keluarga Pak Dave telah berada di rumah keluarga Kiran sejak pukul tujuh malam. Pak Dave yang selalu tepat waktu salam hal apa pun memenuhi janji kepada keluarga Kiran datang tepat pada waktunya. Namun Kiran sang tuan rumah belum menampakan batang hidung di ruang tamu. Keluarga Pak Dave memaklumi jika Kanaya belum berada di antara mereka. Kehebohan tengah terjadi di dalam kamar Kiran saat mama Naya dan Kinar tengah merias wajah Kiran. Kiran yang tidak terbiasa dengan riasan di wajah menolak semua riasan yang saat ini tengah di touch up di atas wajah Kiran oleh mama Nara. Kayana yang diberikan tugas oleh mama Naya untuk memegang tubuh Kiran agar tidak meloloskan diri menggelengkan kepala saat melihat kelakuan kaka kembarnya yang tomboy itu. *** Kiran menuruni anak tangga dengan diapit oleh mama Naya dan sang adik kembar dengan langkah pelan seperti apa yang diajarkan oleh sang mama. Kiran yang keras kepala dan tidak suka diatur ini menolak apa apa yang diajarkan oleh mama Naya saat masih berada di kamar. Namun tatapan tajam dan ancaman dari mama Naya dapat meluluhkan hati si bungsu sehingga Kanaya mengikuti setiap apa yang telah diajarkan oleh mama Naya. Pak Dave terkesima kalau melihat penampilan Kanaya yang berbeda bahkan sangat berbeda dari penampilan Kiran sehari-hari. Tatapan Pak Dave tidak pernah lepas dari Kiran yang sedang melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu bersama mama Naya dan sang adik kembar Kinar. Kiran duduk di antara papa Dean dan mama Naya. Sedangkan Kinar duduk di samping mama Naya. Tatapan Pak Dave beralih kepada adik kembar Kiran. Pak Dave mengernyitkan dahi saat melihat wajah yang sama dengan Kanaya, calon istri Pak Dave. Namun penampilan yang sangat berbeda jauh menyadarkan Pak Dave dari rasa tercengang yang menyelimuti diri Pak Dave beberapa saat yang lalu. Melihat kebingungan tampak jelas diraut wajah Pak Dave, papa Dean mengambil alih pembicaraan sebelum acara ingin dimulai. “Pak Richard, Bu Mira dan Pak Dave, perkenalkan ini saudara kembar Kiran. Adik kembar Kiran bernama Kinar,” ucap papa Dean. “Wah.. Pantas sangat mirip Pak Dean. Kami dari tadi bingung saat melihat Kiran turun bersama seseorang yang memiliki wajah sama dengan Kiran, Pak Dean,” balas Pak Richard. “Iya Pak. Alhamdulillah.. Saya dan istri dikaruniai anugerah anak kembar yang sangat cantik Pak Richard,” sambung papa Dean. “Iya Pak.. Alhamdulillah,” tukas Pak Richard Pak Dave menyampaikan tujuan kedatangan ke rumah keluarga Kiran bersama dengan kedua orang tua malam ini. Dean dan Naya mendengarkan apa yang disampaikan oleh Pak Dave dengan antusias. Berbeda dengan Kiran yang tampak tidak nyaman dengan apa yang sedang dikenakan malam ini. “Saya merestui rencana baik Pak Dave untuk menikah dengan anak saya, Kiran,” ucap Papa Dean memberikan jawaban atas pinangan keluarga Daren untuk Kanaya “Alhamdulillah..” Rasa syukur diucapkan oleh mereka yang berada di ruang tamu. Namun tidak dengan Kiran yang membelalakkan netra saat mendengar apa yang diucapkan oleh papa Dean. “Papa—” Kiran tidak meneruskan ucapannya karena dipotong oleh papa Dean. “Papa tidak menerima penolakan!” titah papa Dean dengan tegas Kiran mengatupkan mulut setelah mendengar apa yang diucapkan oleh papa Dean. Pembahasan tentang rencana pernikahan antara Kiran dan Pak Dave dilanjutkan dengan menentukan tanggal pernikahan. Acara lamaran hari ini berjalan dengan lancar. Sambutan makan malam juga telah dilaksanakan dengan rasa kekeluargaan yang hangat dan akrab. Penentuan tanggal pernikahan Pak Dave dan Kiran telah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga. Helaan nafas kasar terdengar dari bibir Kiran yang tampak manyun itu. *** Setelah acara lamaran dan menentukan tanggal pernikahan selesai, Kiran membaringkan tubuh dengan lemas di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang jauh tentang pernikahan yang akan dilaksanakan satu minggu yang akan datang. Pernikahan yang bukan keinginan Kiran. Gadis tomboy itu belum ingin terikat dengan pernikahan. Gadis tomboy yang tidak suka terikat itu kini hanya bisa berserah diri kepada Allah dengan harapan jika apa yang telah ditakdirkan oleh Allah ini jalan terbaik dalam hidupnya. Suara ketukan pintu kamar menyadarkan Kiran dari lamunan. Dengan gerak cepat Kiran bangkit dari atas tempat tidur lalu mengayunkan langkah kaki untuk membuka pintu kamar. “Apa Kinar boleh masuk kak?” tanya Kinar adik kembar Kiran setelah sang kakak membuka pintu. Anggukan kepala menandakan persetujuan dari sang pemilik kamar. Langkah kaki Kinar mengikuti Kiran yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam kamar. “Kak.. Kinar tahu apa yang sedang kakak pikirkan saat ini. Kinar minta maaf jika nanti ada ucapan yang menyinggung kakak. Tapi Kinar bicara seperti ini karena ingin kakak lebih baik lagi dalam menjalani hidup. Kinar tahu kakak belum siap untuk terikat. Apalagi ikatan pernikahan. Kinar minta tolong sama kakak, jalani dengan ikhlas semua keputusan yang telah diambil oleh papa. KE nar percaya papa dan mama pasti telah memikirkan semua ini dengan baik. Kakak juga tahu kan bagaimana papa dan mama? Papa dan mama bukan orang yang suka mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Demi kebahagiaan papa dan mama, Kibar berharap kakak menerima keputusan ini dengan ikhlas. Kinar tahu ini berat dan sulit buat kakak. Mungkin Kinar juga akan melakukan seperti apa yang kakak pikirkan jika Kinar berada di posisi kakak saat ini. Tapi percayalah kak, papa dan mama melakukan ini demi kebaikan kakak. Papa dan mama sangat menyayangi kakak. Kinar juga sangat menyayangi kakak,” ucap Kiran yang biasa dipanggil Kinar oleh papa Dean dan mama Naya. Tatapan yang sulit diartikan Kiran terarah kepada Kinar yang tengah menatap ke sang kakak. Ada perasaan takut yang menyelimuti hati Kiran melihat tatapan sang kakak yang tidak bersahabat malam ini. Harapan Kinar agar sang kakak tidak marah kepada dirinya dan sang kakak dapat menerima pernikahan ini dengan ikhlas demi kebaikan sang kakak dan kebahagiaan kedua orang tua mereka. Hening.. Bibir Kiran masih tertutup rapat tanpa membalas apa yang diucapkan oleh sang adik kembarnya itu. Tatapan tajam penuh intimidasi masih terarah kepada Kinar. Helaan nafas kasar terdengar dari bibir Kiran. “Kakak ngantuk. Kakak ingin istirahat,” ucap Kiran. Tidak ingin berdebat dengan sang kakak yang kini sedang tidak baik-baik saja, Kiran memilih mengalah dengan bangkit dari duduk untuk keluar dari kamar sang kakak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ya. Kinar dapat memahami apa yang kini sedang dirasakan oleh sang kakak sehingga tidak ingin berdebat dengan sang kakak. Mengalah itu jalan terbaik bagi Kinar jika sang kakak sedang menghadapi masalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN